Sering kali, apa yang kita anggap sebagai anugerah terbesar bisa menjadi awal dari kehancuran, sementara musibah yang paling kita takuti justru membuka jalan menuju hidup yang paling bermakna.
Oleh: Albert Santoso
Apa yang terlintas di benak Anda ketika membayangkan mendapat hadiah lotre bernilai fantastis? Sebagian besar dari kita tentu akan menganggapnya sebagai rezeki nomplok atau keberuntungan yang tak terhingga. Sebaliknya, bayangkan jika Anda mengalami musibah parah yang mengubah fisik Anda secara permanen; label “sial” atau “kutukan” pasti langsung tersemat di pikiran. Namun, apakah tolok ukur pikiran kita selalu sejalan dengan kenyataan sesungguhnya?
Mari kita melihat kisah nyata Callie Rogers. Pada tahun 2003, ia dinobatkan oleh berbagai media di Inggris sebagai remaja paling beruntung karena memenangkan undian lotre sebesar £1,87 juta (yang jika disesuaikan dengan inflasi saat ini setara dengan puluhan miliar rupiah). Sejak saat itu, gaya hidupnya berubah drastis. Ia menghamburkan uangnya untuk membeli rumah mewah, deretan pakaian perancang busana, dan membiayai operasi kecantikan. Sayangnya, gelimang harta justru membawanya pada gaya hidup malam yang merusak.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan mewahnya, rentetan kekecewaan justru menghampiri. Hubungan asmaranya berulang kali kandas dan membuahkan patah hati yang mendalam. Alih-alih bahagia, Callie terjerumus dalam lubang depresi. Ia melarikan diri pada penyalahgunaan narkotika, kerap terlibat perkelahian di kelab malam, hingga akhirnya harus berhadapan dengan hukum. Sisa uangnya pun terkuras habis hanya untuk biaya pengacara. Pada titik terendahnya, tumpukan uang itu gagal membeli sepeser pun kedamaian.
Belasan tahun kemudian, setelah terbebas dari berbagai masalah hukumnya, Callie hadir dalam sebuah wawancara televisi. Ia membuat sebuah pengakuan yang mengejutkan. Ketika ditanya apa yang ingin ia ubah jika waktu bisa diputar kembali, ia menjawab tegas: “Saya berharap saya tidak pernah memenangkan lotre itu, karena uang itulah yang menghancurkan hidup saya.”
Sungguh sebuah ironi jika kita membandingkan kisah Callie dengan kehidupan Nick Vujicic. Terlahir dengan sindrom tetra-amelia yang membuatnya hidup tanpa lengan dan kaki sejak bayi, Nick pada awalnya memandang kondisi fisiknya sebagai sebuah kemalangan yang tidak adil. Namun, melalui pergulatan batin yang panjang, ia justru menemukan tujuan hidup yang luar biasa. Keterbatasan fisiknya diubah menjadi kekuatan untuk memotivasi jutaan orang di seluruh dunia agar tidak menyerah.
Nick kini hidup penuh syukur. Ia menyadari sebuah paradoks yang indah: jika saja ia dilahirkan dengan fisik yang “normal” seperti orang pada umumnya, ia mungkin tidak akan pernah memiliki dampak dan daya gugah sebesar ini bagi kemanusiaan.
Dua kisah ini memberikan tamparan keras bagi pemahaman dangkal kita. Segala peristiwa yang terjadi di dunia ini sering kali memiliki realitas ganda yang tak kasat mata. Kita tidak bisa bersandar semata pada penilaian sendiri, karena persepsi kita sangat dibatasi oleh apa yang hanya bisa dilihat, didengar, dan dirasakan sesaat.
Di sinilah kita menyadari pentingnya memohon hikmat kepada Sang Pencipta. Dengan hikmat yang benar, kita dapat menilai secara jernih dan terukur mengenai segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita. Hanya dengan cara itulah, kita mampu merespons setiap kejadian, baik yang tampak seperti berkat maupun musibah dengan tindakan yang tepat, dan pada akhirnya, menemukan kunci kehidupan yang penuh syukur.
(Referensi: “Iman yang BESAR sanggup PINDAHIN GUNUNG? Ajaran Yesus yang aneh..” – Andrey Thunggal YouTube Channel)








