web page hit counter
back to top
Friday, February 20, 2026

Takhta Suci Menolak “Board of Peace” Usulan Donald Trump, Pertegas Dukungan pada Multilateralisme PBB

VATIKAN – 20 Februari, Veritas Indonesia- Takhta Suci memutuskan tidak akan berpartisipasi dalam inisiatif yang disebut “Board of Peace”. Keputusan ini menegaskan kembali identitas diplomatik Takhta Suci yang khas serta komitmennya terhadap multilateralisme yang berpusat pada United Nations (PBB).

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kardinal Pietro Parolin dalam pertemuan bilateral dengan Pemerintah Italia yang menandai peringatan penandatanganan Lateran Pacts. Pertemuan berlangsung di Palazzo Borromeo, kantor Kedutaan Besar Italia untuk Takhta Suci, dan dihadiri oleh Presiden Italia Sergio Mattarella serta sejumlah pejabat tinggi dari kedua pihak.

Kepada para jurnalis, Kardinal Parolin menjelaskan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada “hakikat khusus” Takhta Suci, yang berbeda dari negara-negara lain.

Meski menghargai setiap upaya untuk menanggapi krisis global, ia mengakui masih ada sejumlah poin dalam konsep “Board of Peace” yang belum jelas. “Ada beberapa hal yang masih menimbulkan pertanyaan bagi kami,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya kejelasan dan keselarasan dengan tatanan internasional yang sudah ada.

PBB Harus Tetap Menjadi Poros Perdamaian Dunia

Kardinal Parolin menegaskan bahwa pengelolaan konflik internasional seharusnya tetap berada dalam kerangka PBB.

“Pada tingkat internasional, seharusnya PBB yang terutama menangani situasi-situasi krisis ini. Itulah salah satu poin yang terus kami tekankan,” katanya.

Selama beberapa dekade, Takhta Suci konsisten mendukung diplomasi multilateral yang berakar pada hukum internasional dan dialog inklusif. Vatikan cenderung mendukung lembaga-lembaga global yang diakui secara universal, ketimbang membentuk mekanisme baru yang berpotensi memecah upaya perdamaian.

Ukraina: Empat Tahun Tanpa Terobosan

Menjelang peringatan empat tahun perang di Ukraina, Kardinal Parolin menyampaikan keprihatinan mendalam atas minimnya kemajuan menuju perdamaian. Serangan terhadap infrastruktur energi di Kyiv dan kota-kota lain terus memperparah penderitaan warga sipil.

“Ada pesimisme yang cukup besar,” ungkapnya, menyoroti bahwa setelah empat tahun, terobosan nyata masih belum terlihat.

Takhta Suci berulang kali menyerukan gencatan senjata segera, pembukaan koridor kemanusiaan, pertukaran tahanan, serta dialog berkelanjutan antara pihak-pihak yang bertikai. Vatikan juga mengingatkan komunitas internasional agar mengutamakan keselamatan manusia di atas kepentingan politik.

Paus Leo XIV: Perdamaian Adalah Tugas Moral dan Rohani

Dalam berbagai kesempatan, Pope Leo XIV menegaskan bahwa perdamaian sejati tidak cukup dibangun melalui kesepakatan politik semata. Perdamaian harus berakar pada keadilan, rekonsiliasi, dan “pertobatan hati”.

Dalam pesannya pada Hari Perdamaian Sedunia, Paus Leo XIV mengingatkan bahaya logika blok militer dan perlombaan kekuatan. Ia menyerukan “diplomasi perjumpaan yang sabar”, yang menempatkan martabat setiap pribadi manusia sebagai pusat setiap perundingan.

Bapa Suci juga berulang kali menyoroti penderitaan warga sipil di wilayah konflik, terutama anak-anak, lansia, dan para pengungsi. Ia meminta agar perlindungan kemanusiaan tidak pernah dikalahkan oleh kepentingan geopolitik.

Relevansi bagi Asia

Sikap Takhta Suci ini memiliki makna khusus bagi kawasan Asia, yang menghadapi berbagai tantangan keamanan dan ketegangan geopolitik — mulai dari sengketa maritim di Laut Tiongkok Selatan, situasi di Myanmar, ketegangan di Semenanjung Korea, hingga dinamika hubungan antaragama di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Di banyak negara Asia, pembangunan perdamaian berkaitan erat dengan keadilan sosial, pemerataan ekonomi, dialog antaragama, serta penghormatan terhadap hak-hak kelompok minoritas. Para pemimpin Gereja di kawasan ini kerap menekankan pentingnya dialog yang sensitif terhadap konteks budaya serta rekonsiliasi di tingkat akar rumput.

Dengan menegaskan kembali sentralitas PBB dan multilateralisme yang berprinsip, Takhta Suci menunjukkan dukungannya terhadap sistem global yang memberi ruang setara bagi negara-negara kecil dan berkembang — termasuk banyak negara di Asia — dalam proses pembentukan perdamaian dunia.

Hubungan Erat dengan Italia

Selain isu keamanan global, pertemuan bilateral tersebut juga menegaskan hubungan baik antara Takhta Suci dan Italia. Kardinal Parolin menyampaikan apresiasi atas kerja sama dalam isu-isu yang menjadi perhatian sosial Gereja, seperti dukungan bagi keluarga, pendidikan, penyandang disabilitas, serta pembinaan narapidana. Sejumlah kelompok kerja bersama dengan Konferensi Waligereja Italia terus mengembangkan kerja sama ini.

Peringatan Lateran Pacts menjadi momentum bukan hanya untuk meneguhkan hubungan diplomatik, tetapi juga memperbarui komitmen bersama dalam memajukan martabat manusia dan keadilan sosial.

Meski tidak mengambil bagian dalam “Board of Peace”, Takhta Suci tetap menjalankan diplomasi moralnya — mendorong dialog daripada konfrontasi, kerja sama multilateral daripada fragmentasi, serta perdamaian yang adil dan inklusif, yang berakar pada martabat setiap pribadi manusia.

P. Kasmir Nema, SVD
P. Kasmir Nema, SVD
Jurnalis dan Koordinator Umum Media dan Komunikasi Serikat Sabda Allah (SVD), berbasis di Roma.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer