Pernahkah kita menyadari bahwa sering kali kita menolak solusi yang sudah ada di depan mata, hanya karena kita terlalu mengandalkan logika sendiri? Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:26).
Penulis: Albert Santoso
Beberapa tahun yang lalu, semasa ibu saya masih hidup, beliau mempekerjakan seorang Asisten Rumah Tangga (ART) yang belum memiliki pengalaman kerja. Namun, karena ART tersebut tampak rajin dan penurut, ibu saya memutuskan untuk menerimanya bekerja di rumah kami.
Suatu hari, ibu saya melihatnya sedang kesulitan membersihkan toilet kamar mandi. Ibu saya pun memberikan saran agar ia menggunakan minuman bersoda, karena cairan tersebut efektif membantu membersihkan noda toilet dengan lebih cepat. ART tersebut tampak mendengarkan dengan saksama dan mengangguk setuju. Merasa sarannya telah diterima, ibu saya kemudian meninggalkannya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Kurang lebih dua minggu berselang, ibu saya kembali mendapati ART itu sedang membersihkan toilet. Namun, ada yang ganjil; ibu saya tidak melihat botol minuman bersoda di sekitarnya.
“Loh, kamu tidak pakai minuman bersoda untuk membersihkan WC?” tanya ibu saya keheranan.
“Tidak, Bu,” jawab ART itu dengan raut wajah agak cemas.
“Kenapa?” kejar ibu saya.
“Karena saya tidak yakin, Bu, kalau minuman bersoda sungguh bisa membantu membersihkan WC,” jawabnya pelan.
Kisah sederhana ini sering kali menjadi cerminan hidup kita. Seperti ART tersebut yang telah diberi tahu solusi yang tepat namun memilih untuk tidak memercayai dan melakukannya, kita pun acap kali berbuat demikian terhadap Tuhan. Kita tahu bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan siap menolong di saat kita menghadapi kesulitan, entah melalui firman-Nya, khotbah para rohaniwan, maupun kesaksian sesama. Namun, ketika badai masalah benar-benar datang, kita justru lebih sering mendengarkan apa yang logika kita katakan. Dengan kata lain, kita lebih condong mengandalkan kekuatan diri sendiri ketimbang sungguh-sungguh bersandar pada Tuhan.
Menggunakan akal budi tentu tidaklah salah. Tuhan mengaruniakan otak agar manusia mampu berpikir dan memecahkan masalah. Akan tetapi, kita perlu menyadari bahwa pikiran manusia memiliki keterbatasan. Sering kali, logika kita hanya berorientasi pada solusi untuk diri sendiri atau sekadar jalan keluar jangka pendek.
Kita membutuhkan campur tangan yang melampaui kapasitas akal budi manusia; sebuah bimbingan agar setiap keputusan yang kita ambil tidak hanya mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri, tetapi juga bagi sesama dan lingkungan sekitar. Di ranah inilah peran Tuhan menjadi mutlak. Oleh karena itu, sebelum bersusah payah memecahkan masalah dengan kekuatan sendiri, alangkah baiknya kita terlebih dahulu mengundang campur tangan Tuhan. Mintalah hikmat-Nya dalam setiap langkah dan keputusan, agar jalan yang kita tempuh adalah jalan yang benar dan selaras dengan kehendak-Nya.
Doa:
Ya Tuhan, kami berterima kasih karena Engkau tetap senantiasa beserta kami walaupun kami kerap kali menganggap Engkau tidak ada. Ampunilah kami jika kami sering mengimaniMu hanya di bibir kami saja namun tidak mengimaniMu lewat perbuatan kami. Bimbinglah kami melalui Roh KudusMu untuk selalu percaya bahwa penyertaanMu tidak akan berkesudahan sampai akhir zaman, Amin.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.








