219 Gereja, Satu Misi: Dari Selembar Satu Dolar Menjadi Gerakan Kasih

Berawal dari selembar uang satu dolar, sebuah gerakan kasih tumbuh dan membantu membangun 219 gereja dan kapela di berbagai pelosok Indonesia. Kisah Albertus Gregory Tan dan Yayasan Vinea Dei adalah kisah tentang iman yang bekerja melalui hal-hal sederhana, dari membangun gereja hingga membangun manusia dan komunitas.


Semuanya Berawal dari Satu Dolar

Bagaimana mungkin selembar uang satu dolar Amerika menjadi awal dari sebuah gerakan yang membantu membangun 219 gereja dan kapela di berbagai pelosok Indonesia?

Bagi Albertus Gregory Tan, jawabannya bukan terletak pada nilai uang itu. Yang mengubah segalanya adalah kasih dan kepercayaan yang datang bersamanya.

Ia masih mengingat saat dirinya hampir menyerah. Bukan karena kehilangan niat untuk melayani, melainkan karena beban yang terasa terlalu berat untuk dipikul seorang diri. Di tengah kegamangan itu, datanglah sepucuk surat. Tidak ada nasihat panjang. Tidak ada janji besar. Hanya selembar uang satu dolar Amerika yang diselipkan di dalamnya.

Bertahun-tahun kemudian, peristiwa sederhana itu tetap menjadi salah satu titik balik dalam hidupnya.

“Tuhan bekerja dengan cara-cara yang sederhana, tetapi penuh misteri,” kenangnya.

Apa yang tampak kecil itu kemudian tumbuh menjadi sebuah perjalanan panjang. Dari selembar satu dolar lahir sebuah gerakan solidaritas yang, selama lebih dari satu dekade, telah membantu membangun 219 gereja dan kapela di berbagai pelosok Indonesia melalui Yayasan Vinea Dei.

Namun, angka 219 hanyalah bagian kecil dari kisah ini.

Di balik setiap gereja ada umat yang berharap. Ada anak-anak yang bernyanyi di tengah keterbatasan. Ada budaya lokal yang menemukan tempat dalam ungkapan iman. Ada donatur yang berbagi dari kejauhan. Ada relawan muda yang memberikan waktu dan tenaga. Dan ada sebuah keyakinan sederhana: bahwa Gereja tidak hanya dibangun dengan batu dan semen, tetapi dengan kehadiran manusia yang bersedia berjalan bersama.

Lebih dari Sekadar Membangun Gedung

Mula-mula, Albertus memahami panggilannya dengan cara yang sederhana: jika Gereja membutuhkan bangunan, maka bangunan itu harus dibangun.

Pemahaman itu mengingatkan banyak orang pada pengalaman Santo Fransiskus Assisi yang mendengar suara Tuhan, “Perbaikilah Gereja-Ku.”

Gereja yang rusak perlu diperbaiki. Bangunan yang lapuk perlu dibangun kembali. Umat membutuhkan tempat yang layak untuk beribadah.

Tetapi semakin jauh ia berjalan bersama umat di berbagai daerah, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang jauh lebih mendasar daripada sebuah bangunan.

Di tengah masyarakat yang hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan, ia menemukan bahwa Gereja pertama-tama membutuhkan manusia yang bersedia hadir.

Bukan hanya datang membawa bantuan, tetapi duduk bersama mereka. Mendengarkan cerita mereka. Mengenal luka dan harapan mereka. Dan, untuk sesaat, ikut merasakan kehidupan yang mereka jalani.

“Yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan materi, tetapi kehadiran yang membawa harapan,” ungkapnya.

Ia menyebutnya pastoral kehadiran—sebuah cara melayani yang tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi berusaha hadir secara utuh dalam kehidupan mereka yang dilayani.

Perjumpaan dengan orang-orang miskin membuatnya semakin menyadari bahwa pelayanan sosial Gereja tidak boleh berhenti pada materi. Bantuan memang penting, tetapi kehadiran yang tulus dapat memulihkan martabat, menumbuhkan harapan, dan menghidupkan kembali iman.

