Penulis: Albert Santoso
“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga!” (Lukas 11:13a)
Masa kecil saya dipenuhi dengan daftar panjang hasrat yang meluap-luap: mobil kendali jarak jauh, pasokan cokelat yang tak terbatas, hingga perjalanan wisata ke berbagai tempat impian. Layaknya anak-anak pada umumnya, saya menganggap orang tua adalah “pengabul keinginan” yang harus memuaskan setiap ego saya. Namun, kenyataan sering kali berjalan pahit. Tak semua keinginan itu mewujud nyata, dan jika pun dituruti, sering kali tak sesuai dengan ekspektasi saya.
Kala itu, muncul gugatan dalam hati: Jika mereka benar-benar menyayangi saya, bukankah seharusnya mereka memberikan apa saja yang saya minta? Bukankah cinta identik dengan pemuasan keinginan?
Namun, waktu adalah guru yang bijak. Beranjak dewasa, sudut pandang saya bergeser. Saya mulai menyadari bahwa penolakan ayah dan ibu bukanlah bentuk pengabaian, melainkan manifestasi perlindungan. Mereka tidak sedang mempertimbangkan kesenangan sesaat saya, melainkan manfaat jangka panjang yang belum mampu saya nalar saat itu. Saya hanya melihat “hari ini”, sedangkan mereka telah melihat “masa depan”.
Refleksi ini membawa saya pada perenungan yang lebih dalam mengenai hubungan kita dengan Sang Pencipta. Dalam kehidupan spiritual, kita sering terjebak dalam pola pikir kanak-kanak yang serupa. Kita menghujani langit dengan rentetan permintaan, lalu merasa kecewa saat Tuhan tampak bergeming. Kita mulai meragukan kasih-Nya hanya karena “proposal” hidup kita tidak ditandatangani sesuai tenggat waktu yang kita buat sendiri.
Padahal, seiring bertumbuhnya kedewasaan iman, kita diajak untuk memahami bahwa doa bukanlah transaksi, melainkan relasi. Jika Tuhan mengabulkan semua keinginan kita yang mungkin saja destruktif bagi diri sendiri, Dia bukanlah Bapa yang baik. Melalui perjalanan hidup yang penuh liku, barulah saat menoleh ke belakang kita mampu melihat bahwa rencana-Nya jauh lebih indah daripada rancangan terbaik manusia.
Muncul sebuah pertanyaan: Apakah kita lantas berhenti meminta karena Tuhan sudah mengetahui segalanya?
Tentu tidak. Tuhan tetap menginginkan kita mengetuk pintu-Nya melalui doa. Namun, esensi doa kini telah bergeser: bukan lagi untuk memaksa tangan Tuhan mengikuti kehendak kita, melainkan untuk membangun keintiman dengan-Nya. Doa adalah ruang bagi kita untuk belajar melepaskan kendali dan menaruh hidup sepenuhnya di bawah kedaulatan-Nya.
Lebih dari itu, kematangan iman melalui doa sejatinya mengajarkan kita untuk berempati. Saat kita mendoakan orang lain, kita sedang melatih hati untuk keluar dari ego pribadi dan merasakan penderitaan sesama. Di sanalah letak transformasi spiritual yang sesungguhnya, ketika kita mulai mengasihi orang lain melalui ketulusan doa.
Pada akhirnya, jangan biarkan kekecewaan mengaburkan pandangan kita akan kasih-Nya. Ada hal yang jauh lebih besar yang Tuhan inginkan dari kita sebagai anak-anak-Nya: yaitu sebuah kesadaran penuh bahwa kita benar-benar dikasihi oleh Bapa yang tahu persis apa yang kita butuhkan, melampaui apa yang sekadar kita inginkan.
Doa:
Ya Tuhan kami benar-benar bersyukur dan berterima kasih karena Engkau tetap mengasihi kami manusia dari permulaan sampai akhir walaupun kami sudah jatuh ke dalam dosa. Ampunilah kami jika kami masih menuntutMu untuk mengabulkan segala permintaan kami kepadaMu. Ajarilah kami untuk mengerti bahwa Engkau selalu memberikan yang terbaik kepada kami terlepas apakah permintaan kami dikabulkan atau tidak. Tambahkan iman kami untuk percaya sepenuhnya kepadaMu ya Tuhan. Amin.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.








