Di tengah krisis kepercayaan yang kerap melanda dunia modern hari ini, kita sering kali lupa bahwa kekuatan sebuah pesan tidak melulu terletak pada siapa yang membawanya, melainkan pada otoritas siapa yang mengutusnya.
Penulis: Albert Santoso
“Tetapi Yesus berseru kata-Nya: ‘Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku;'” (Yohanes 12:44)
Pada masa kecil saya, ayah bekerja di sebuah perusahaan kontraktor di Jakarta. Berkat rekam jejaknya yang baik, ia kerap dipercaya menjadi kepala proyek untuk pembangunan beberapa kompleks perumahan, gedung bertingkat, hingga fasilitas umum. Tugas ini membawanya berpindah-pindah, mulai dari Jakarta hingga ke berbagai wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra. Dinamika pekerjaan tersebut mempertemukan ayah dengan banyak pekerja dan mandor. Lewat interaksi yang intens itulah, ayah belajar memahami beragam sifat, watak, dan karakter manusia.
Suatu hari, seorang pria yang sama sekali tidak dikenal datang ke rumah kami mencari ayah. Ketika ditanya mengenai kepentingannya, ia mengaku sebagai utusan dari salah seorang mandor yang selama ini menjadi tangan kanan ayah dalam proyek. Sebagai bukti kuat, pria asing tersebut menyodorkan secarik kertas berisi pesan tertulis dari sang mandor.
Pesan di kertas itu sangat singkat: sang mandor meminta ayah menyerahkan cek pembayaran upah untuk para pekerja proyek melalui pria tersebut. Menariknya, setelah membaca surat itu, ayah tanpa keraguan sedikit pun langsung menyerahkan cek yang memang telah ia siapkan.
Di sinilah letak logika kepercayaan yang menarik. Ayah sama sekali tidak mengenal pria pembawa pesan tersebut. Namun, ayah sangat mengenal dan memercayai mandor yang mengutusnya. Kepercayaan ayah kepada sang utusan sejatinya adalah bentuk penghormatan dan kepercayaannya yang mutlak terhadap otoritas sang pengirim pesan. Surat kecil bertuliskan tangan itu bertindak sebagai jembatan legitimasi yang sah.
Analogi kemanusiaan ini membawa kita pada permenungan yang lebih dalam mengenai eksistensi Yesus Kristus. Beliau adalah Putra Allah yang diutus ke dalam dunia untuk menjadi Mesias—Juru Selamat yang mengambil peran sebagai Guru, Gembala, Nabi, hingga korban tebusan bagi umat manusia. Pada momen sakral ketika Yesus hendak dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, sebuah suara dari langit terdengar berseru: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Dialah Aku berkenan.”
Melalui peristiwa kosmis tersebut, Allah Bapa seolah sedang menunjukkan “surat kuasa” kepada dunia mengenai Yesus. Dengan demikian, ketika kita mendengar perkataan Yesus, kita sebenarnya sedang mendengarkan suara dari Allah Bapa sendiri. Sifat, kasih, dan tindakan yang ditunjukkan oleh Yesus di dunia adalah cerminan utuh dari hakikat Sang Pengutus. Setiap perintah yang dideklarasikan oleh Yesus bukan lagi sekadar anjuran moral biasa, melainkan instruksi langsung dari otoritas tertinggi semesta.
Pada akhirnya, merefleksikan makna “orang kepercayaan” ini menantang integritas hidup kita. Memercayai Yesus berarti memercayai Bapa yang mengutus-Nya. Di tengah dunia yang sering kali meragukan kebenaran, tugas kita sebagai pengikut-Nya bukan sekadar menghafal ajaran-Nya, melainkan menjadi ‘surat terbuka’ yang tepercaya. Dengan menjalankan ajaran-Nya dalam kehidupan sehari-hari, kita sedang menunjukkan kepada dunia seberapa besar penghormatan dan kepercayaan kita kepada Tuhan yang mengutus kita.
Doa:
Ya Tuhan, kami berterima kasih dan mengucap syukur sedalam-dalamnya karena Engkau begitu mengasihi kami manusia sehingga Engkau rela mengirimkan PutraMu yang tunggal Yesus Kristus ke dunia yang penuh dosa ini untuk mengumpulkan kembali domba-dombaMu yang hilang dan tersesat dengan menjadi kurban pemulihan agar kami dapat dipersatukan kembali dengan Engkau di surga. Bimbinglah kami domba-dombaMu dengan daya RohMu agar kami senantiasa taat dan mengikuti apa yang diajarkan oleh Tuhan kami Yesus Kristus agar kami dapat nemperoleh keselamatan abadi dan dapat bersatu kembali bersama Engkau di surga. Amin.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.








