Kardinal Tagle Pimpin Kolegium Kardinal, Putra Asia Pertama di Kursi Dekan

Prelat Filipina ini menjadi orang Asia pertama yang memimpin Kolegium Kardinal, menggantikan Kardinal Giovanni Battista Re setelah hampir tujuh tahun menjabat.

ROMA, Veritas Indonesia — Kardinal Luis Antonio G. Tagle dari Filipina terpilih sebagai Dekan Kolegium Kardinal, menandai babak baru dalam sejarah kepemimpinan Gereja Katolik. Ia menjadi orang Asia pertama yang menduduki jabatan tersebut, yang berperan penting dalam mengoordinasikan para kardinal, terutama ketika Takhta Suci mengalami kekosongan kepausan.

Para kardinal dari Ordo Kardinal-Uskup memilih Tagle pada Kamis, 8 Oktober 2026. Paus Leo XIV menyetujui pemilihan itu pada hari yang sama, dan Takhta Suci mengumumkannya secara resmi pada Jumat, 9 Oktober. Ia menggantikan Kardinal Giovanni Battista Re, 92 tahun, yang mengundurkan diri setelah memimpin Kolegium Kardinal sejak 2020.

Tagle, 69 tahun, saat ini menjabat Pro-Prefek Seksi untuk Evangelisasi Pertama dan Gereja-Gereja Partikular Baru pada Dikasteri untuk Evangelisasi. Dalam jabatan barunya, ia akan mengoordinasikan kegiatan Kolegium Kardinal dan menjalankan tugas-tugas khusus dalam masa sede vacante, yakni ketika Takhta Suci lowong karena Paus wafat atau mengundurkan diri.

Menurut pengumuman Takhta Suci, Tagle akan menerima gelar Gereja Suburbikaria Ostia, sekaligus mempertahankan gelar Gereja Suburbikaria Albano. Sementara itu, Re menyandang gelar Dekan Emeritus dan tetap memegang gelar Gereja Suburbikaria Sabina-Poggio Mirteto.

Reformasi Jabatan Dekan

Gelar Dekan Emeritus merupakan bagian dari perubahan aturan yang diperkenalkan Paus Fransiskus pada 2019. Melalui sebuah motu proprio, ia menetapkan bahwa jabatan Dekan tidak lagi berlaku seumur hidup, melainkan selama lima tahun dan dapat diperpanjang satu kali.

Baca Juga Artikel:  Resmi! Inilah Doa World Youth Day Seoul 2027: Panggilan Keberanian dan Harapan untuk Kita Semua

Perubahan tersebut mempertimbangkan bertambahnya jumlah kardinal serta meningkatnya tanggung jawab yang menyertai jabatan itu. Namun, mekanisme pemilihannya tetap dipertahankan: Dekan dipilih oleh para anggota Ordo Kardinal-Uskup dan memerlukan persetujuan Paus, sebagaimana diatur dalam Kanon 352 § 2 Kitab Hukum Kanonik.

Re diangkat sebagai Dekan pada 2020 untuk menggantikan Kardinal Angelo Sodano. Pada 7 Januari 2025, Paus Fransiskus memperpanjang masa jabatannya untuk periode kedua. Selama pelayanannya, Re berperan penting dalam sejumlah peristiwa besar Gereja, termasuk pemakaman Paus Fransiskus pada 26 April 2025 dan Misa Pro Eligendo Romano Pontifice pada 7 Mei 2025, sebelum konklaf yang memilih Paus Leo XIV.

Pengalaman Re dalam pergantian kepausan bahkan telah terlihat sebelumnya. Dalam konklaf Maret 2013, ia menjalankan tugas-tugas yang biasanya menjadi tanggung jawab Dekan karena Sodano telah berusia lebih dari 80 tahun dan tidak dapat mengikuti konklaf sebagai kardinal elektor.

Sebelum memimpin Kolegium Kardinal, Re menempati sejumlah posisi penting di Kuria Roma. Ia pernah bertugas sebagai diplomat Takhta Suci, termasuk sebagai nunsius apostolik, serta mengemban tanggung jawab di Sekretariat Negara. Pada 2000–2010, ia menjabat Prefek Kongregasi untuk Para Uskup.

Dari Tradisi Gereja Roma ke Tonggak Sejarah Asia

Jabatan Dekan berakar pada tradisi Gereja Roma sejak berabad-abad lalu. Secara historis, jabatan ini berkaitan dengan Uskup Ostia, yang memiliki peran khusus dalam kehidupan Gereja Roma, termasuk menahbiskan Paus terpilih menjadi uskup apabila ia belum menerima tahbisan tersebut.

Pada masa lalu, jabatan Dekan secara otomatis dipegang oleh kardinal-uskup yang paling senior. Ketentuan itu berubah pada 1965, ketika Paus Paulus VI menetapkan bahwa Dekan dipilih oleh para kardinal-uskup dari antara mereka sendiri, dengan persetujuan Paus.

Baca Juga Artikel:  Resmi! Bahasa Indonesia Kini Tersedia di Vatican News

Dalam sejarah modern, jabatan tersebut sebagian besar dipegang oleh kardinal Eropa. Kardinal Bernardin Gantin dari Benin, Afrika, yang menjabat pada 1993–2002, merupakan salah satu tokoh non-Eropa yang pernah memimpin Kolegium Kardinal.

Terpilihnya Tagle membawa dimensi baru dalam sejarah itu. Untuk pertama kalinya, seorang kardinal dari Asia memegang jabatan Dekan, mencerminkan semakin luasnya keterlibatan Gereja-Gereja lokal dari berbagai kawasan dalam kehidupan Gereja universal.

Peran Dekan dalam Pemilihan Paus

Dekan bertindak sebagai primus inter pares, ungkapan Latin yang berarti “yang pertama di antara yang setara”. Ia mengoordinasikan kegiatan Kolegium Kardinal, tetapi tidak memiliki kuasa pemerintahan hierarkis atas para kardinal lainnya.

Tanggung jawabnya menjadi sangat penting ketika terjadi sede vacante. Dalam keadaan tersebut, Dekan memanggil para kardinal ke Roma dan memimpin pertemuan-pertemuan umum yang mempersiapkan pemilihan Paus baru. Ia juga biasanya memimpin Misa pemakaman Paus dan Misa sebelum dimulainya konklaf.

Jika berusia di bawah 80 tahun dan karena itu termasuk kardinal elektor, Dekan memimpin konklaf di Kapel Sistina. Setelah seorang kardinal terpilih, ia menanyakan apakah yang bersangkutan menerima pemilihan tersebut dan nama kepausan yang akan digunakannya.

Apabila Paus terpilih belum menerima tahbisan uskup, Dekan juga bertugas menahbiskannya menjadi uskup, sesuai Kanon 355 § 1 Kitab Hukum Kanonik.

Baca Juga Artikel:  Damai Bukan Cuma Mimpi: Saatnya Kita Jadi Jembatan, Bukan Tembok

Jika Dekan telah berusia 80 tahun atau lebih, tugas-tugas dalam konklaf dijalankan oleh Wakil Dekan atau, jika diperlukan, oleh kardinal-uskup elektor yang paling senior.

Pada usia 69 tahun, Tagle masih memenuhi persyaratan usia untuk menjadi kardinal elektor. Dengan demikian, jika terjadi kekosongan kepausan selama masa jabatannya dan ia tetap memenuhi persyaratan tersebut, ia dapat memimpin konklaf untuk memilih penerus Paus Leo XIV.

Dari Manila ke Pelayanan Gereja Universal

Luis Antonio Gokim Tagle lahir di Manila, Filipina, pada 21 Juni 1957. Ia diangkat menjadi Uskup Imus pada 2001 dan Uskup Agung Manila pada 2011. Pada 24 November 2012, Paus Benediktus XVI mengangkatnya sebagai kardinal.

Pada Desember 2019, Paus Fransiskus menunjuknya untuk memimpin Kongregasi untuk Evangelisasi Bangsa-Bangsa, yang dikenal sebagai Propaganda Fide. Setelah reformasi Kuria Roma, lembaga tersebut menjadi bagian dari Dikasteri untuk Evangelisasi. Tagle kemudian mengemban tugas sebagai Pro-Prefek Seksi untuk Evangelisasi Pertama dan Gereja-Gereja Partikular Baru. Ia juga pernah menjabat Presiden Caritas Internationalis pada 2015–2022.

Tagle dikenal luas karena gaya pewartaannya yang hangat, komunikatif, dan dekat dengan umat, terutama mereka yang hidup dalam kesederhanaan. Pengalaman pastoralnya di Filipina dan pelayanannya di Takhta Suci membawanya berinteraksi dengan Gereja-Gereja lokal dalam beragam konteks budaya dan sosial.

Kini, tanggung jawabnya meluas hingga koordinasi Kolegium Kardinal yang anggotanya berasal dari berbagai belahan dunia. Terpilihnya Tagle menjadi tonggak sejarah bagi Gereja Asia sekaligus menunjukkan semakin besarnya peran kawasan tersebut dalam kehidupan Gereja universal.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. 

Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia).

Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

P. Kasmir Nema, SVD
P. Kasmir Nema, SVD
Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Media Veritas Indonesia. Jurnalis dan Koordinator Umum Media dan Komunikasi Serikat Sabda Allah (SVD) yang berbasis di Roma. Kontributor untuk Vatican News dan Radio Veritas Asia (RVA). Profil akademik: ResearchGate Profile

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer