Sering kali kita menganggap keterbatasan sebagai penghalang kebahagiaan, padahal di balik celah kekurangan itulah cahaya makna sering kali menyelinap masuk.
Oleh: Albert Santoso
Bagi sebagian besar orang, judul di atas mungkin terdengar kontradiktif. Kita terbiasa memandang kekurangan sebagai masalah, musibah, atau noda yang harus ditutupi rapat-rapat dari pandangan dunia. Saya tidak menyangkal hal itu, karena secara manusiawi, saya pun sering merasakan kegelisahan yang sama saat berhadapan dengan keterbatasan.
Namun, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu memiliki dua sisi, layaknya koin mata uang. Ternyata, ada dimensi positif yang layak kita syukuri dari kekurangan yang kita miliki. Jika Anda masih ragu, mari kita renungkan beberapa fragmen kehidupan berikut ini.
Baru-baru ini, saya tidak sengaja mendengar percakapan dua perempuan yang bertemu di jalan. Mereka tampak seperti teman lama yang sudah bertahun-tahun kehilangan kontak. Salah satu dari mereka bertanya mengapa temannya itu lebih memilih berjalan kaki daripada bersepeda, padahal jarak rumahnya cukup jauh. Dengan senyum malu, perempuan itu mengaku bahwa ia memang tidak bisa mengendarai sepeda.
Respons temannya justru mengejutkan: “Bukankah itu bagus? Dengan berjalan kaki, jantung dan tubuhmu justru menjadi jauh lebih sehat”. Secara medis, hal ini benar; rutinitas berjalan kaki adalah investasi kesehatan yang luar biasa bagi tubuh. Di sini, ketidakmampuan bersepeda justru berubah menjadi jalan menuju kebugaran.
Refleksi lain datang dari Henny Kristianus, seorang pendeta yang dikenal melalui aktivitas kemanusiaannya. Dalam sebuah pesan yang dibagikannya, ia mengenang masa-masa sulit saat ia, suami, dan anaknya harus tidur berhimpitan di sebuah kamar sempit. Kala itu, keterbatasan ekonomi terasa sangat menyesakkan.
Namun, ironisnya, setelah kondisi ekonominya membaik dan ia mampu memiliki rumah mewah, Henny justru merindukan masa-masa sulit tersebut. Baginya, ruang yang sempit dahulu justru menciptakan kehangatan dan kedekatan emosional yang intens dengan keluarganya, sebuah kemewahan batin yang justru terasa memudar saat sekat-sekat dinding rumah yang besar mulai memisahkan jarak fisik mereka.
Apa yang bisa kita petik dari dua fragmen di atas?. Manusia cenderung terjebak dalam sudut pandang negatif saat realitas tidak sesuai dengan ekspektasi atau kenyamanan pribadi. Kita sering kali gagal menelaah lebih dalam tentang hikmah yang tersembunyi di balik sebuah kejadian. Sering kali, kita baru menyadari nilai sebuah momen justru setelah momen itu hilang dari genggaman.
Bersyukur di tengah kekurangan memang bukan perkara mudah, namun percayalah bahwa Sang Pencipta selalu memberikan yang terbaik bagi setiap makhluk-Nya. Kita hanya membutuhkan waktu sejenak untuk berhenti sejenak, merenung, dan menemukan pesan tersirat di balik setiap episode hidup. Sebab, di dalam kekurangan, sering kali tersimpan berkat yang sedang menunggu untuk ditemukan.
Tetaplah Berpikir Positif.








