Kardinal López Romero Mundur Sementara di Tengah Investigasi Dugaan Pelecehan terhadap Perempuan Dewasa

Vatikan – Veritas Indonesia Kardinal Cristóbal López Romero, SDB, Uskup Agung Rabat, Maroko, mengumumkan bahwa untuk sementara waktu ia mundur dari seluruh kegiatan publik dan pelayanan pastoral, menyusul dibukanya investigasi awal oleh Gereja atas tuduhan perilaku tidak pantas terhadap sejumlah perempuan dewasa.

Dalam pernyataan yang dirilis Selasa, 7 Juli 2026, kardinal berusia 74 tahun asal Spanyol itu menegaskan bahwa kasusnya kini berada di tangan otoritas Takhta Suci yang berwenang, sebagaimana dikutip oleh Catholic World Report.

Media Prancis Agence France-Presse (AFP) melaporkan bahwa setidaknya lima perempuan menuduh López Romero melakukan kekerasan seksual, sebuah temuan yang mendorong Vatikan membuka investigasi resmi terhadap salah satu kardinal paling menonjol di Gereja Katolik.

AFP mewawancarai seorang perempuan pensiunan yang aktif di lingkungan Gereja, serta meninjau kesaksian tertulis seorang perempuan lain yang menyatakan pernah mengalami pelecehan seksual oleh sang kardinal.

Pengaduan tertulis yang dikirim ke kedutaan Vatikan di Rabat itu, menurut laporan AFP yang dikutip sejumlah media, menyebut adanya kontak fisik yang tidak pantas — termasuk pelukan yang “sangat intens dan berkepanjangan” serta upaya mendekat secara fisik untuk mencium salah satu pelapor.

Baca Juga Artikel:  ‘Magnifica humanitas’: Doktrin Radikal Paus Leo XIV Membongkar Monopoli AI dan Kolonialisme Data Global

Sumber internal di Keuskupan Agung Rabat yang dikutip oleh La Croix bahkan menyebutkan bahwa sang uskup agung dilaporkan mengakui kepada rekan kerjanya telah menjalin hubungan afektif yang tidak pantas dengan sejumlah perempuan.

Sumber yang sama menyatakan bahwa Vatikan sebenarnya telah menyelidiki persoalan ini sejak Paskah — jauh sebelum pengumuman publik pekan ini disampaikan.

Kardinal López Romero sendiri membantah seluruh tuduhan tersebut. Kepada AFP ia menegaskan, “saya tidak melakukan penyerangan, kekerasan, maupun pelecehan seksual” — pernyataan yang juga ia ulang dalam suratnya kepada umat keuskupan.

Ia menyampaikan bahwa dirinya telah memberikan penjelasan kepada atasan gerejawinya dan akan terus bekerja sama sepenuhnya dengan proses investigasi yang tengah berlangsung, sembari meminta umat mendoakan mereka yang menderita akibat situasi ini, Gereja di Maroko, dan dirinya sendiri.

Seorang pengacara Maroko yang berfokus pada kasus kekerasan seksual, Nadia Debbache, menilai bahwa perbuatan yang dituduhkan berpotensi masuk kategori pelecehan seksual dan penyerangan seksual dengan pemberat, mengingat adanya faktor penyalahgunaan otoritas oleh pihak yang diduga sebagai pelaku.

Hingga saat ini, belum ada pengaduan resmi terhadap López Romero yang diajukan kepada otoritas hukum Maroko.

Baca Juga Artikel:  Navigating the AI Era by Choosing Empathy Over Algorithms

Sosok yang Sempat Disebut Papabile

Kasus ini terasa berat justru karena posisi López Romero dalam hierarki Gereja. Anggota Kongregasi Salesian Don Bosco ini ditahbiskan imam pada 1979, menjabat Presiden Konferensi Waligereja Afrika Utara pada periode 2022–2025, dan sejak 2020 duduk sebagai anggota Dikasteri Vatikan untuk Dialog Antaragama.

Lebih dari itu, pada konklaf Mei 2025, sejumlah media internasional menyebut López Romero sebagai salah satu kardinal paling berpengaruh dan menggambarkannya sebagai “papabile” — istilah untuk kandidat kuat calon paus.

Ironi lain yang layak disoroti: menurut laporan yang sama, López Romero pada 2024 pernah menangani kasus Antoine Exelmans, imam asal Prancis yang bertugas di Notre-Dame-de-Lourdes, Casablanca, yang juga tersandung kasus pelecehan.

Fakta bahwa seorang uskup agung yang sebelumnya menangani kasus pelecehan di keuskupannya sendiri kini justru menjadi subjek investigasi serupa, menambah lapisan pertanyaan tentang akuntabilitas dan pola penanganan kasus semacam ini di internal Gereja.

Pertanyaan yang Belum Terjawab

Perbedaan nada antara komunike resmi keuskupan — yang menekankan “kerja sama penuh” dan permintaan doa — dengan temuan investigasi AFP yang jauh lebih tajam, menyisakan pertanyaan mendasar bagi umat: sejauh mana transparansi Gereja dalam menangani kasus yang melibatkan pejabat tingginya sendiri? Takhta Suci sendiri, menurut sejumlah laporan, belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan konfirmasi dari AFP.

Baca Juga Artikel:  Paus: "Lepaskan Obsesi pada Pencitraan, Belajarlah Mundur seperti Yohanes Pembaptis"

Kasus ini menambah panjang daftar sorotan atas cara Gereja Katolik menangani tuduhan pelecehan oleh para pemimpinnya — sebuah isu yang, sebagaimana dicatat sejumlah media, terus membayangi kepausan pasca-era Paus Fransiskus, meski beliau sempat berjanji menuntaskan “budaya penyalahgunaan” di dalam Gereja.

Sumber: Vatican News (7 Juli 2026); EWTN News/ACI Prensa/Catholic World Report (7 Juli 2026); Agence France-Presse, sebagaimana dilaporkan ulang oleh Morocco World News, Dawn.com, Free Malaysia Today, South China Morning Post, dan Africanews (7–8 Juli 2026).


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer