Kisah perjumpaan batin ini menantang kita untuk merenung: seberapa berani kita melepaskan kebanggaan intelektual dan zona nyaman ketika Tuhan memanggil kita untuk mengubah arah hidup?
Penulis: Amadea Svastika*
Dalam masa Prapaskah kita diundang untuk bertobat. Namun pertobatan dapat terjadi dengan sungguh-sungguh jika kita mempertanyakan dan berdialog dengan diri sendiri: apa yang menjadi pusat dalam hati kita? Apakah kita berani untuk melepaskan kemelekatan yang selama ini mengikat diri kita?.
Dalam tulisan ini, saya hendak berbagi pengalaman meninggalkan status yang selama ini melekat pada diri saya, yakni seorang pegiat sekaligus pengajar filsafat.
Ketika mendengar kata “filsafat”, sebagian orang langsung mengaitkannya dengan hal-hal yang dianggap bertentangan dengan Tuhan dan ajaran-Nya. Ada anggapan bahwa filsafat berbahaya karena dapat membawa seseorang pada ateisme. Tetapi yang terjadi dalam hidup saya justru sebaliknya, sebab Tuhan dapat memakai sarana apa pun untuk membawa jiwa manusia semakin dekat kepada-Nya dan kepada Gereja-Nya.
Filsafat, yang merupakan suatu ilmu atau metode untuk mendalami pemikiran dan cara berpikir manusia, dapat menjadi alat untuk mengenal diri sendiri. Melalui filsafat, kita belajar menyadari nilai-nilai yang kita pegang serta menggali apa yang sesungguhnya kita cari dalam hidup.
Sejak kecil, saya terbiasa mempertanyakan hal-hal yang mendasar: bagaimana alam semesta ini ada? Mengapa saya ada di dunia ini? Bahkan, siapakah Tuhan itu? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong saya mempelajari ilmu filsafat secara formal di universitas.
Dalam proses tersebut, saya mempelajari berbagai pandangan dan kepercayaan, ditopang oleh kerangka berpikir filosofis yang saya dalami. Di balik semua itu, saya memiliki satu tujuan besar: bersatu dengan Tuhan. Saya menyadari bahwa manusia pada akhirnya hanya dapat bersandar kepada-Nya. Dialah sumber harapan di tengah segala pergumulan hidup.
Setelah menyelesaikan studi filsafat dan bahkan menulis skripsi tentang “jalan menuju Tuhan”, apakah saya telah mencapai tujuan itu? Tentunya belum. Saya perlu mengalami berbagai tahap peristiwa kehidupan yang memperkaya pengalaman. Mulai dari bekerja di sebuah perusahaan media, menjadi asisten peneliti di universitas, hingga menjadi pengajar filsafat, baik secara daring untuk masyarakat luas maupun luring pada sekolah menengah di Jakarta sekaligus Surabaya. Hampir seluruh perjalanan karier saya tidak pernah jauh dari filsafat.
Namun perlahan saya menyadari sesuatu: bergulat di dunia filsafat memang memuaskan intelek, tetapi tidak cukup untuk memuaskan dahaga spiritual. Saya banyak berbicara tentang Tuhan dan membahas berbagai diskursus mengenai-Nya, tetapi hati kecil saya tetap gelisah. Saya belum sungguh bersatu dengan Tuhan, padahal itulah tujuan terdalam saya.
Suatu hari pada bulan Maret 2024, seorang teman bertanya, “Apakah kamu tahu bahwa di dalam Gereja Katolik, melalui Sakramen Ekaristi, kita benar-benar bersatu dengan Tuhan?”
Pertanyaan tersebut membuat saya tertegun. Inilah yang saya cari selama ini. Saya tidak perlu lagi sekadar memahami Tuhan melalui konsep dan argumentasi filosofis, melainkan mengalami persatuan nyata dengan-Nya. Saya pun kembali ke dalam pangkuan Gereja Katolik. Di sanalah saya menemukan apa yang selama ini saya rindukan. Layaknya ungkapan hati St. Agustinus dari Hippo dalam Confessions: “Hatiku gelisah sampai beristirahat dalam Engkau.”
Namun setelah itu muncul pertanyaan lain: quo vadis? Hidup hendak mengarah ke mana? Saya mulai bertanya pada diri sendiri: apakah selama ini saya menjadi pegiat filsafat demi kemuliaan Tuhan, atau demi rasa aman semata?
Saya pernah mengira panggilan hidup saya adalah mengajar filsafat. Sampai pada suatu hari dalam sebuah retret singkat mengenai pembedaan roh menurut St. Ignasius Loyola, saya menyadari tiga hal. Pertama, filsafat hanyalah sebuah sarana; Kedua, peran filsafat dalam hidup saya telah mencapai tujuannya, sebab saya sudah mendapatkan persatuan dengan Tuhan dalam sakramen ekaristi; Ketiga, panggilan hidup saya bukan untuk menetap di dunia akademik, melainkan untuk berkarya di bidang wirausaha.
Kesadaran tersebut membuat saya mengambil langkah untuk meninggalkan dunia filsafat. Banyak orang yang menyayangkan ini, dengan menganggap saya telah menyia-nyiakan ilmu dan potensi. Tetapi saya tidak menganggapnya demikian. Saya menyadari bahwa tujuan hidup bukanlah mempertahankan sebuah label, melainkan tinggal di dalam Tuhan yang menjadi tujuan itu sendiri.
Prapaskah mengajarkan saya bahwa pertobatan tidak hanya tentang meninggalkan dosa, tetapi juga berani melepaskan status yang dapat berubah menjadi kemelekatan. Dengan melepaskan dunia filsafat bukan berarti saya menolak akal budi. Sebaliknya, saya belajar menempatkannya pada tempat yang tepat.
Kini saya memahami bahwa tujuan hidup manusia bukan terletak pada profesi atau peran sosial, melainkan pada persatuan dengan Kristus dan kesetiaan pada kehendak-Nya. Prapaskah mengundang kita untuk bertanya: jika Tuhan meminta kita melepaskan sesuatu yang selama ini menjadi kebanggaan atau status kita, apakah kita siap?
Mungkin di sanalah kita menemukan tujuan hidup yang sejati. Bukan dalam apa yang kita lakukan, melainkan dalam apa atau siapa yang menjadi pusat hati kita.
*Sarjana filsafat dari Universitas Indonesia. Penulis buku “Meragu Untuk Beriman: Refleksi Filsafat Ketuhanan Agustinus”.







