Penulis: RD. Benny Denar*
Ruteng, 24 Desember 2025-Veritas Indonesia. Natal, dalam maknanya yang terdalam, lebih merupakan perayaan kosmos, bukan perayaan manusiawi semata. Karya penebusan Kristus yang lahir dalam Natal tidak semata-mata untuk manusia, tetapi seluruh realitas alam ciptaan. Dalam kerangka ini, paradigma yang memandang Natal hanya sebagai perayaan religius personal dan antroposentris, seakan-akan Tuhan lahir hanya demi menyelamatkan dan mendamaikan batin manusia, merupakan bentuk reduksi terhadap esensi Natal.
Natal justru merupakan momentum rekonsiliasi kosmik, di mana Allah secara sungguh-sungguh masuk dalam sejarah dunia, dalam duka dan kecemasan manusia, dan dalam seluruh struktur material kosmos. Dengan demikian, Natal menjadi saat penting bagi umat beriman untuk mengembalikan komitmen keterlibatan dalam proses penyembuhan alam ciptaan, bukan sebagai penguasa yang eksploitatif, tetapi justru sebagai rekan kerja Allah dalam rekonsiliasi ekologis.
Inkarnasi Kosmik
Teolog Christopher C. Knight dalam artikelnya berjudul Cosmology and Incarnation (2018) menunjukkan satu landasan teologis penting perihal Natal atau inkarnasi sebagai momen rekonsiliasi kosmologis. Dia menegaskan bahwa alam ciptaan bukanlah ruang netral atau sekadar latar belakang dari keselamatan, tetapi justru sebagai medan kehadiran Allah sejak awal mula. Menurut Knight, inkarnasi Allah dalam diri Yesus Kristus, tidak dapat dibaca sebagai kedatangan yang baru dan asing bagi kosmos, tetapi lebih sebagai pemenuhan dari dinamika penciptaan. Di sini Knight hendak mengatakan bahwa Natal bukanlah momen di mana Allah turun ke dunia yang asing bagi-Nya, melainkan suatu peristiwa penyingkapan secara penuh apa yang sejak semua dikehendaki Tuhan bagi dunia ini.
Dalam konteks itulah, Knight menegasi paradigma teologis yang memperlihatkan seolah-olah Allah hanya datang sesaat dan sesekali pada momen-momen luar biasa untuk keselamatan manusia dan ciptaan. Ia justru menampilkan apa yang dikatakannya sebagai naturalisme teistik, yakni paradigma teologis yang memperlihatkan bahwa Allah sudah ada dan terus bertindak dalam seluruh proses alamiah ciptaan. Tuhan tidak hadir dari luar dan datang dari kejauhan. Ia adalah Imanuel (Mat. 1:23), sudah dan selalu hadir dalam seluruh struktur terdalam alam ciptaan ini.
Inilah yang dalam gagasan teologis modern disebut sebagai “inkarnasi mendalam” (deep inkarnation). Konsep ini hendak menegaskan bahwa Allah yang menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus sungguh masuk ke dalam jaringan terdalam eksistensi biologis dan sistem alam semesta (Nesteruk, 2016). Seperti dikatakan Injil Yohanes, Yesus Kristus memang “bukan dari dunia ini” (Yoh. 17:17), yaitu dunia yang berdosa karena manusia, namun Dia sepenuhnya bersatu dengan dunia material tempat Dia “datang kepada milik kepunyaan-Nya” (Yoh. 1:11). Di sini, Yang Tak Terbatas hadir secara penuh di dalam yang terbatas, Yang Kekal memasuki ruang dan waktu, tanpa kehilangan transendensi-Nya.
Merunut gagasan teologis tersebut, Natal lebih dipahami sebagai penyingkapan kehadiran Allah yang sudah dan terus menyertai manusia serta alam ciptaan ini sejak awal mula penciptaan. Dia hadir dan menyingkapkan diri-Nya dengan memilih cara-cara yang rapuh, material dan historis. Dengan demikian, Natal menolak segala bentuk spiritualitas yang memusuhi dan mengeksploitasi tubuh dan alam ciptaan. Spiritualitas yang memisahkan alam ciptaan dari kesucian Allah. Seolah-olah dunia ini bukan tempat kebergiatan Allah, sehingga pantas dirusakkan dan dieksploitasi demi kepentingan manusia.
Rekonsiliasi Ekologis
Rekonsiliasi ekologis merupakan implikasi otentik dari iman akan inkarnasi yang dirayakan dalam Natal. Sebab pemulihan dan keselamatan yang dirayakan dalam Natal tidak hanya berdimensi antropologis, tetapi juga ekologis bahkan kosmologis. Nabi Yesaya melukiskan hal tersebut dengan sangat bagus ketika mengatakan: “Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorai dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorai …” (Yes. 35:1-2). Sang Nabi hendak menegaskan bahwa bukan saja kita manusia yang merayakan dan menjadi subjek penebusan Ilahi, tetapi unsur-unsur alam pun merayakan dan menjadi subjek penebusan Allah yang hadir dalam peristiwa Natal.
Dalam kaca mata inkarnasi kosmik, krisis ekologis yang berujung bencana ekologis yang terjadi akhir-akhir ini tak dapat digolongkan sekadar masalah teknis, ekonomi dan sosial semata, tetapi lebih merupakan persoalan iman dan spiritualitas. Krisis ekologis yang mengancam kehidupan, terutama dari mereka yang miskin, memperlihatkan kuatnya paradigma hidup yang sekularistik, di mana kesucian Tuhan dipisahkan dari tanggung jawab akan keutuhan alam ciptaan. Tentu saja paradigma seperti ini bertentangan dengan esensi Natal, jika kita betul mengimani Kristus yang terinkarnasi dalam realitas alam semesta.
Merayakan Natal dalam kondisi aktual di mana terjadi krisis dan bencana ekologis saat ini berarti panggilan untuk menemukan jalan pemulihan menuju tobat ekologis. Paus Fransiskus memaknai tobat ekologis tersebut sebagai upaya memulihkan kembali harmoni relasionalitas dengan alam ciptaan yang dalam Natal sungguh dikerjakan Kristus yang terinkarnasi (bdk. LS. 216-221). Di tengah keterlukaan dunia akibat keserakahan dan globalisasi ketidakpedulian, Natal menggemakan panggilan untuk menjadi rekan kerja Allah dalam memulihkan dan memuliakan alam ciptaan.
*Dosen STIPAS St. Sirilus Ruteng, Nusa Tenggara Timur (NTT).