Baca Juga Artikel:  Lubang di Lambung Kapal: Sebuah Hikayat tentang Nilai Diri

Perjalanan menuju kepercayaan publik pun tidak selalu mudah.

Sebelum Vinea Dei berdiri secara resmi, upaya penggalangan dana melalui media sosial yang dirintisnya sempat menuai kritik. Namun, kritik tersebut tidak dipandang sebagai penghalang. Sebaliknya, kritik menjadi kesempatan untuk membenahi tata kelola, sistem donasi, dan mekanisme pelaporan agar karya pelayanan semakin profesional dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Kepercayaan adalah sesuatu yang sangat berharga. Sekali diberikan, harus dijaga dengan sungguh-sungguh,” katanya.

Gereja Pertama yang Tak Pernah Terlupakan

Dari 219 gereja dan kapela yang telah dibangun, justru gereja pertama yang paling kuat tinggal dalam ingatannya.

Namanya Gereja Santa Klara di Rawa Kolang Trans, Keuskupan Sibolga.

Di tempat itulah perjalanan Vinea Dei menemukan bentuk konkretnya.

Namun, yang paling diingat Albertus bukanlah bangunan gerejanya. Ia mengingat suara anak-anak yang bernyanyi dengan penuh sukacita, meskipun mereka hidup dalam kemiskinan dan berbagai keterbatasan.

Pemandangan sederhana itu menjadi pengalaman iman yang mendalam.

Di tengah kehidupan yang serba terbatas, anak-anak itu tetap mampu bernyanyi. Bagi Albertus, di situlah kasih Allah menjadi nyata: bahwa sukacita dan harapan tidak selalu lahir dari kelimpahan.

Pengalaman itu sekaligus mengubah cara pandangnya tentang keberhasilan.

Yang paling ia syukuri bukanlah angka 219. Bukan pula jumlah bangunan yang telah berdiri. Lebih dari itu, ia melihat bagaimana Tuhan bekerja mengubah hati: hati dirinya sendiri, hati para relawan, hati para donatur, dan hati umat yang menerima pelayanan.

“Kalau bukan Tuhan yang bekerja, semua ini tidak mungkin terjadi.”

Ketika Iman Berakar dalam Budaya

Sebuah gereja dapat menjadi lebih dari sekadar tempat beribadah. Di tangan masyarakat yang memiliki akar budaya yang kuat, gereja juga dapat menjadi ruang tempat iman dan identitas bertemu.

Itulah yang tampak di Rentung, Manggarai.

Gereja di sana mengusung arsitektur Mbaru Niang, rumah adat Manggarai berbentuk kerucut yang menjulang ke atas. Bentuk itu bukan sekadar pilihan estetis. Bagi masyarakat setempat, Mbaru Niang merupakan bagian dari identitas dan warisan budaya yang telah hidup dari generasi ke generasi.

Karena itu, arsitektur menjadi bagian dari pewartaan iman.

Menurut Albertus, Gereja tidak harus hadir sebagai sesuatu yang asing dan jauh dari kehidupan masyarakat. Sebaliknya, iman dapat diungkapkan melalui simbol, bentuk, bahasa, dan budaya yang telah dikenal umat sejak kecil.

Di situlah ia melihat makna inkulturasi: menghadirkan Yesus sebagai pribadi yang dekat dengan kehidupan manusia.

Gereja yang dibangun pun tidak sekadar menjadi tempat untuk merayakan liturgi, tetapi menjadi bagian dari kehidupan dan identitas masyarakat.

Namun, membangun gereja tidak selalu berarti semuanya berjalan mulus.

Ada proses dialog, kerja sama, perbedaan pandangan, bahkan konflik. Justru melalui proses itulah umat belajar mendengarkan, berkompromi, mengambil keputusan bersama, dan bertumbuh sebagai komunitas.

Dengan demikian, membangun gereja berarti juga membangun umat.

Dan di dalam proses itulah, menurut Albertus, selalu ada kisah iman: tanda bahwa Tuhan bekerja melalui manusia.

Baca Juga Artikel:  Menjawab Seruan Keadilan di Tanah Papua, Katolikana dan Veritas Indonesia Bedah Film "Pesta Babi"

Jala Kasih: Ketika Jarak Bukan Lagi Penghalang

Dulu, seseorang yang ingin membantu karya misi harus berada dekat dengan tempat pelayanan. Kini, teknologi memungkinkan kasih melintasi jarak.

Melalui Jala Kasih, Vinea Dei mengembangkan sebuah platform digital yang mempertemukan orang-orang yang ingin berbagi dengan komunitas dan umat yang membutuhkan dukungan.

Seseorang di kota besar dapat terhubung dengan sebuah komunitas di pelosok. Mereka yang tidak pernah datang ke lokasi misi tetap dapat mengambil bagian dalam karya Gereja.

Teknologi menjadi jembatan.

Sejak gerakan solidaritas ini dirintis pada 2011, transparansi dan akuntabilitas menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Penggunaan donasi dilaporkan kepada para donatur—dahulu secara manual, kini semakin mudah dilakukan melalui sistem digital.

Namun, di tengah semua perkembangan teknologi itu, ada satu kebiasaan sederhana yang tidak berubah: mengucapkan terima kasih.

Tidak peduli besar atau kecil jumlah yang diberikan.

Setiap sumbangan dipandang sebagai bentuk kepedulian dan kepercayaan. Dan setiap kepercayaan, sekali diberikan, harus dijaga.

Ketika Gereja Tidak Berhenti pada Bangunan

Ada satu kesadaran yang kemudian semakin kuat dalam perjalanan Vinea Dei: setelah sebuah gereja selesai dibangun, tugas belum selesai.

Sebab Gereja bukan hanya bangunan.

Gereja adalah manusia.

Kesadaran itu mendorong Vinea Dei memperluas pelayanan ke bidang pendidikan melalui Program Orang Tua Asuh. Program ini mendukung anak-anak Katolik dari keluarga kurang mampu agar dapat melanjutkan pendidikan, bahkan hingga jenjang universitas.

Bagi Albertus, masa depan Gereja membutuhkan generasi yang tidak hanya memiliki iman, tetapi juga karakter dan pendidikan yang baik.

Salah satu kisah yang memberi harapan adalah perjalanan Yohanes Patrick, salah seorang anak asuh yang kini memiliki kesempatan menatap masa depan melalui pendidikan.

Namun sekali lagi, keberhasilan tidak diukur dari jumlah penerima manfaat.

“Cukup satu atau dua anak yang hidupnya menjadi lebih baik, itu sudah merupakan rahmat yang sangat besar,” katanya.

Harapannya lebih jauh: anak-anak yang pernah menerima kasih tidak berhenti sebagai penerima. Suatu hari nanti, mereka diharapkan mampu meneruskan kasih yang sama kepada Gereja dan kepada sesama.

Dengan demikian, bantuan tidak berhenti pada satu generasi.

Sinodalitas yang Tumbuh dari Akar Rumput

Jika gereja-gereja itu adalah wajah yang terlihat dari karya Vinea Dei, maka para relawan adalah tangan dan kaki yang membuatnya bergerak.

Banyak di antara mereka adalah kaum muda. Mereka sendiri masih bergulat dengan persoalan kehidupan, pekerjaan, keterbatasan ekonomi, dan masa depan.

Namun justru dalam pelayanan, mereka menemukan sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.

Mereka menemukan sukacita dalam memberi. Mereka belajar tentang pengorbanan. Dan melalui perjumpaan dengan orang-orang yang mereka layani, mereka mengalami bagaimana Tuhan bekerja dalam perjalanan hidup mereka.

Bagi Albertus, dinamika tersebut merupakan salah satu wajah nyata sinodalitas.

Religius dan awam, pengusaha, guru, pegawai bank, akuntan, serta para profesional dari berbagai bidang berjalan bersama dalam satu misi.

