Dari Milan ke Flores: Menemukan Wajah Iman Orang Muda yang Sesungguhnya

Di tengah bisingnya era digital, kisah dua pemuda dari latar belakang yang bertolak belakang seorang genius komputer di Italia dan seorang pekerja keras di pelosok Flores membuktikan bahwa iman memiliki ribuan wajah yang sama indahnya untuk mengubah dunia.


Penulis: Sr. Florensia Imelda Seran, SCSC

Di sebuah stasi kecil di ujung Pulau Flores, suasana hangat menyelimuti pendopo pastoran. Sekelompok orang muda Katolik berkumpul untuk mengikuti katekese masa Prapaskah. Pada menit menit awal, ketegangan khas anak muda yang canggung sangat terasa. Beberapa wajah menunduk, ragu untuk sekadar mengangkat kepala atau bertatap mata, seolah ada dinding tak kasatmata yang memisahkan mereka.

Namun, sang fasilitator seorang biarawati yang penuh karisma tahu betul cara mencairkan suasana. Lewat senyum dan candaan yang tulus, ia mengajak mereka membuka hati. Perlahan, kekakuan itu luruh digantikan oleh gelak tawa. Suasana yang tadinya beku kini menjadi hidup dan hangat.

Memasuki materi katekese, sang biarawati meminta seorang peserta membacakan kisah inspiratif tentang Santo Carlo Acutis. Ia adalah seorang pemuda modern, genius komputer dari Italia, yang kini dikenal sebagai “santo pelindung internet”. Kisah keberanian dan dedikasi Carlo dalam menyebarkan cinta kasih Kristus di dunia digital rupanya menyentuh hati para peserta. Sang biarawati kemudian melempar panggung kepada mereka: Bagaimana kalian melihat iman dalam realitas hidup sehari hari?

Tanpa disangka, sebuah refleksi mendalam muncul dari seorang pemuda bernama Dandi. Sejak awal, ia memang tampak aktif. Dengan nada percaya diri yang lahir dari pengalaman hidup, Dandi berdiri dan memberikan pandangannya yang mengusik sanubari siapa pun yang mendengarnya.

“Carlo mungkin lahir di tengah keluarga yang serba ada. Ia memiliki segalanya dan dengan mulia membagikan haknya kepada orang miskin. Namun, kisah hidup saya berbeda,” ujar Dandi memulai kesaksiannya.

“Saya hanya dibekali iman dan mental yang kuat oleh orang tua. Sejak kecil, saya terbiasa bekerja keras, mencari uang dengan tangan saya sendiri, dan menghadapi berbagai kerasnya tantangan hidup. Namun, di tengah semua itu, satu hal yang saya pegang teguh adalah iman kepada Yesus. Saya percaya penuh Dia akan menuntun saya.”

Dandi kemudian melontarkan sebuah analogi yang luar biasa cerdas untuk ukuran pemuda desa yang sederhana. “Percaya kepada Yesus itu seperti kita menumpang kendaraan. Kita mungkin tidak mengenal siapa sopirnya secara langsung, tetapi kita tahu dan percaya bahwa dia adalah sopir yang ahli. Kita naik, duduk, dan mempercayakan hidup kita pada kendalinya, sampai kita tiba di tujuan dengan selamat.”

Ruangan itu mendadak hening. Kata kata Dandi yang sederhana namun tajam itu menukik langsung ke relung jiwa. Semua mata tertuju padanya. Mereka, dan juga sang biarawati yang tampak berkaca kaca, menyadari satu hal: iman bukanlah sekadar hafalan doa atau ritual yang kaku, melainkan sebuah laku hidup dan penyerahan diri yang utuh.

“Inilah yang kita butuhkan,” ujar sang biarawati dengan suara lembut memecah keheningan. “Keberanian untuk percaya, meskipun kita tidak melihat ujung jalan di depan kita. Seperti Carlo, kalian juga dipanggil untuk menjadi saksi iman dengan cara kalian yang unik.”

Peristiwa di pendopo pastoran itu membuka mata kita tentang realitas iman orang muda masa kini. Carlo Acutis dan Dandi seolah mewakili dua kutub dunia yang berbeda, namun disatukan oleh iman yang sama.

Carlo Acutis lahir dalam kelimpahan materi dan akses teknologi tingkat tinggi. Ia menggunakan keistimewaannya keahlian merakit situs web dan memahami algoritma untuk mengedukasi dunia tentang Ekaristi. Ia membuktikan bahwa teknologi, jika digunakan dengan bijaksana, adalah mimbar evangelisasi yang sangat efektif. Ia adalah wajah Gereja di era digital.

Di sisi lain, Dandi mewakili wajah keteguhan di tengah keterbatasan. Ia tidak membangun situs web, melainkan membangun ketahanan hidup (resiliensi). Ia tidak mengandalkan teori teologi yang rumit, melainkan teologi bertahan hidup di mana Tuhan ditempatkan sebagai “Sang Sopir” dalam kendaraan kehidupannya yang kerap melintasi jalanan terjal. Keberaniannya bersaksi membuktikan bahwa iman justru sering kali tumbuh paling subur di tanah yang paling keras.

Kedua sosok pemuda ini membawa pesan penting bagi Gereja dan masyarakat luas. Di dunia yang semakin kompleks ini, generasi muda membutuhkan dukungan untuk menemukan cara unik mereka sendiri dalam menghidupi iman. Orang muda yang punya akses digital perlu didorong untuk menjadi “Carlo Acutis” yang baru, membawa terang di tengah gelapnya media sosial. Sementara itu, mereka yang berjuang di akar rumput perlu dirangkul dan diteguhkan seperti Dandi, bahwa kerja keras dan kepasrahan mereka adalah bentuk doa yang paling nyata.

Mari kita ambil inspirasi dari Carlo dan Dandi. Berjalan bersama orang muda tidak berarti mendikte mereka, melainkan mendengarkan analogi analogi sopir mereka, memberikan ruang bagi mereka untuk bertumbuh, dan bersama sama menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik. Sebab, pada akhirnya, iman adalah panggilan untuk bertindak sebuah perjalanan panjang di mana kita percaya sepenuhnya kepada Sang Pengemudi Kehidupan.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia dan Dosen Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan. Sebagai profesional yang mengantongi sertifikasi Penulis Non Fiksi dari BNSP, ia juga aktif mengelola publikasi ilmiah pada beberapa jurnal ilmiah dengan latar belakang keilmuan keperawatan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer