Kita sering mengira Tuhan sedang menunggu kita di dalam gereja atau di balik heningnya doa. Namun, pesan Paskah tahun ini dari Mgr. Maksimus Regus justru memutarbalikkan logika tersebut: Kristus tidak sedang menunggu kita, Dia justru sudah berlari jauh di depan, menunggu kita di jalan-jalan berdebu Labuan Bajo, di pelabuhan, hingga di meja makan rumah kita.
LABUAN BAJO-Veritas Indonesia. Pernahkah Anda merasa bahwa Tuhan seolah-olah sedang menunggu kita di suatu tempat yang jauh? Ternyata, pesan Paskah tahun ini membantah anggapan tersebut. Melalui Surat Gembala Prapaskah serta Paskah 2026, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, membawa sebuah pesan yang sangat menyentuh bahwa Kristus tidak sekadar menunggu, melainkan Dia justru berjalan di depan kita.
Mengutip Kitab Matius 28:7, Mgr. Maksimus mengingatkan kita pada momen pagi Paskah yang mengejutkan. Saat para perempuan mendatangi makam, malaikat berkata bahwa Ia tidak ada di situ karena Ia telah bangkit dan sedang mendahului kita ke Galilea.
Namun, apa sebenarnya makna “Galilea” bagi kita yang hidup di tahun 2026 ini, khususnya di tengah hiruk-pikuk Labuan Bajo?
Galilea Adalah “Rumah” Kita
Bagi para murid, Galilea adalah tempat mereka bekerja, memeras keringat, serta membangun mimpi. Maka dari itu, Paskah tahun ini bukan sekadar perayaan liturgis di dalam gedung gereja, melainkan sebuah ajakan untuk kembali ke kehidupan nyata. Mgr. Maksimus merangkum makna “Galilea” ke dalam sebuah narasi kehidupan yang utuh. Dimulai dari ruang batin yang personal, di mana Paskah menjadi kekuatan untuk bangkit dari luka serta kegagalan demi menemukan harapan baru. Semangat ini kemudian mengalir ke dalam meja makan keluarga sebagai Gereja Domestik, tempat kasih dan pengampunan menjadi bukti nyata kebangkitan Kristus dalam keseharian.
Lebih luas lagi, hal ini terwujud dalam komunitas Gereja melalui semangat Persekutuan Sinergis yang mengajak kita untuk saling mendengarkan serta menguatkan sebagai satu tubuh. Kesaksian iman ini pun harus berdampak nyata di tengah masyarakat melalui sikap jujur, tanggung jawab sosial, serta rasa adil dalam bekerja. Akhirnya, semua ini memuncak pada tanggung jawab kita dalam menjaga Galilea ekologis Labuan Bajo. Di sini, Uskup memberikan pengingat profetik bahwa merawat alam, tanah, dan laut kita adalah bentuk ibadah yang nyata, sebab masa depan kehidupan serta kelestarian rumah bersama jauh lebih berharga daripada sekadar mengejar keuntungan pariwisata sesaat.
Sebuah Ajakan untuk Berjalan Bersama
Menutup pesan gembalanya, Mgr. Maksimus mengajak kita semua untuk tidak sekadar merayakan Paskah, tetapi bertransformasi menjadi orang-orang Paskah yang berani bangkit dalam iman, berjalan bersama dalam harapan, serta bersaksi melalui kasih.
Kristus kini sudah ada di depan kita, hadir mulai dari pasar, pelabuhan, kantor, hingga di dalam rumah kita sendiri. Pertanyaannya sekarang adalah, maukah kita melangkah dan berjalan bersama-Nya?
Selamat Menyongsong Paskah 2026! Kristus Bangkit, Alleluia!
Bagaimana menurut Anda?
Apakah Anda sudah menemukan Galilea pribadi Anda tahun ini? Dan bagaimana pendapat Anda tentang keseimbangan antara kemajuan pariwisata dengan pelestarian alam di Labuan Bajo seperti yang disampaikan Bapak Uskup? Mari kita berbagi cerita di kolom komentar!
Download dan baca surat gembala Prapaskah-Paskah Uskup Labuan Baju disini.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.








