web page hit counter
back to top
Wednesday, February 11, 2026

Kasih, Doa, dan Sebuah Pertanyaan Besar: Ada Apa di Balik Pengunduran Diri Mgr. Paskalis?

Jakarta, 10 Februari 2026-Veritas Indonesia. Hari itu, cahaya lilin berpendar lembut di depan Nunciatura Apostolik, mengiringi doa-doa yang dilantunkan dengan penuh kesungguhan oleh umat yang hadir. Aksi damai ini menjadi wujud nyata dari solidaritas umat Katolik Indonesia untuk Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM. Momen haru ini terjadi tepat setelah beliau kembali ke Biara OFM pada 7 Februari 2026, menyusul pengumuman pengunduran dirinya yang mengejutkan pada 19 Januari 2026 yang lalu.

Bagi banyak orang, Mgr. Paskalis menunjukkan sikap penerimaan yang luar biasa dalam keheningan, doa, dan refleksi. Namun, di balik ketenangan yang beliau tampilkan, tersimpan rentetan pertanyaan besar yang mengusik nurani umat, tidak hanya bagi mereka yang berada di Keuskupan Bogor, tetapi juga di seluruh penjuru Tanah Air.

Dalam pernyataan pengunduran dirinya, ada satu pengakuan jujur yang cukup menghentak hati kita semua: “Saya menerima keputusan Paus Leo XIV dan tentu saja melepaskan jabatan sebagai Uskup (Bogor). Bukan dengan rasa kehilangan, melainkan dengan kebebasan hati. Meskipun diwarnai oleh tekanan dan situasi sulit yang menyertainya.”

Aksi damai Solidaritas umat Katolik Indonesia di depan Nunciatura Apostolik (Jakarta, 10 Februari 2026).

Kalimat ini tentu memantik tanda tanya terdalam kita: Tekanan dari siapa? Kekuatan macam apa yang bisa mendesak seorang Uskup yang bahkan pernah menjadi calon Kardinal, untuk mundur dari jabatannya?

Jika kita merunut ke belakang, sebelum keputusan ini jatuh, ada dua peristiwa penting yang membayangi. Pertama, beredarnya surat viral yang memuat tuduhan kabur dari dua individu. Kedua, diutusnya seorang Visitator Apostolik untuk menelisik tuduhan tersebut. Anehnya, hingga detik ini, kebenaran dari tuduhan-tuduhan itu belum pernah dibuktikan secara tuntas dan terbuka kepada publik. Keputusan seolah sudah diketuk palu bahkan sebelum kebenaran sejati sempat terungkap terang benderang. Dari titik inilah kita patut bertanya dengan sungguh-sungguh: Sudahkah Mgr. Paskalis diperlakukan dengan benar, adil, dan bermartabat?

Satu hal yang perlu kita ingat bersama, langkah solidaritas yang ditunjukkan umat ini sama sekali bukan bentuk perlawanan terhadap Gereja. Gereja tetap dan akan selalu kita kasihi sebagai Ibu dan Guru kita. Gerakan ini juga bukan semata-mata tuntutan agar beliau kembali menduduki kursi Gembala Keuskupan Bogor. Lebih dari itu, ini adalah sebuah panggilan kenabian dan harapan tulus kepada Gereja Katolik di Indonesia. Umat merindukan agar para gembala menggunakan otoritas spiritualnya untuk merangkul, melayani, dan mengajarkan kebenaran, bukan malah terjebak dalam logika kekuasaan yang penuh tekanan bak politik duniawi.

Sebagai umat Katolik yang dibekali akal budi, hati nurani, dan kebebasan, kita tentu mendambakan perubahan yang bermakna. Oleh karena itu, umat menyuarakan satu tuntutan yang jelas dan terukur : Meminta Takhta Suci untuk melakukan investigasi menyeluruh melalui tim independen yang netral. Tim ini diharapkan dapat mengevaluasi seluruh proses yang terjadi, mulai dari visitasi apostolik hingga detik-detik mundurnya Mgr. Paskalis.

Umat Katolik Indonesia dibentuk dalam tradisi demokrasi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Kita memiliki hak untuk mengetahui apa yang sebenarnya menimpa gembala kita, bagaimana keputusan besar itu diambil, dan bagaimana keadilan benar-benar ditegakkan di dalam tubuh Gereja.

Mari kita terus mengawal peristiwa ini dengan doa dan nyala iman yang tak kunjung padam. Semoga Roh Kudus senantiasa membimbing Gereja kita menuju kebenaran sejati.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer