Di tengah dunia yang menganggap perundungan verbal sebagai bumbu pergaulan, memilih untuk diam dan setia pada nurani sering kali menjadi jalan sunyi yang memisahkan kita dari kerumunan.
Oleh: Albert Santoso.
“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” (Matius 10:34)
Masa sekolah sering kali menjadi ruang di mana batasan antara gurauan dan celaan menjadi kabur. Dahulu, saya tumbuh dalam lingkungan di mana saling mencela adalah “bahan bakar” keakraban. Karena semua orang melakukannya dan tidak ada yang terlihat terluka, saya sempat menganggap perbuatan tersebut sebagai hal yang lumrah, bahkan mungkin baik untuk mencairkan suasana. Tidak ada rasa bersalah, hanya tawa yang dipaksakan.
Namun, kedewasaan membawa perspektif baru yang lebih tajam. Melalui perenungan dan literasi spiritual, saya menyadari bahwa kata-kata bukanlah sekadar bunyi. Surat Yakobus dalam Alkitab memberikan peringatan keras: “Tetapi tidak ada seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.”
Metafora “racun” ini bukanlah hiperbola. Lidah memiliki daya hancur yang mampu meruntuhkan martabat manusia hingga ke titik terendahnya. Sebaliknya, ia juga memiliki daya bangun yang mampu menghibur dan mengubah arah hidup seseorang. Menyadari kekuatan ini, saya mengambil keputusan radikal: berhenti menjadikan celaan sebagai hiburan. Saya memilih untuk menarik diri dari budaya perundungan verbal yang selama ini saya anggap normal.
Keputusan moral ini ternyata memiliki harga yang mahal. Saya dikucilkan. Saya dianggap “tidak seru” dan kehilangan lingkaran pertemanan. Di sinilah saya memahami makna “pedang” yang dibawa oleh Kristus. Ajaran-Nya sering kali bertindak sebagai pedang yang memisahkan-bukan untuk memecah belah dalam kebencian, melainkan untuk memisahkan kebenaran dari kebiasaan yang keliru.
Saya tersadar bahwa ketika Yesus berucap, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini,” Dia sedang menegaskan adanya benturan standar nilai. Hukum dunia sering kali membenarkan apa yang populer, sementara ajaran Kristus membenarkan apa yang mulia. Memilih untuk setia pada standar tersebut berarti siap menjadi “asing” di lingkungan sendiri. Pada akhirnya, rasa sedih karena kehilangan teman perlahan digantikan oleh ketenangan batin karena menemukan integritas.
Dalam kehidupan sehari-hari, “perpisahan” semacam ini akan terus terjadi. Kita mungkin harus berpisah dengan kebiasaan curang di kantor, menjauh dari lingkungan yang toksik, atau kehilangan popularitas demi menjaga prinsip. Kristus tidak pernah memaksa kita untuk memikul salib ini; Dia mengharapkan kerelaan. Sebab, di balik setiap perpisahan dengan dunia demi kebenaran, ada kedekatan yang lebih dalam dengan Sang Kebenaran itu sendiri.
Doa:
Ya Tuhan, kami sangat bersyukur karena Engkau telah bersedia mengutus PutraMu yang tunggal ke dunia ini untuk menjadi guru, juruselamat, serta penebus bagi kami yang percaya sepenuhnya pada Yesus. Urapilah kami dengan RohMu agar kami dapat dengan setia mengikuti ajaranMu walaupun kami harus “berpisah” dengan teman-teman atau bahkan keluarga kami. Amin.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.








