VATIKAN, Veritas Indonesia – Di hadapan ribuan peziarah dari seluruh dunia yang memadati Lapangan Santo Petrus, Paus menyampaikan pesan Natal Urbi et Orbi 2025 dari loggia sentral Basilika Santo Petrus, Kamis (25/12/2025).
Dalam pesan yang sangat menyentuh, Bapa Suci memberikan perhatian khusus pada bangsa-bangsa di Asia yang ia sebut sebagai wilayah yang “teruji” oleh berbagai krisis dan tantangan alam.
Apa Itu Berkat “Urbi et Orbi”?
Istilah Urbi et Orbi secara harfiah berarti “untuk Kota [Roma] dan Dunia.” Ini adalah bentuk berkat paling khidmat dalam Gereja Katolik yang hanya diberikan pada kesempatan istimewa seperti Natal, Paskah, dan terpilihnya Paus baru.
Lebih dari sekadar berkat, pesan ini merupakan pidato utama kepausan kepada komunitas global yang menawarkan perspektif Gereja mengenai krisis kemanusiaan dan harapan spiritual dunia.
Cahaya untuk Myanmar dan Asia Tenggara
Menandai hari-hari terakhir Tahun Suci (Yubileum) 2025, Bapa Suci menekankan bahwa tanggung jawab adalah “jalan pasti menuju perdamaian.”
Secara khusus, beliau mempersembahkan doa yang sungguh-sungguh untuk Myanmar, negara yang masih berjuang dengan konflik internal berkepanjangan. Paus memohon kepada “Raja Damai” agar menyinari negara tersebut dengan cahaya rekonsiliasi.
“Semoga cahaya masa depan rekonsiliasi memulihkan harapan bagi generasi muda,” doa Paus, merujuk terutama pada mereka yang hidup tanpa tempat tinggal atau rasa aman.
Selain itu, Paus juga menyinggung diplomasi regional dengan menyatakan harapan bagi pemulihan “persahabatan kuno” antara Thailand dan Kamboja, serta mendorong kedua negara tersebut untuk terus bekerja dalam semangat kerja sama.
Solidaritas untuk Asia Selatan dan Oseania
Bapa Suci juga menaruh perhatian pada kerentanan geografis benua Asia. Beliau mengingat masyarakat di Asia Selatan dan Oseania yang telah “diuji berat” oleh bencana alam dahsyat baru-baru ini.
Dalam seruannya, Paus mengajak komunitas internasional untuk memperbarui komitmen bersama dalam membantu mereka yang menderita. Beliau menegaskan bahwa Allah tidak tinggal diam terhadap mereka yang kehilangan rumah dan mata pencaharian akibat dampak perubahan iklim dan bencana.
“Wildpeace” dan Mereka yang Tersisih
Merefleksikan kelahiran Kristus di palungan yang hina, Paus mengingatkan umat beriman bahwa Yesus mengidentifikasi diri-Nya dengan mereka yang “dibuang dan dikucilkan,” termasuk:
Para pengungsi dan migran yang melintasi benua.
Pekerja dengan upah rendah dan kaum muda yang menganggur.
Korban konflik di Timur Tengah, khususnya di Gaza dan Yaman.
Paus berbicara tentang konsep “wildpeace”—bukan sekadar gencatan senjata sementara, melainkan perdamaian mendalam yang tumbuh “seperti bunga liar” ketika hati bebas dari kebencian.
Berkat Multibahasa dan Harapan bagi Asia
Menutup Tahun Yubileum 2025, Paus mengingatkan dunia bahwa meskipun Pintu Suci akan segera ditutup, “Pintu” Kristus tetap terbuka bagi semua orang.
Dalam tampilan universalitas Gereja, Bapa Suci menutup pesannya dengan mengucapkan Selamat Natal dalam berbagai bahasa.
Sebagai bentuk pengakuan atas pertumbuhan misi Gereja di Timur, beliau memberikan salam khusus dalam bahasa Mandarin, “Sheng Dan Kuai Le,” yang disambut sorak-sorai peziarah Asia di lapangan.
“Kehadiran-Nya bukan sekadar penampakan sekilas,” pungkas Bapa Suci. “Di dalam Dia, setiap luka disembuhkan dan setiap hati menemukan istirahat dan kedamaian.”