Mereka mungkin tidak saling mengenal sebelumnya. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda. Namun dalam pelayanan, mereka belajar melihat satu sama lain sebagai saudara.

Baca Juga Artikel:  Menenun Harapan: Semangat 'Mama Molo' Indonesia di Pusat Gereja Universal

Vinea Dei lahir dari inisiatif kaum awam dan berdiri secara independen, tidak terikat pada satu keuskupan tertentu. Namun justru karena itu, gerakan ini dapat berkolaborasi dengan berbagai keuskupan, tarekat religius, lembaga sosial, dan para profesional.

Di sanalah sinodalitas menemukan bentuk yang sederhana namun konkret: setiap orang membawa karunia masing-masing dan mempersembahkannya untuk misi bersama.

Melangkah Lebih Jauh

Setelah melewati angka 200 gereja, pertanyaan berikutnya bukan lagi: berapa banyak gereja yang bisa dibangun?

Pertanyaannya adalah: apa yang dibutuhkan Gereja selanjutnya?

Salah satu jawabannya adalah pendidikan calon imam.

Di tengah suburnya panggilan di Indonesia, masih ada calon imam yang menghadapi kesulitan dalam membiayai pendidikan mereka. Tantangan serupa juga dialami Gereja di berbagai negara lain.

Bagi Jala Kasih, kebutuhan tersebut menjadi ladang baru untuk menghadirkan solidaritas—bukan hanya bagi Gereja di Indonesia, tetapi juga bagi Gereja di berbagai tempat yang membutuhkan dukungan.

Namun pada akhirnya, Albertus tidak ingin orang hanya melihat Jala Kasih sebagai sebuah lembaga yang harus didukung.

Pesannya justru lebih sederhana.

“Kami tidak meminta Anda untuk mendukung Jala Kasih. Dukunglah Gereja di tempat Anda berada. Mulailah terlibat, karena selalu ada sesuatu yang membutuhkan kehadiran dan kepedulian Anda. Gereja membutuhkan kita semua untuk terlibat. Jangan ragu untuk berbagi dan memberi diri. Mulailah dari hal-hal yang kecil dan sederhana.”

Pesan itu membawa kita kembali pada awal kisah ini.

Selembar uang satu dolar mungkin tampak tidak berarti. Namun, ketika dipersembahkan dengan iman dan kasih, Tuhan dapat mengubahnya menjadi berkat yang menjangkau begitu banyak kehidupan.

Dari selembar satu dolar lahir sebuah gerakan kasih. Dari sebuah gereja pertama di Rawa Kolang, lahir ratusan gereja dan kapela. Dari bantuan pendidikan, lahir harapan bagi generasi baru. Dari para relawan yang sederhana, tumbuh sebuah komunitas yang belajar berjalan bersama.

219 gereja bukanlah sekadar angka. Di baliknya ada 219 kisah tentang umat, budaya, perjuangan, persaudaraan, dan iman.

Dan mungkin, di situlah inti seluruh perjalanan Vinea Dei: bukan sekadar membangun tempat bagi orang untuk datang kepada Tuhan, tetapi menghadirkan kasih Tuhan di tengah kehidupan manusia.

Sebab karya Allah sering kali dimulai dari sesuatu yang kecil dan sederhana. Yang dibutuhkan hanyalah hati yang bersedia mempersembahkannya.

Ditulis oleh P. Kasmir Nema, SVD, Roma, Italia, berdasarkan wawancara Vatican News berjudul “219 Gereja, Satu Misi: Menjadi Wajah Allah bagi Sesama.”


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

P. Kasmir Nema, SVD
P. Kasmir Nema, SVD
Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Media Veritas Indonesia. Jurnalis dan Koordinator Umum Media dan Komunikasi Serikat Sabda Allah (SVD) yang berbasis di Roma. Kontributor untuk Vatican News dan Radio Veritas Asia (RVA). Profil akademik: ResearchGate Profile

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer