web page hit counter
back to top
Tuesday, March 3, 2026

Belajar Diam Bersama Yesus

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang terus menuntut kita untuk selalu bersuara dan membuktikan diri, Masa Prapaskah justru mengundang kita pada sebuah perjalanan batin yang paradoks: menemukan kekuatan, pemulihan, dan suara Tuhan di dalam keheningan.


Penulis: Tereja Oktaviana Lim*

Di antara kita, pasti ada yang lebih memilih untuk diam saat menghadapi persoalan hidup. Dalam keheningan itu, seseorang sering kali harus berperang melawan pikirannya sendiri, menata luka serta kegelisahan, hingga perlahan menemukan titik terang. Diam menjelma menjadi ruang pergulatan batin yang sunyi. Saya pun demikian; dalam banyak hal, saya lebih sering memilih untuk tidak bersuara. Namun, diam tidak selalu identik dengan penderitaan atau tanda kekalahan. Sebaliknya, ia bisa menjadi jalan terjal menuju kedewasaan iman.

Masa Prapaskah adalah masa rahmat, momen di mana Gereja mengajak umat untuk menyelami misteri sengsara Kristus lebih dalam. Kita diajak berpuasa, berdoa, dan berbagi kasih. Akan tetapi, di balik semua praktik kesalehan tersebut, Prapaskah sesungguhnya adalah perjalanan batin menuju keheningan. Sebuah keheningan yang memurnikan hati dan menolong kita untuk peka mendengar suara Tuhan.

Ketika merenungkan sengsara Yesus, kita melihat bagaimana Ia berdiri tegar di hadapan Pilatus. Ia difitnah, dituduh, dihina, dan diperlakukan dengan sangat tidak adil. Namun, Ia tidak banyak membela diri (Yohanes 19:9–10). Keheningan Yesus bukanlah tanda kelemahan atau ketidakberdayaan, melainkan wujud ketaatan total kepada kehendak Bapa. Ia tahu bahwa penderitaan yang harus ditanggung-Nya adalah bagian integral dari rencana keselamatan.

Nubuat tentang hal ini telah digemakan jauh sebelumnya dalam Kitab Yesaya 53:7: seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian, Ia tidak membuka mulut-Nya. Sikap Yesus adalah diam yang penuh makna. Di dalamnya terdapat kasih yang tak bersyarat, penyerahan diri yang utuh, dan keselamatan bagi dunia.

Dalam keseharian, saat disalahpahami atau diperlakukan tidak adil, insting pertama kita sering kali adalah segera membela diri. Kita ingin membuktikan bahwa kita benar; kita menuntut untuk didengar dan dimengerti. Namun, Yesus menunjukkan bahwa tidak semua hal harus dibalas dengan rentetan kata. Ada saatnya iman menuntut kita untuk menyerahkan segalanya kepada Tuhan, bertumpu pada keyakinan bahwa Ia tetap bekerja bahkan ketika kita memilih untuk tidak bersuara.

Dalam duka dan kehilangan, berdiam diri juga sering kali menjadi pilihan terbaik. Kehilangan orang terkasih, kegagalan, kritik tajam, atau pengkhianatan dapat menghancurkan hati kita. Dunia mungkin menganggap kedukaan sebagai bentuk kelemahan. Namun, iman mengajarkan bahwa justru di dalam kelemahan itulah rahmat Tuhan bekerja paling kuat. Diam dalam duka bukanlah wujud keputusasaan, melainkan keberanian membawa hati yang hancur ke hadapan Tuhan dan membiarkan tangan-Nya membentuknya kembali. Yesus sendiri mengalami kesepian yang mendalam; ditinggalkan, disangkal, dan dikhianati oleh murid-murid-Nya. Namun, Ia tetap berserah. Saat kita menyadari keterbatasan kekuatan kita sendiri, di situlah kita belajar bahwa Tuhan adalah satu-satunya sumber pengharapan sejati.

Menariknya, dalam keadaan suka pun, Prapaskah mengajak kita untuk belajar merengkuh ketenangan. Biasanya, sukacita identik dengan sorak-sorai dan luapan kegembiraan. Namun, sukacita rohani memiliki dimensi yang berbeda; ia bertumbuh subur dalam hati yang tenang. Diam dalam suka berarti menyadari dengan penuh kerendahan hati bahwa setiap berkat berasal dari Sang Pencipta. Hal ini menjaga kita agar tetap bersyukur tanpa jatuh ke dalam kesombongan.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Bunda Teresa, “Tuhan tidak ditemukan dalam kebisingan dan kegelisahan. Tuhan adalah sahabat keheningan.” Di tengah dunia yang bising oleh tuntutan dan distraksi, Prapaskah menjadi undangan yang mendesak untuk berhenti sejenak. Kita diajak untuk mematikan kebisingan dari luar agar gema suara Tuhan di dalam hati dapat terdengar jelas.

Masa Prapaskah mengingatkan kita bahwa pertobatan sejati lahir dari rahim keheningan. Dalam heningnya doa, kita berani menatap diri kita apa adanya. Dalam pemeriksaan batin yang tenang, kita mengakui segala dosa dan kelemahan. Dan dalam keheningan adorasi, kita menyadari betapa kita dikasihi tanpa batas.

Pada akhirnya, diam bukanlah pelarian dari kenyataan, melainkan keberanian untuk menghadapinya bersama Tuhan. Ia bukanlah tanda ketidakpedulian atau kekosongan, melainkan sebuah ruang perjumpaan. Semoga pada Masa Prapaskah ini, kita mampu belajar berdiam diri bersama Yesus. Sebuah keheningan yang penuh iman, penyerahan, dan harapan. Kelak, saat kita setia berjalan bersama-Nya dalam keheningan sengsara-Nya, kita pun akan diizinkan mengecap terang kebangkitan-Nya.

*Penulis adalah seorang pengajar di kampus swasta yang menjadikan menulis sebagai ruang meditasinya. Karya ini merupakan hasil renungan dalam masa Prapaska. Dimana tulisan ini reflektif yang menghubungkan kisah kehidupan nyata dengan panduan spiritual.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia dan Dosen Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan. Sebagai profesional yang mengantongi sertifikasi Penulis Non Fiksi dari BNSP, ia juga aktif mengelola publikasi ilmiah sebagai Managing Editor untuk Jurnal Keperawatan Suaka Insan (SINTA 3) dan Jurnal Suaka Insan Mengabdi (SINTA 5).

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer