Dari Kegelapan Menuju Terang: Belajar Melihat dengan Mata Allah di Dunia yang sedang Terluka.
Penulis: P. Marianus Pati Lea, SVD
Bacaan I: 1 Samuel : 16:1b.5-7.10-1. Bacaan II: Efesus 5:8-14. Bacaan Injil: Yohanes 9:1-41.
Minggu Prapaskah keempat sering disebut sebagai Minggu sukacita di tengah perjalanan pertobatan. Namun sukacita itu bukanlah kegembiraan yang dangkal. Sukacita itu lahir ketika manusia mulai melihat hidup dengan terang Tuhan.
Dalam Kitab Pertama Samuel 16:1b.6-7.10-13, Tuhan mengutus Samuel untuk mengurapi raja baru bagi Israel dari keluarga Isai. Ketika Samuel melihat Eliab yang gagah dan tampan, ia mengira dialah yang dipilih Tuhan. Namun Tuhan berkata kepadanya: manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati. Pada akhirnya, pilihan Tuhan jatuh pada Daud, anak bungsu yang bahkan tidak diperhitungkan oleh keluarganya sendiri.
Pesan bacaan ini jelas: Allah melihat lebih dalam daripada apa yang tampak di luar.
Dalam Surat kepada Jemaat di Efesus 5:8-14, Santo Paulus mengingatkan umatnya bahwa dahulu mereka hidup dalam kegelapan, tetapi sekarang mereka telah menjadi terang di dalam Tuhan. Karena itu mereka dipanggil untuk hidup sebagai anak-anak terang, yang menghasilkan buah kebaikan, keadilan, dan kebenaran.
Sementara itu, Injil Yohanes 9:1-41 menceritakan kisah Yesus yang menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir. Mukjizat ini bukan hanya tentang pemulihan penglihatan fisik. Mukjizat ini juga membuka mata rohani manusia. Orang yang tadinya buta akhirnya mampu melihat dan percaya kepada Yesus, sedangkan para Farisi yang merasa diri paling benar justru tetap buta secara rohani. Melalui ketiga bacaan ini, Gereja mengajak kita menyadari bahwa terang sejati adalah kemampuan melihat hidup dengan hati yang terbuka kepada Allah.
…
Sabda Tuhan hari ini terasa sangat dekat dengan realitas dunia kita. Kita hidup di zaman ketika berita tentang perang, konflik, dan kekerasan hampir setiap hari kita dengar. Dari berbagai wilayah dunia terutama Timur Tengah kita melihat gambar-gambar kota yang hancur, keluarga yang kehilangan rumah, dan anak-anak yang tumbuh dalam ketakutan. Dunia seakan dipenuhi kegelapan.
Dalam situasi seperti ini, manusia sering kali melihat dunia hanya dengan kacamata kekuatan dan kepentingan. Siapa yang paling kuat dianggap paling benar. Siapa yang berbeda dianggap ancaman. Ketika cara pandang seperti ini menguasai hati manusia, maka perdamaian menjadi semakin jauh. Sabda Tuhan hari ini mengingatkan bahwa cara pandang Allah sangat berbeda dari cara pandang manusia.
Dalam kisah pengurapan Daud, Tuhan tidak memilih yang paling kuat atau paling menonjol. Ia memilih seorang anak muda yang sederhana, yang bahkan tidak dianggap penting oleh keluarganya sendiri. Pilihan Tuhan ini menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu terlihat dari luar.
Hal yang sama juga terlihat dalam Injil Yohanes. Orang yang buta sejak lahir akhirnya mampu melihat terang karena hatinya terbuka kepada Yesus. Sebaliknya, para Farisi yang merasa diri paling tahu justru tidak mampu melihat karya Allah.
Kebutaan rohani seperti ini juga dapat terjadi dalam hidup kita. Ketika manusia terlalu yakin pada dirinya sendiri, terlalu cepat menghakimi, atau terlalu mudah membenci, saat itulah mata hati menjadi gelap.
Dalam konteks dunia yang dilanda konflik, Gereja terus mengingatkan umat manusia agar tidak kehilangan arah. Baru-baru ini, Paus Leo XIV menyampaikan seruan yang sangat kuat ketika melihat perang yang terus terjadi di berbagai wilayah dunia. Ia berkata dengan penuh keprihatinan: “Jangan sampai kita menjadi terbiasa dengan perang.” Bahkan ia menegaskan dengan sangat jelas bahwa perang adalah sebuah kekalahan.
Kata-kata ini sederhana, tetapi sangat mendalam. Ketika perang terjadi, tidak ada yang benar-benar menang. Yang ada hanyalah penderitaan manusia: anak-anak yang kehilangan masa depan, keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai, dan masyarakat yang kehilangan harapan.
Di tengah dunia yang terluka ini, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita kembali kepada terang. Santo Paulus mengingatkan bahwa kita dipanggil menjadi anak-anak terang. Artinya, iman kepada Kristus tidak boleh berhenti pada doa atau ibadat saja, tetapi harus tampak dalam sikap hidup kita.
Terang Kristus hadir ketika seseorang memilih kasih daripada kebencian, memilih pengertian daripada penghakiman, dan memilih membangun perdamaian daripada memperpanjang konflik.
Masa Prapaskah adalah waktu ketika Tuhan ingin membuka mata hati kita. Seperti orang buta dalam Injil, kita juga membutuhkan sentuhan Yesus agar mampu melihat hidup dengan cara yang baru dengan mata yang diterangi oleh kasih Allah.
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita melakukan satu langkah sederhana tetapi penting: meminta Tuhan membuka mata hati kita. Selama minggu ini, kita dapat melakukan tiga hal konkret:
Pertama, belajar melihat orang lain dengan hati, bukan hanya dari penampilan, latar belakang, atau perbedaan pandangan.
Kedua, menjadi pembawa damai dalam lingkungan kita, terutama dalam percakapan sehari-hari yang sering dipenuhi prasangka dan kemarahan.
Ketiga, mendoakan perdamaian dunia, khususnya bagi mereka yang menderita karena perang.
Langkah-langkah kecil ini mungkin tampak sederhana. Namun justru melalui hal-hal kecil inilah terang Kristus mulai bersinar di tengah dunia yang gelap.
Semoga dalam perjalanan masa Prapaskah ini, Tuhan membuka mata hati kita, sehingga kita tidak hanya melihat dengan mata manusia, tetapi dengan mata Allah yang penuh kasih, kebenaran, dan damai. Amin.








