web page hit counter
back to top
Saturday, February 28, 2026

Mengapa Kita Perlu Belajar Menjadi “Batu” yang Dibuang Tukang Bangunan?

Di tengah riuhnya dunia yang menuntut kita untuk selalu bersuara dan membalas komentar, memilih untuk “menjadi batu” yang diam dan teguh mungkin adalah bentuk kedewasaan spiritual tertinggi yang kita butuhkan saat ini.


Penulis: Ermeisi Er Unja*

Di dunia yang penuh dengan komentar, opini, dan reaksi yang beraneka ragam, menjadi seperti batu mungkin terasa aneh. Kata “batu” sering kali dilekatkan dengan stigma negatif melalui makian sehari-hari: “Dasar kepala batu!” atau “Sudah berkali-kali dinasihati, tetap saja batu!” Seolah-olah, menjadi batu identik dengan menutup hati, keras kepala, dan tak mau berubah. Namun, benarkah menjadi batu selalu bermakna buruk?

Mari sejenak kita perhatikan sebuah batu di pinggir jalan. Ia tidak pernah bersuara. Ia tidak membela diri ketika dipindahkan, tidak mengeluh saat terinjak, dan bahkan tidak berteriak saat dilempar. Ia hanya diam, teguh, dan konsisten menjadi dirinya sendiri. Terpapar terik matahari dan hujan, diselimuti debu, serta diterpa angin, ia tidak pernah kehilangan esensinya.

Dalam hidup, ada kalanya kita diliputi hasrat yang menggebu untuk menjelaskan diri kepada semua orang di sekitar kita. Kita ingin membalas setiap tudingan, meluruskan setiap kesalahpahaman, dan memenangkan setiap perdebatan. Kita merasa harus selalu bersuara agar dianggap benar. Padahal, realitasnya tidak semua hal membutuhkan jawaban. Tidak semua kritik layak ditanggapi, dan tidak semua kesalahpahaman perlu segera diluruskan pada detik itu juga.

Kadang kala, diam adalah sebuah kekuatan. Tidak bereaksi adalah bentuk tertinggi dari kendali diri. Menjadi pengamat yang tenang justru menunjukkan kedewasaan jiwa yang mendalam. Menjadi batu bukan berarti keras hati, melainkan teguh pada nilai yang diyakini. Bukan berarti apatis, melainkan bijak mengetahui kapan waktu untuk berbicara dan kapan saatnya menahan diri. Di tengah dunia yang gemar berteriak, mungkin Tuhan sedang mengajari kita untuk menjadi kuat dalam diam: tidak mudah goyah oleh kata-kata, dan tidak mudah retak oleh penilaian orang lain.

Pengamat yang baik akan belajar sebelum berbicara, mendengar sebelum menilai, dan merenung sebelum bertindak. Sikap seperti itu tidak lahir dari hati yang lemah, melainkan dari jiwa yang matang. Di situlah filosofi batu kembali relevan. Terkadang, Tuhan memosisikan kita dalam keadaan “diam” bukan untuk menjadi pasif, melainkan agar kita menjadi lebih peka.

Masa Pra-Paskah adalah musim yang sunyi. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengurangi kebisingan, meredam reaksi yang berlebihan, membatasi komentar yang tidak perlu, dan mulai memperbanyak refleksi.

Dalam Mazmur 118:22 tertulis, “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Ayat ini menyiratkan sebuah pesan yang luar biasa. Batu yang dipilih menjadi batu penjuru (fondasi utama) bukanlah batu yang paling berisik. Bukan pula batu yang di awal terlihat paling berguna. Ia mungkin sempat dibuang dan diabaikan, namun pada akhirnya terbukti sebagai batu yang paling tepat dan solid untuk menopang seluruh bangunan.

Mungkin, saat ini Tuhan sedang mengajar kita untuk tidak selalu menjadi pusat perhatian. Kita tidak dituntut untuk selalu menjadi yang paling vokal, melainkan diundang untuk menjadi pribadi yang kokoh dalam karakter, iman, dan kesabaran. Ketika seorang tukang bangunan melempar batu yang dianggapnya tidak layak, batu itu tidak langsung hancur menjadi debu; ia tetaplah sebuah batu. Ini mengajarkan kita bahwa “menjadi batu” berarti memiliki stabilitas rohani, tidak mudah tersulut emosi dan tidak mudah terpancing oleh provokasi duniawi.

Jika hari ini kamu merasa seperti batu yang dilempar, disingkirkan, atau disalahpahami, janganlah berkecil hati. Kamu tidak sendirian. Kamu justru sedang berjalan menyusuri jejak Kristus. 1 Petrus 2:4–5 mengingatkan kita, “Datanglah kepada-Nya, batu yang hidup, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormati di hadirat Allah.” Yesus sendiri adalah Sang Batu yang dibuang. Ia ditolak, disalahpahami, dilemparkan ke luar kota, hingga akhirnya disalibkan. Namun, justru melalui rentetan penolakan itulah karya keselamatan digenapi. Seperti yang tertulis dalam Mazmur 62:2, “Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku… aku tidak akan goyah.” Kita mampu menjadi batu yang teguh karena kita memijakkan kaki di atas Gunung Batu yang sejati.

Di masa ini, mungkin Tuhan tidak meminta kita untuk menjadi “api” yang menyala-nyala dan terlihat oleh semua orang. Mungkin, Ia sedang membentuk kita menjadi “batu”. Teguh, tenang, mau mengamati, dan terus percaya. Sebab, pada waktu-Nya kelak, batu yang diam itu akan ditempatkan pada posisi yang sangat menentukan.

Kita akan mengerti bahwa setiap lemparan, setiap penolakan, dan setiap musim sunyi, tidak pernah diizinkan terjadi untuk menghancurkan kita. Semua itu adalah proses pembentukan agar kita siap menjadi batu penjuru dalam rancangan-Nya yang mulia. Sebab, hidup menjadi jauh lebih damai bukan ketika kita menuntut untuk selalu dimengerti, melainkan ketika kita percaya sepenuhnya bahwa tangan Tuhan sedang menempatkan kita tepat di tempat yang Ia rencanakan.


*Kepala Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Kesehatan Suaka Insan, Kepala Komite Etik Penelitian Kesehatan dan Dosen Keperawatan Medikal Bedah di Institut Kesehatan Suaka Insan. 

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia dan Dosen Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan. Sebagai profesional yang mengantongi sertifikasi Penulis Non Fiksi dari BNSP, ia juga aktif mengelola publikasi ilmiah sebagai Managing Editor untuk Jurnal Keperawatan Suaka Insan (SINTA 3) dan Jurnal Suaka Insan Mengabdi (SINTA 5).

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer