Pernahkah kita menyadari bahwa kehidupan kita di dunia ini ibarat sebuah perjalanan dinas sementara, sebelum akhirnya kita kembali ke “rumah” tempat kita benar-benar berasal?
Penulis: Albert Santoso
Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk 2:49)
Saya memiliki seorang teman yang sejak lahir hingga meniti karier, selalu menghabiskan waktunya di Indonesia. Suatu ketika, ia mendapat tugas dari atasannya untuk bekerja di luar negeri dalam jangka waktu yang cukup lama. Perusahaannya memberikan gaji besar dan fasilitas yang melimpah agar ia betah di sana. Bagi saya dan teman-teman yang lain, ini jelas merupakan sebuah kabar baik. Kami berpikir bahwa bekerja di luar negeri adalah jaminan untuk mendapatkan penghidupan yang jauh lebih mapan.
Namun, realitas yang ia rasakan ternyata jauh berbeda dengan asumsi kami. Alih-alih menikmati kemewahan tersebut, ia justru merasa sangat tidak nyaman. Tinggal di negara orang memaksanya harus berjuang keras beradaptasi dengan banyak hal, mulai dari cita rasa makanan, perubahan musim, suhu udara, hingga perbedaan budaya. Seiring berjalannya waktu, tuntutan profesionalisme memang membuatnya terbiasa dengan ritme kehidupan di sana. Kendati demikian, ia memegang teguh satu prinsip: setidaknya setahun sekali, ia harus pulang ke Indonesia. Bagaimanapun suksesnya ia di perantauan, identitas aslinya tetaplah orang Indonesia yang selalu merindukan rumah.
Prinsip kerinduan akan “rumah” ini sesungguhnya mengingatkan kita pada teladan Kristus. Yesus adalah Anak Allah yang diutus oleh Bapa-Nya di surga untuk turun ke dunia menjadi penebus bagi seluruh umat manusia. Pada hakikatnya, Yesus dan Allah adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Oleh karena itu, ketika Ia berkata kepada orang tua-Nya di dunia bahwa Ia harus berada di dalam “rumah Bapa-Ku”, Ia sedang menegaskan identitas dan kewarganegaraan-Nya yang sejati, meskipun saat itu Maria dan Yusuf belum sepenuhnya memahami ucapan tersebut.
Sebagai pengikut Kristus, kita semestinya memiliki kesadaran yang sama. Identitas sejati kita adalah anak-anak Allah, yang kelak akan tinggal bersama-sama dengan-Nya di kekekalan. Namun, melalui rencana dan kedaulatan Allah, saat ini kita masih ditempatkan di dunia. Kita sedang menjalani “perjalanan dinas” spiritual untuk memenangkan banyak jiwa dan membawa mereka kembali kepada Bapa.
Tugas ini tentu tidak mudah. Godaan dunia ini begitu kuat, dan selama kita masih mengenakan tubuh fana, akan selalu ada celah bagi kita untuk jatuh ke dalam dosa dan terhanyut oleh arus dunia. Oleh karena itu, kita harus memiliki “sindrom perantau” seperti teman saya, selalu mengingat dari mana kita berasal. Tetaplah terhubung secara intim dengan hadirat Tuhan, karena hanya dengan terus mengingat “rumah” kitalah, kita akan memampukan diri menjadi terang dan garam bagi dunia ini.
Doa:
Ya Tuhan kami mengucapkan banyak terima kasih dan rasa syukur yang tiada hentinya karena Engkau telah sudi mengutus PuteraMu yang tunggal ke dunia ini untuk menjadi penebus dan juruselamat bagi seluruh manusia. Ampunilah kami jika kami masih sering tergoda dan jatuh dalam dosa. Curahkanlah Roh KudusMu untuk selalu mengingatkan kami agar selalu berada di dalam hadiratMu agar kami terap mampu menjadi garam dan terang bagi dunia ini. Amin.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.








