web page hit counter
back to top
Tuesday, January 6, 2026

Pesan Perdamaian 2026: Paus Leo XIV Ingatkan Bahaya Politisasi Agama

VATIKAN – Veritas Indonesia – Dalam pesan yang menggugah hati menjelang Hari Perdamaian Sedunia ke-59 pada 1 Januari 2026, Bapa Suci Paus Leo XIV menyerukan “perdamaian yang tanpa senjata dan melucuti senjata” (unarmed and disarming peace). Beliau menantang para pemimpin dunia dan umat beriman untuk menolak logika perang dan apa yang disebutnya sebagai “tipu daya kekerasan.”

Di tengah dunia yang masih bergulat dengan apa yang pernah disebut oleh pendahulunya, Paus Fransiskus, sebagai “perang dunia ketiga yang berkecamuk sepotong-sepotong,” pesan Paus Leo XIV yang bertajuk “Menuju perdamaian yang ‘tanpa senjata dan melucuti senjata'” hadir sebagai seruan spiritual sekaligus kritik tajam terhadap tren geopolitik saat ini.

Bapa Suci menegaskan bahwa perdamaian sejati bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan kehadiran transformatif yang harus dimulai dari hati manusia dan meluas ke kebijakan global.

Biaya Mahal dari Ketakutan

Bapa Suci memaparkan data statistik yang memprihatinkan mengenai mesin perang global. Menyoroti tren yang mengkhawatirkan, Paus mencatat bahwa belanja militer global melonjak sebesar 9,4% pada tahun 2024, mencapai total $2.718 miliar (sekitar 2,5% dari PDB global).

Paus mengkritik ketergantungan pada “kekuatan penangkalan” (deterrent power), khususnya penangkalan nuklir, dan menggambarkannya sebagai hubungan antarnegara yang dibangun bukan atas dasar kepercayaan, melainkan di atas “ketakutan dan dominasi kekuatan.”

Beliau juga memperingatkan bahwa integrasi Kecerdasan Buatan (AI) ke dalam sistem militer memperburuk tragedi konflik, yang memungkinkan para pemimpin untuk “lari dari tanggung jawab” dengan mendelegasikan keputusan hidup dan mati kepada mesin.

Pesan Penting bagi Indonesia: Agama dan Politik

Bagi Gereja di Indonesia dan masyarakat luas, pesan Paus mengandung peringatan yang sangat relevan mengenai persinggungan antara iman dan politik. Dalam bagian yang berbicara langsung pada tantangan masyarakat majemuk, Paus Leo XIV memperingatkan adanya godaan untuk “menjadikan pikiran dan kata-kata sebagai senjata.”

“Sayangnya, semakin umum terjadi penarikan bahasa iman ke dalam pertarungan politik, untuk memberkati nasionalisme, dan untuk membenarkan kekerasan serta perjuangan bersenjata atas nama agama,” tulis Paus.

Peringatan Bapa Suci ini menohok realitas sejarah politik modern Indonesia. Publik tentu masih mengingat polarisasi tajam dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pemilu Presiden 2019, di mana ayat-ayat suci digunakan untuk menolak pemimpin yang berbeda keyakinan, bahkan hingga munculnya fenomena penolakan menyalatkan jenazah karena pilihan politik yang berbeda. Praktik ini adalah contoh nyata dari apa yang disebut Paus sebagai “penarikan bahasa iman ke dalam pertarungan politik.”

Lebih lanjut, laporan dari lembaga pemantau seperti Setara Institute dan Wahid Foundation secara konsisten menunjukkan bahwa politisasi agama sering kali meningkat menjelang tahun-tahun politik. Isu pendirian rumah ibadah, misalnya, kerap dijadikan komoditas politik oleh calon kepala daerah untuk mendulang suara mayoritas, yang berujung pada penyegelan atau penolakan izin gereja di berbagai daerah meskipun syarat administratif telah terpenuhi.

Seruan Paus ini sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika dan upaya untuk memulihkan luka akibat politik identitas. Paus menegaskan bahwa orang beriman harus “secara aktif menolak” bentuk-bentuk penistaan ini—yakni memanipulasi Tuhan untuk kekuasaan—melalui kesaksian hidup mereka. Beliau memperjuangkan dialog ekumenis dan antaragama bukan sekadar sebagai formalitas, melainkan sebagai “bahasa perjumpaan” yang mutlak diperlukan untuk meredakan permusuhan.

Pelucutan Senjata Menyeluruh

Mengacu pada warisan Santo Yohanes XXIII dan ensiklik Pacem in Terris, Paus Leo XIV mengadvokasi “pelucutan senjata yang menyeluruh” (integral disarmament). Beliau berargumen bahwa penghapusan senjata fisik mustahil dilakukan tanpa adanya “pelucutan senjata di dalam hati.”

Bapa Suci mendesak adanya perubahan dalam dunia pendidikan. Beliau menyayangkan bahwa alih-alih menumbuhkan “budaya ingatan” mengenai kengerian abad ke-20, banyak program pendidikan dan kampanye media modern justru menyebarkan “persepsi ancaman” dan konsep pertahanan yang hanya berbasis pada senjata.

Harapan dalam “Yubileum Pengharapan”

Menutup pesannya, Paus menunjuk pada Yubileum Pengharapan yang sedang berlangsung sebagai katalisator transformasi ini. Beliau mengundang umat beriman untuk memandang perdamaian bukan sebagai utopia yang jauh, melainkan sebagai praktik sehari-hari—sebuah “revolusi senyap.”

“Damai adalah hembusan dari keabadian: sementara kepada kejahatan kita berteriak ‘Cukup’, kepada damai kita berbisik ‘Selamanya’,” ungkap Paus.

Bagi umat Katolik Indonesia, pesan ini adalah panggilan untuk bertindak: menjadi “penjaga di malam hari,” menolak fatalisme bahwa konflik tidak bisa dihindari, dan bekerja di dalam komunitas lokal untuk membangun “perdamaian yang melucuti kekerasan,” yang mampu menjembatani perbedaan suku dan agama.

Akses naskah lengkap pesan Bapa Suci Paus Leo XIV melalui tautan resmi Vatikan berikut ini: https://www.vatican.va/content/leo-xiv/en/messages/peace/documents/20251208-messaggio-pace.html

P. Kasmir Nema, SVD
P. Kasmir Nema, SVD
Jurnalis dan Koordinator Umum Media dan Komunikasi Serikat Sabda Allah (SVD), berbasis di Roma.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer