Penulis: Lili Tedja
Puncak Golden Jubilee Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia dihadiri sekitar 12.000 peserta di Indonesia Arena, Jakarta. Perayaan ini menegaskan pentingnya pembaruan hidup, pembentukan karakter kaum muda, dan pelayanan nyata bagi masyarakat.
JAKARTA, Veritas Indonesia – Di tengah kehidupan modern yang bergerak serba cepat dan budaya instan yang kerap mengalihkan perhatian, proses pembentukan karakter membutuhkan ruang, komitmen, dan kesediaan untuk bertumbuh. Bagi banyak Orang Muda Katolik (OMK), salah satu ruang itu ditemukan dalam pelayanan dan kehidupan komunitas Gereja.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam puncak perayaan Golden Jubilee 50 Tahun Pembaruan Karismatik Katolik (PKK) Indonesia, yang berlangsung pada Sabtu (10/10/2026) di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.
Sekitar 12.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia menghadiri perayaan bertema “Roh Kudus, Api Evangelisasi” tersebut. Lebih dari sekadar mengenang perjalanan lima dekade, perayaan ini menjadi kesempatan untuk merefleksikan buah-buah pembaruan iman dan peran Gereja dalam membentuk pribadi yang berintegritas, bertanggung jawab, serta siap melayani masyarakat.
Pelayanan Gereja sebagai Sekolah Kehidupan
Koordinator Kepemudaan Badan Pelayanan Nasional (BPN) PKK Indonesia, Bonaventura Feduoti Wisanggeni, yang akrab disapa Aven, menilai keterlibatan kaum muda dalam kehidupan Gereja memberikan manfaat yang melampaui kegiatan rohani semata.
Melalui seminar, pendampingan, pelayanan, dan kesempatan untuk menjadi pewarta, kaum muda belajar membangun karakter serta mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
“Pelayanan di Gereja ternyata menjadi sekolah kehidupan bagi anak muda. Di sana mereka belajar menjadi pribadi yang jujur, berintegritas, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama. Nilai-nilai ini tidak berhenti di lingkungan Gereja, tetapi juga dibawa ke dunia kerja, kehidupan profesional, dan masyarakat,” ungkap Aven.
Pengalaman tersebut dirasakan oleh Angeline Vania (29) dan Calvin Renato (34), yang selama bertahun-tahun terlibat dalam pelayanan di Jakarta.
Vania, yang menjabat sebagai sekretaris panitia Golden Jubilee 2026, belajar bahwa pelayanan membutuhkan ketekunan, terutama ketika menghadapi perbedaan pendapat, tantangan, dan kegagalan. Pengalaman itu membantunya membangun daya tahan serta kemampuan bekerja sama, termasuk dalam kehidupan profesional.
Sementara itu, keterlibatan Calvin dalam memimpin BPK Funwalk memberinya pengalaman mengelola dinamika lintas generasi. Baginya, kepemimpinan bukan sekadar kemampuan memberikan arahan, melainkan juga kesediaan untuk mendengarkan, merangkul perbedaan, dan mencari solusi bersama.
Kisah mereka memperlihatkan bahwa pelayanan dapat menjadi ruang pembelajaran yang konkret. Nilai-nilai yang dihidupi dalam komunitas Gereja menemukan relevansinya ketika diterapkan dalam pekerjaan, relasi sosial, dan tanggung jawab sebagai warga masyarakat.
Lima Dekade Perjalanan: Dari Persekutuan Doa Menjadi Gerakan Nasional
Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia berawal dari sekelompok umat yang berkumpul dalam persekutuan doa di Jakarta pada 1976. Lima puluh tahun kemudian, gerakan ini berkembang menjadi 734 persekutuan doa di berbagai keuskupan di Indonesia.
Perjalanan tersebut tidak hanya menandai pertumbuhan sebuah gerakan rohani, tetapi juga menghadirkan pertanyaan mendasar tentang buah yang dihasilkan dari pembaruan iman.
Koordinator BPN PKK Indonesia, Alb. Budi Sutedjo; Moderator BPN PKK Indonesia, RD. Yustinus Hilman Pujiatmoko; Uskup Delegatus Penasihat Episkopal BPN PKK Indonesia, Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga; serta Moderator Badan Pelayanan Keuskupan Pembaruan Karismatik Katolik Keuskupan Agung Jakarta (BPK PKK KAJ), Romo M. Harry Sulistyo, Pr, menegaskan pentingnya pembaruan hidup sebagai inti perjalanan gerakan ini.
“Buah-buah itu bukan pertama-tama dalam bentuk bangunan, melainkan pembaruan hidup,” tegas Mgr. Fransiskus.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa keberhasilan sebuah gerakan Gereja tidak cukup diukur dari jumlah anggota, luasnya jaringan, atau besarnya perayaan. Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana pengalaman iman mendorong perubahan sikap, memperdalam relasi dengan Allah, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Dalam konteks ini, perayaan Golden Jubilee menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan yang telah ditempuh sekaligus memperbarui komitmen terhadap misi Gereja.
Roh Kudus, Budaya, dan Semangat Evangelisasi
Mengusung tema “Roh Kudus, Api Evangelisasi”, perayaan puncak Golden Jubilee memadukan doa, pujian, kesaksian iman, kekayaan budaya Nusantara, dan kepedulian sosial.
Rangkaian kegiatan meliputi Goju Fair, praise and worship, serta talk show bersama Romo Yohanes Indrakusuma. Kehadirannya menjadi momen istimewa bagi peserta karena ia menyapa umat di tengah masa pemulihan kesehatan setelah menjalani perawatan di rumah sakit.
Peserta juga mendengarkan kesaksian Romo Koko, SCJ, mengenai pengalaman masa kecilnya ketika mengalami kelumpuhan. Dalam kesaksiannya, ia menceritakan bagaimana ibunya dengan tekun mendoakannya melalui Novena Tiga Kali Salam Maria dan doa Rosario. Menurut kesaksiannya, ia kemudian pulih dan dapat berjalan kembali.
Kesaksian tersebut dilanjutkan dengan Doa Rosario Inkulturasi yang mengangkat kekayaan budaya Indonesia dalam kehidupan doa Gereja. Dalam kesempatan itu, Romo Koko juga memberkati rosario dalam jumlah besar, sebuah pengalaman yang disebut menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan pelayanannya.
Puncak perayaan berlangsung dalam Misa Syukur yang dipimpin oleh Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, sebagai selebran utama. Ia didampingi oleh Nunsius Apostolik untuk Indonesia, Mgr. Walter Erbi, serta sejumlah uskup: Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga dari Keuskupan Sibolga; Mgr. Adrianus Sunarko, OFM, Wakil Ketua KWI sekaligus Uskup Pangkalpinang; Mgr. Christophorus Tri Harsono, Uskup Purwokerto; Mgr. Valentinus Saeng, Uskup Sanggau; dan Mgr. Bodeng Timang, Uskup Emeritus Banjarmasin.
Sebanyak 75 imam dari berbagai keuskupan turut berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi tersebut.
Rangkaian perayaan ini menampilkan beragam ungkapan iman dalam kehidupan Gereja. Namun, semangat evangelisasi yang diusung tidak berhenti pada suasana doa dan perayaan. Semangat itu juga menuntut kesediaan umat untuk membawa nilai-nilai Injil ke dalam kehidupan sehari-hari, menjangkau mereka yang membutuhkan, dan menghadirkan harapan di tengah masyarakat.
Merayakan Iman dengan Berbagi Kasih
Ketua Panitia Golden Jubilee 2026, Okie Imanto, menegaskan bahwa perayaan 50 tahun PKK Indonesia diarahkan untuk menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.
Salah satu wujudnya adalah penerapan mekanisme subsidi silang yang memungkinkan umat dari keluarga prasejahtera turut menghadiri perayaan dan mengalami sukacita bersama.
Selain itu, Golden Jubilee menjadi titik tolak bagi program pendampingan berkelanjutan, termasuk penyelenggaraan retret gratis bagi keluarga prasejahtera, penyandang disabilitas, dan kaum muda yang membutuhkan perhatian khusus.
Inisiatif tersebut memperlihatkan bahwa perayaan iman dapat menjadi kesempatan untuk memperluas solidaritas. Sukacita yang dialami dalam komunitas tidak hanya dinikmati oleh mereka yang hadir, tetapi juga diterjemahkan menjadi perhatian dan pelayanan bagi mereka yang menghadapi keterbatasan.
Bagi sebuah gerakan yang telah menempuh perjalanan setengah abad, keberlanjutan semangat pelayanan menjadi tantangan penting. Perayaan besar akan memperoleh maknanya yang lebih mendalam ketika semangat yang tumbuh di dalamnya terus dihidupi setelah acara berakhir.
Lima puluh tahun perjalanan PKK Indonesia dengan demikian bukan hanya kisah tentang pertumbuhan sebuah gerakan rohani, melainkan juga kesempatan untuk memperbarui panggilan evangelisasi.
Gereja menjadi sekolah kehidupan ketika umat belajar menghidupi kejujuran, integritas, tanggung jawab, dan solidaritas. Api evangelisasi tetap menyala ketika pembaruan iman melahirkan tindakan nyata yang membawa harapan bagi sesama.
Di tengah perubahan zaman, tantangan bagi PKK Indonesia bukan semata-mata mempertahankan warisan lima dekade, melainkan memastikan bahwa warisan itu terus menghasilkan buah: pribadi-pribadi yang diperbarui oleh Roh Kudus, kaum muda yang bertumbuh dalam karakter, dan komunitas yang semakin terbuka untuk melayani dunia.









