Iman, Alam, dan “Kotoran Iblis”: Mengapa Kita Perlu Beragama dengan Cara Baru?

Apa gunanya rumah ibadah yang megah jika tanah tempatnya berdiri perlahan hancur oleh kerakusan manusia yang tidak terkendali? Saat ini, kita sedang menyaksikan sebuah ironi besar: di tengah khidmatnya doa-doa yang membubung ke langit, sebuah ancaman senyap justru merangkak masuk melalui pintu belakang peradaban kita dalam bentuk krisis ekologi yang mematikan.


Di tengah khidmatnya doa-doa yang membubung ke langit, sebuah ancaman senyap sedang merangkak masuk melalui pintu belakang peradaban kita: krisis ekologi yang lahir dari kerakusan tanpa batas. Kita kini berdiri di sebuah titik nadir di mana iman tidak lagi cukup hanya berurusan dengan keselamatan jiwa di akhirat, melainkan dituntut untuk berhadapan langsung dengan apa yang disebut Paus Fransiskus sebagai “kotoran iblis”, kerakusan sistemik yang mencabik-cabik kelestarian bumi demi keuntungan materi sesaat. Pertanyaannya kini bukan lagi seberapa rajin kita beribadah, melainkan apakah agama kita masih memiliki “nyali moral” untuk menjadi benteng pelindung bagi alam ciptaan Sang Khalik sebelum semuanya benar-benar terlambat.

Kegelisahan inilah yang menyeruak di tengah kemegahan Upacara Akademik Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Maksimus Regus, S.Fil., M.Si. di Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng pada Jumat, 8 Mei. Di hadapan para tokoh penting dan masyarakat luas, akademisi yang akrab disapa Prof. Max ini menyampaikan sebuah refleksi yang sangat menohok bertajuk “Meneropong Agama di Era Post-Antroposen”. Beliau mengajak kita membayangkan sejenak jika cara kita menjalankan ibadah hari ini sebenarnya sedang menentukan nasib anak cucu kita di masa depan, apakah mereka masih bisa menikmati segarnya udara pegunungan atau justru hanya akan mewarisi bumi yang gersang dan rusak.

Prof. Max memulai kisahnya dengan membedah sebuah kontradiksi yang sangat tajam dalam realitas keagamaan kita saat ini. Di satu sisi, dunia mendengar seruan keras Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si yang memperingatkan umat manusia tentang dampak destruktif kapitalisme global. Namun di sisi lain, kita justru menyaksikan realitas unik di Indonesia ketika pemerintah menawarkan konsesi tambang kepada organisasi-organisasi keagamaan. Hal ini memicu pertanyaan mendalam bagi Prof. Max tentang posisi agama yang kini seolah berada di persimpangan jalan, apakah ia akan tetap konsisten menjadi pembela kelestarian alam atau justru perlahan terseret masuk ke dalam pusaran godaan ekonomi dan politik praktis.

Keadaan ini semakin rumit karena kita telah memasuki apa yang disebut sebagai era Antroposen, sebuah masa di mana aktivitas manusia telah menjadi kekuatan dominan yang mengubah sistem fisik bumi. Namun sayangnya, dominasi manusia ini sering kali dibarengi dengan pembangunan yang membabi buta sehingga melahirkan krisis ekologis yang tidak lagi bisa dianggap sebagai isu pinggiran. Prof. Max menegaskan bahwa krisis ini sebenarnya adalah ancaman eksistensial bagi kemanusiaan kita semua. Di tengah ketidakpastian moral inilah, ia berpendapat bahwa agama tidak boleh hanya berdiam diri di balik tembok rumah ibadah atau sekadar menjadi residu budaya, melainkan harus hadir sebagai kekuatan reflektif yang mampu menambal keretakan hubungan antara masyarakat dan alam semesta.

Guna menjawab tantangan tersebut, Prof. Max menawarkan sebuah terobosan pemikiran melalui peran agama sebagai sang pembongkar narasi atau The Decoder. Dalam peran ini, lembaga keagamaan dituntut untuk berani menyingkap berbagai narasi palsu yang sering kali bertebaran di media massa atau kebijakan publik yang seolah-olah terlihat pro-lingkungan, padahal sebenarnya destruktif. Agama harus mampu melatih kepekaan umat agar tidak mudah tertipu oleh manipulasi data lingkungan dan berani menyuarakan kebenaran di tengah hegemoni digital yang sering kali meninabobokan kesadaran kolektif kita.

Tak hanya berhenti pada pembongkaran narasi, agama juga memiliki tugas krusial sebagai pengikat kembali atau The Recoupler. Tugas ini bertujuan untuk menyambung kembali kesadaran manusia yang selama ini mungkin sudah terputus dari realitas material bumi akibat gaya hidup modern yang konsumtif. Melalui peran ini, agama mengajak kita semua untuk melepaskan perasaan sebagai “pemilik” semesta yang boleh bertindak semena-mena, dan mulai belajar kembali menjadi “warga bumi” yang rendah hati. Kita diajak untuk melihat setiap makhluk hidup sebagai jejaring kehidupan yang setara di bawah naungan kasih Sang Pencipta.

Pada akhirnya, panggilan iman di era pasca-antroposen ini adalah tentang restorasi peradaban. Indonesia, sebagai negara dengan vitalitas keagamaan yang luar biasa tinggi namun memiliki kerentanan ekologis yang parah, saat ini sedang berdiri di titik yang sangat menentukan. Pilihan kita sekarang hanya ada dua, yakni menggunakan agama untuk melegitimasi eksploitasi alam demi keuntungan sesaat, atau menjadikannya sebagai kompas moral yang teguh untuk menjaga keutuhan ciptaan. Menjaga kelestarian alam bukanlah sekadar aksi sosial biasa, melainkan bagian utuh dari ibadah dan bukti nyata kasih kita kepada Tuhan.

Tulisan ini menjadi sebuah undangan bagi kita semua untuk tidak lagi memisahkan antara kesalehan ritual di rumah ibadah dengan kesalehan ekologis di tengah alam terbuka. Kita bisa memulai langkah kecil hari ini dengan merenungkan kembali setiap tindakan kita terhadap lingkungan sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah menitipkan bumi ini untuk dirawat, bukan untuk dihancurkan oleh keserakahan. Lalu, bagaimanakah pendapat Anda mengenai hal ini? Apakah menurut Anda organisasi keagamaan sebaiknya tetap fokus menjadi suara kritis penjaga moral alam, atau memang sudah saatnya mereka ikut mengelola sumber daya ekonomi seperti pertambangan demi kemandirian umat? Mari kita diskusikan bersama di kolom komentar di bawah ini.

*tulisan ini dikutip dari Pidato Pengukuhan Guru Besar, “Meneropong Agaa di Era Post-Antroposen: Menuju Kajian Trans-Sosiologis” oleh Prof. Dr. Maksimus Regus, S.Fil.,M.Si. 


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia dan Dosen Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan. Sebagai profesional yang mengantongi sertifikasi Penulis Non Fiksi dari BNSP, ia juga aktif mengelola publikasi ilmiah pada beberapa jurnal ilmiah dengan latar belakang keilmuan keperawatan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer