VATIKAN – Veritas Indonesia – Menjelang peringatan Hari Perdamaian Sedunia yang jatuh pada 1 Januari mendatang, Takhta Suci resmi mempresentasikan pesan Paus Leo XIV di Kantor Pers Vatikan pada Kamis (18/12/2025).
Mengusung tema “Damai Sejahtera Bagi Kamu Sekalian: Menuju Perdamaian yang Tak Bersenjata dan Melucuti Senjata”, pesan ini menyoroti pentingnya perdamaian yang dimulai dari transformasi batin manusia.
Hadir dalam presentasi tersebut Kardinal Michael Czerny (Prefek Dikasteri Layanan Pembangunan Manusia Terpadu), Profesor Tommaso Greco, Pastor Pero Miličević, dan jurnalis Maria Agnese Moro.
Melawan “Libido Dominandi”
Kardinal Michael Czerny menekankan bahwa perdamaian bukanlah sebuah mimpi utopis yang tidak relevan. Ia mengingatkan bahwa musuh utama perdamaian adalah ketakutan dan keinginan untuk menguasai orang lain—atau yang disebut Santu Agustinus sebagai libido dominandi.
“Perdamaian tidak bisa dipaksakan atau diproduksi secara teknis, apalagi sekadar menjadi keseimbangan antara teror dan ketakutan,” ujar Kardinal Czerny. Beliau menjelaskan bahwa Paus mengusulkan “pelucutan senjata di hati” untuk melawan “realisme palsu” saat ini yang sering kali menganggap perang sebagai sesuatu yang tak terhindarkan.
Pesan Paus juga mengecam dominasi kepentingan ekonomi pribadi yang mendikte kebijakan negara, serta penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dalam teknologi militer.
Mengubah Paradigma: “Si Vis Pacem, Para Pacem”
Profesor Tommaso Greco, pakar filsafat hukum, mengajak masyarakat untuk mengubah pepatah kuno. Jika sebelumnya dunia mengenal “Si vis pacem, para bellum” (Jika ingin damai, bersiaplah untuk perang), kini saatnya beralih ke “Si vis pacem, para pacem” (Jika ingin damai, siapkanlah perdamaian).
“Memilih perdamaian bukan berarti mengabaikan realitas kekerasan atau meninggalkan korban ketidakadilan, melainkan menghargai segala kebaikan yang telah dibangun peradaban manusia,” tegasnya. Menurutnya, perdamaian harus menjadi cahaya yang membimbing jalan, bukan sekadar cakrawala yang tak terjangkau.
Kesaksian dari Luka Perang dan Pengampunan
Momen haru muncul saat Pastor Pero Miličević, seorang imam dari Bosnia, membagikan kesaksiannya. Pada tahun 1993, desanya diserang, menewaskan ayahnya dan kerabat lainnya, sementara keluarganya ditawan selama tujuh bulan.
“Dalam penawanan, kami harus menjaga perdamaian di hati dan tidak memikirkan balas dendam. Kemarahan tidak hilang begitu saja, tetapi bisa diolah melalui iman dan doa,” kata Pastor Pero. Ia menegaskan bahwa kebaikan memiliki kekuatan yang “melucuti senjata.”
Senada dengan itu, Maria Agnese Moro—putri dari mantan Perdana Menteri Italia Aldo Moro yang dibunuh oleh Brigade Merah—menyoroti pentingnya Keadilan Restoratif. Ia menceritakan pengalamannya bertemu dengan mantan anggota kelompok bersenjata yang terlibat dalam tragedi ayahnya.
“Kemanusiaan ditemukan kembali dalam pertemuan dengan ‘sesama yang sulit’. Kita semua dipersatukan oleh rasa sakit yang tak terlukiskan,” ungkapnya. Menurutnya, perdamaian bekerja secara diam-diam melalui dialog tanpa penghakiman.
Tanggung Jawab Bersama
Menutup konferensi, Kardinal Czerny menjawab pertanyaan mengenai relevansi pesan ini bagi mereka yang berada di garis depan konflik, seperti tentara di Ukraina. Ia menyatakan bahwa pesan Paus bertujuan untuk membangkitkan “sisi terbaik” dari setiap individu.
“Masalah perdamaian tidak akan selesai melalui basis ideologi, melainkan melalui tanggung jawab bersama setiap individu untuk melucuti permusuhan, bahkan dimulai dari kata-kata yang kita gunakan,” pungkasnya.






