Kehilangan orang yang kita cintai meninggalkan kerinduan. Namun, iman kepada Kristus yang wafat dan bangkit mengajak kita untuk tetap berharap dan belajar mengasihi dengan lebih sungguh selagi masih diberi kesempatan untuk hidup bersama.
Tanggal publikasi: 2 November 2026
Penulis: Pascual Semaun, SVD
Hari liturgi: Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman
Bacaan: Kebijaksanaan 3:1-9; Mazmur 23; Yohanes 6:37-40
Dalam Tangan Allah, Ada Harapan
Ada kehilangan yang tidak mudah diungkapkan dengan kata-kata. Ketika seseorang yang kita cintai meninggal dunia, rumah mungkin tetap sama, tetapi suasananya terasa berbeda. Ada suara yang tidak lagi terdengar, kebiasaan yang kita rindukan, dan kenangan yang terus tinggal di dalam hati. Kita tetap menjalani kehidupan sehari-hari, tetapi kerinduan itu kadang muncul tanpa diduga.
Pada hari ini, Gereja mengajak kita mengenang dan mendoakan semua orang beriman yang telah meninggal dunia. Kita membawa kenangan, rasa syukur, kesedihan, bahkan penyesalan. Namun, Sabda Tuhan mengajak kita memandang kematian dengan iman dan harapan.
Kitab Kebijaksanaan menegaskan bahwa jiwa orang-orang benar berada dalam tangan Allah. Mazmur 23 mengingatkan bahwa Tuhan adalah Gembala yang menyertai kita, bahkan ketika melewati lembah yang gelap. Dalam Injil Yohanes, Yesus berjanji tidak akan menolak siapa pun yang datang kepada-Nya dan akan membangkitkan mereka pada akhir zaman.
Inilah dasar pengharapan kita. Kita tidak harus menyembunyikan kesedihan, sebab menangis karena kehilangan adalah bagian dari kasih. Namun, kesedihan tidak harus berakhir dalam keputusasaan. Kita percaya bahwa hidup manusia tidak berakhir di dalam kubur. Melalui wafat dan kebangkitan Yesus Kristus, kita menerima harapan akan kehidupan kekal. Kematian bukanlah kata terakhir. Kita menyerahkan orang-orang yang kita cintai kepada Allah yang setia dan penuh belas kasih.
Mengenang Mereka, Belajar Mengasihi Selagi Ada Waktu
Dalam homilinya pada Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, 2 November 2018, Paus Fransiskus mengajak kita merenungkan tiga dimensi kehidupan: kenangan akan masa lalu, harapan akan masa depan, dan perjalanan yang kita jalani saat ini. Kenangan mengingatkan kita akan orang-orang yang telah menjadi bagian dari hidup kita. Harapan mengarahkan kita kepada perjumpaan dengan Allah. Sementara itu, kehidupan saat ini mengajak kita untuk memilih jalan yang benar, dengan menjadikan Sabda Bahagia sebagai terang bagi langkah kita.
Pesan ini sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari. Ketika mengunjungi makam orang yang kita cintai, kita mungkin teringat akan kebaikan, pengorbanan, dan nasihat mereka. Kita juga mungkin menyesali kesempatan yang telah berlalu: ucapan terima kasih yang tidak sempat disampaikan, permintaan maaf yang tertunda, atau perdamaian yang tidak pernah terwujud.
Kita memang tidak dapat mengubah masa lalu. Namun, kita masih bisa memperbaiki cara kita memperlakukan orang-orang yang hadir dalam kehidupan kita sekarang. Jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya seseorang setelah ia pergi. Jangan menunggu kehilangan untuk mengungkapkan kasih. Jangan menunda pengampunan hanya karena gengsi, atau membiarkan perselisihan berlangsung karena kita merasa paling benar.
Mengenang mereka yang telah meninggal bukan hanya berarti memandang ke belakang. Kenangan itu juga dapat menjadi pelajaran untuk menjalani hari ini dengan lebih baik. Apakah keluarga kita merasakan kasih melalui perkataan dan tindakan kita? Apakah kita bersedia mendengarkan orang yang sedang mengalami kesulitan? Apakah kehadiran kita membawa ketenangan atau justru menambah beban bagi sesama?
Pertanyaan-pertanyaan ini mengajak kita bercermin dengan jujur. Kasih tidak cukup hanya diucapkan. Kasih perlu hadir dalam kesabaran, penghargaan, pengampunan, dan perhatian yang nyata.
Jangan Menunda Kebaikan
Peringatan hari ini mengajak kita melakukan langkah sederhana tetapi berarti. Kita dapat menelepon anggota keluarga yang sudah lama tidak kita sapa, mengunjungi orang sakit, menemani mereka yang sedang berduka, atau mengambil inisiatif untuk berdamai dengan seseorang. Kita juga dapat belajar mendengarkan tanpa menghakimi dan berbicara tanpa melukai.
Berbuat baik tidak harus melakukan sesuatu yang besar atau mengeluarkan banyak biaya. Kadang-kadang, cukup dengan meluangkan waktu untuk mendengarkan, menyapa dengan ramah, menemani orang yang sedang kesepian, menghibur mereka yang sedang berduka, atau meminta maaf dengan tulus. Hal-hal sederhana ini mungkin tampak kecil, tetapi dapat membuat seseorang merasa dihargai, diperhatikan, dan tidak sendirian.
Hari ini, kita mendoakan saudara-saudari kita yang telah meninggal dan menyerahkan mereka kepada belas kasih Allah. Pada saat yang sama, kita memohon rahmat agar hidup kita semakin mencerminkan kasih Kristus. Semoga kelak, ketika orang lain mengenang kita, mereka tidak hanya mengingat apa yang pernah kita miliki atau katakan, tetapi juga kebaikan yang mereka alami melalui kehadiran kita.
Selagi kita masih hidup, marilah kita saling menghargai dan memperlakukan setiap orang dengan hormat. Selagi masih hidup bersama, marilah kita belajar memahami satu sama lain, berani meminta maaf, dan tulus mengampuni. Selagi masih ada waktu, janganlah kita menunda kebaikan, sebab kita tidak pernah tahu berapa lama kesempatan itu akan diberikan kepada kita.
Pada akhirnya, kehidupan kita akan dikenang bukan terutama karena apa yang kita miliki, melainkan karena kasih yang kita bagikan, luka yang kita bantu pulihkan, dan kebaikan yang kita lakukan bagi sesama. Semoga kehadiran kita meninggalkan kenangan yang baik dan membuat kehidupan orang lain menjadi lebih bermakna.
Semoga Tuhan, Gembala yang baik, menguatkan hati kita yang berduka, menerima saudara-saudari kita yang telah meninggal dalam damai-Nya, dan menuntun kita menjalani kehidupan dengan iman, kasih, dan pengharapan. Sebab, di tangan Tuhan, kita tidak pernah kehilangan harapan.
Amin.






