Seringkali kita mengira bahwa perubahan diri menuntut upaya keras agar layak di hadapan Tuhan, padahal transformasi sejati justru bermula dari kesadaran bahwa kita telah dicintai seutuhnya. Melalui refleksi menyambut Masa Prapaskah berikut ini, kita diajak memaknai kembali arti pertobatan bukan sekadar tuntutan untuk menjadi sempurna, melainkan sebuah undangan hangat untuk berani “pulang” ke dalam pelukan kasih-Nya dengan apa adanya.
Penulis: Dicky Dwijanto*
Beberapa waktu lalu beredar sebuah film nasional yang banyak mendapat perhatian: Sore. Mengangkat premis yang absurd namun reflektif, film ini berkisah tentang seorang wanita yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan seorang pria dan mengaku sebagai istrinya dari masa depan. Tujuannya satu: mengubah pria itu menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan siklus waktu yang terbatas dan berulang, upaya sang wanita untuk mengubah kekasihnya itu sia-sia. Titik balik justru terjadi ketika ia berhenti memaksakan perubahan dan hanya menyatakan satu hal sederhana: ia mencintai sang pria apa adanya.
Kisah yang absurd ini justru menyimpan kebenaran yang sangat manusiawi: manusia lebih mudah berubah ketika ia terlebih dahulu merasa dikasihi sepenuhnya.
Saya teringat akan kisah Simon Petrus yang menyangkal Yesus hingga 3 kali. Peristiwa itu terjadi secara presisi hingga Petrus pun menangis dengan amat sedih ketika ayam berkokok. Ia sadar bahwa Ia telah mengecewakan Gurunya pada saat yang paling genting.
Bukankah Yesus sudah tahu Petrus akan jatuh? Jika manusia cenderung menilai berdasarkan rekam jejak, statistik kegagalan dan pola kelemahan, tidaklah demikian dengan Sang Penebus. Yesus melihat melampaui kegagalan sesaat. Ia melihat potensi kasih yang tersembunyi, bahkan ketika pemiliknya sendiri belum menyadarinya. Setelah kebangkitan-Nya, Petrus – yang pernah menyangkal-Nya – justru dipulihkan dan dipercaya untuk menggembalakan domba-domba-Nya.
Seringkali kita gagal bertobat atau berubah menjadi lebih baik. Kita mengajukan berbagai alasan: kurang motivasi, kurang disiplin, beban hidup terlalu berat atau lingkungan yang tidak mendukung. Namun pernahkah kita mempertimbangkan kemungkinan lain? Bahwa akar kesulitan kita bukan semata-mata lemahnya kemauan, melainkan kaburnya kesadaran akan identitas kita sebagai Anak Allah?
Seperti dalam perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15:11-32), kita kerap memilih ego dan ilusi kebebasan, rela menjauh dari rumah demi kenikmatan sesaat. Namun status sebagai anak sebenarnya tidak pernah dicabut, yang berubah hanyalah jarak relasi. Ketika kita berani “pulang”, kita mendapati tangan yang tetap terbuka bukan dengan daftar tuntutan, melainkan dengan pelukan.
Pertobatan sejati tidak pernah semata-mata hasil upaya manusia. Ia adalah buah dari relasi yang jujur, intens dan mendalam dengan Tuhan. Maka langkah pertama bukanlah memperbaiki diri sampai layak datang kepada-Nya, melainkan datang apa adanya, dengan segala cacat dan cela.
Dan di sinilah Masa Prapaskah menemukan maknanya yang terdalam. Prapaskah bukan sekedar musim disiplin rohani, pengurangan konsumsi, atau daftar resolusi moral. Ia adalah undangan untuk pulang. Puasa, pantang dan doa bukanlah alat untuk “membeli” kasih Allah, melainkan cara untuk menyingkirkan kebisingan yang menghalangi kita menyadari bahwa kita telah lebih dulu dikasihi.
Dalam perjalanan menuju Paskah, kita diajak meneladan Petrus: berani menatap kegagalan sendiri, menangis bila perlu, tetapi tidak berhenti di sana. Kita melangkah kembali kepada Dia yang telah lebih dahulu memanggil kita sahabat dan anak. Karena pada akhirnya, perubahan yang sejati lahir bukan dari rasa takut dihukum, melainkan dari keberanian untuk percaya bahwa kita dicintai, bahkan sebelum kita menjadi lebih baik.
*Dicky Dwijanto adalah seorang IT Developer yang saat ini berdomisili di ibu kota Jakarta. Di sela-sela kesibukannya berkarya di dunia teknologi informasi, ia juga aktif menuangkan pemikirannya sebagai seorang penulis. Dicky merupakan umat yang tergabung dalam Paroki Tomang (Gereja Maria Bunda Karmel).Â








