Mgr. Paulus Budi Kleden: Hidup Bakti Adalah Panggilan Menjadi Terang di Tengah Dunia yang Terluka

MATALOKO, Veritas Indonesia – Gereja Paroki Roh Kudus Mataloko menjadi saksi bisu keheningan yang khidmat saat ratusan biarawan, biarawati, dan umat berhimpun dalam Perayaan Ekaristi Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah sekaligus Hari Hidup Bakti sedunia, Senin (2/2).

Dipimpin langsung oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, perayaan tahun ini mengusung tema sentral: “Dipersembahkan, Dimurnikan untuk Menjadi Terang.”

Menjadi Saksi yang “Terluka”

Dalam homilinya, Mgr. Paulus menekankan bahwa hidup bakti bukanlah sebuah pelarian dari realitas dunia yang carut-marut. Sebaliknya, kaum religius dipanggil untuk hadir tepat di jantung penderitaan manusia.

Mengutip Surat kepada Orang Ibrani, Mgr. Paulus menggarisbawahi pentingnya kerendahan hati. Ia menyatakan bahwa seorang anggota hidup bakti bukanlah pribadi yang sempurna tanpa cela, melainkan manusia yang menyadari luka-lukanya sendiri.

“Hanya dengan mengakui dan menerima luka-luka pribadi, seseorang dapat menolong dan menyembuhkan sesama,” pesan Uskup Agung Ende tersebut.

Beliau juga mengingatkan agar para religius peka terhadap isu kemanusiaan dan kerusakan lingkungan, tanpa kehilangan kemampuan untuk bersukacita atas benih-benih kebaikan yang tumbuh di masyarakat.

Menjembatani Sekat Antargenerasi

Salah satu poin krusial yang disoroti Mgr. Paulus adalah dinamika komunitas religius saat ini. Merujuk pada perjumpaan tiga generasi dalam Injil (Yesus, Maria-Yosef, serta Simeon-Hana), beliau menyentil potensi konflik lintas generasi yang kerap muncul dalam komunitas hidup bakti.

“Konflik sering terjadi karena rasa tidak dihargai. Namun, ketika Yesus menjadi pusat perutusan, perbedaan itu akan diperdamaikan. Yang harus menjadi besar dan kuat adalah Yesus, bukan kepentingan pribadi atau ketersinggungan kita,” tegasnya.

Biarawati mengikuti Perayaan Ekaristi pada Pesta Yesus Dipersembahkan sekaligus Hari Hidup Bakti di Gereja Paroki Roh Kudus Mataloko. (Foto: Komsos Keuskupan Agung Ende)

Pembaruan Komitmen Injili

Suasana semakin syahdu saat memasuki ritus pembaruan kaul. Dengan lilin bernyala di tangan—simbol Terang Kristus—para imam, bruder, dan suster dari berbagai kongregasi kembali mengikrarkan ketaatan, kemurnian, dan kemiskinan di hadapan Allah dan umat.

Perayaan ini menjadi momentum penting bagi Gereja Keuskupan Agung Ende (KAE) untuk memurnikan kembali motivasi pelayanan. Melalui pesta ini, kaum religius diteguhkan untuk tidak mencari kepentingan diri, melainkan menjadi “terang” yang menuntun dunia menuju kedamaian.

P. Kasmir Nema, SVD
P. Kasmir Nema, SVD
Jurnalis dan Koordinator Umum Media dan Komunikasi Serikat Sabda Allah (SVD), berbasis di Roma.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer