Dari Altar ke Ladang Misi: Enam Imam Baru Ditahbiskan di Nenuk

NENUK, VERITAS INDONESIA – Suasana sukacita menyelimuti Rumah Induk SVD Santo Yosef, Nenuk, Keuskupan Atambua, Kamis (1/10/2026). Enam diakon menerima tahbisan imamat melalui penumpangan tangan Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, dalam Perayaan Ekaristi meriah yang dihadiri para konfrater SVD, imam, biarawan-biarawati, keluarga, sahabat, serta umat dari berbagai komunitas.

Keenam imam baru tersebut adalah P. Kanisius Bauk, SVD; P. Yosef Mario Ambasan, SVD; P. Clitus Marselinus Hausufa, SVD; P. Febronius Meni Subun, SVD; P. Wilfridus Oki, SVD; dan P. Robertus Bellarminus Meak, Sch.P.

Tahbisan ini menjadi puncak dari perjalanan panjang bertahun-tahun: formasi, studi teologi, doa, pengalaman pastoral, dan pembedaan roh. Namun, perayaan di Nenuk juga membawa pesan yang lebih dalam: tahbisan bukanlah akhir dari formasi, melainkan awal sebuah perjalanan baru sebagai pelayan Allah dan misionaris.

Imam: Berakar pada Allah, Dekat dengan Umat

Dalam homilinya, Mgr. Dominikus mengingatkan para imam baru bahwa imamat pada hakikatnya adalah panggilan untuk mengikuti Kristus dalam pelayanan. Seorang imam mengambil bagian dalam tritugas Kristus: mewartakan Sabda sebagai nabi, mempersembahkan diri bagi umat Allah sebagai imam, dan menggembalakan jemaat dengan kasih sebagai gembala.

Baca Juga Artikel:  Bridging Rome and the Archipelago: Vatican News Launches Bahasa Indonesia Channel

Menurut Uskup Atambua, Allah harus selalu menjadi pusat dan sumber sukacita seorang imam. Karena itu, imamat tidak boleh direduksi menjadi sekadar fungsi, jabatan, atau rangkaian kegiatan pastoral. Imamat pertama-tama adalah relasi dengan Kristus, yang perlahan-lahan menjelma menjadi hidup yang dipersembahkan bagi sesama.

Mgr. Dominikus juga menekankan pentingnya persekutuan dengan umat. Pelayanan imamat, katanya, tidak dapat dihayati secara terisolasi. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mendengarkan dan belajar, keterbukaan untuk berjalan bersama, serta kehadiran pastoral yang peka terutama terhadap mereka yang menderita dan yang terpinggirkan.

Foto: Pater Dismas Mauk, SVD

“Tahbisan Bukan Garis Finis”

Pemahaman tentang imamat itu menemukan gaung misionernya dalam sambutan Provinsial SVD Timor, P. Dismas Longginus Mauk, SVD.

“Tahbisan bukanlah garis finis. Tahbisan adalah sebuah pengutusan,” tegasnya di hadapan para imam baru.

Bagi P. Dismas, pelayanan dan misi tidak boleh dipisahkan. Pelayanan menggambarkan apa yang dilakukan seorang imam, sedangkan misi memberi arah, makna, dan tujuan bagi pelayanan itu.

“Harus ada yang mengutus dan ada yang diutus,” ujarnya. “Kita tidak mengutus diri kita sendiri, dan kita juga tidak sepenuhnya menentukan misi kita sendiri. Misi itu diterima.”

Baca Juga Artikel:  Uskup Budi Kleden: “Beranilah Menjadi Jembatan, Seperti Yesus Bagi Kita”

Bagi seorang misionaris Serikat Sabda Allah, kesediaan untuk diutus berakar pada kaul religius dan kesetiaan pada nasihat-nasihat injili: kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan. Karena itu, seorang misionaris dipanggil untuk melampaui selera pribadi, tempat-tempat yang sudah akrab, dan agenda pribadinya, agar tetap siap sedia bagi misi Allah yang dipercayakan melalui Serikat dan Gereja.

Diutus Semakin Dalam ke Tengah Umat

Perayaan di Nenuk juga menghadirkan gambaran yang kuat tentang imamat misioner: altar dan ladang misi tidak boleh terpisah.

Dari altar, seorang imam menerima kekuatan untuk pergi. Dari Sabda, ia menerima arah perutusannya. Di tengah umat, misinya menjadi nyata dalam kehadiran, belas kasih, dan pelayanan yang konkret.

Dengan demikian, tahbisan tidak menempatkan keenam imam baru di atas umat, tetapi justru mengutus mereka semakin dalam ke tengah kehidupan umat.

Pesan Uskup dan Provinsial pun bertemu dalam satu visi yang sama. Mgr. Dominikus menyoroti hati seorang imam: berakar pada Allah, serupa dengan Kristus, dan dekat dengan umat. P. Dismas menyoroti arah seorang misionaris: dipanggil oleh Sabda, siap diutus, dan rela melayani melampaui dirinya sendiri.

Baca Juga Artikel:  Paus Leo XIV kepada Gereja Asia: Bangun Persekutuan, Bukan Babel

Di akhir sambutannya, P. Dismas menyampaikan terima kasih kepada Mgr. Dominikus Saku, para formator, keluarga, para penderma, komunitas-komunitas religius, serta semua pihak yang telah mendampingi para imam baru selama masa formasi.

Kini, ketika keenam imam baru memulai babak baru hidup mereka, perayaan di Nenuk meninggalkan satu keyakinan yang sederhana namun menantang bagi mereka dan seluruh komunitas misioner:

Imamat bukanlah tujuan akhir; imamat adalah misi.

Tahbisan bukanlah garis finis; tahbisan adalah awal dari pengutusan.

Dari altar, mereka menerima kekuatan.

Dari Sabda, mereka menerima arah.

Kepada umat, mereka diutus dalam misi.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. 

Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia).

Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer