Di tengah dunia yang diliputi kegelapan, Paskah diwartakan sebagai terang. Namun terang itu tidak berhenti di lilin—ia menuntut untuk dibawa ke dalam kehidupan nyata.
Laporan: Frater Febry Suryanto, SVD.
LEDALERO, FLORES, Veritas Indonesia — Misa Malam Paskah di Kapela Agung Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Sabtu (4/4/2026), berlangsung khidmat dan penuh sukacita.
Umat dari berbagai tempat memadati kapela, termasuk para peziarah dari Jakarta serta Wakil Bupati Sikka, Ir. Simon Subandi Supriadi, yang turut berbaur dalam perayaan iman tersebut.
Perayaan ini dipimpin oleh Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Pater Yosef Keladu, SVD, didampingi Pater Kris Ibu, SVD, dan Pater Willem Julei, SVD.
Liturgi perayaan dipercayakan kepada para frater dari Unit St. Yosef Freinademetz, sementara koor dibawakan oleh para frater yang tergabung dalam Ledalero Choir.
Sejak awal liturgi, umat diajak masuk ke dalam simbol besar Paskah: perjalanan dari kegelapan menuju terang. Dalam khotbahnya, Pater Yosef Keladu menegaskan bahwa Malam Paskah merupakan malam paling sakral karena menandai peralihan dari kegelapan menuju terang.
“Kemenangan Kristus atas dosa dan maut menjadi sumber sukacita dan harapan bagi umat beriman,” katanya.
Ia mengajak umat untuk membaca tanda-tanda liturgi secara lebih mendalam. Kegelapan di awal perayaan mencerminkan realitas dosa dan kerapuhan manusia, sementara Lilin Paskah menandakan kehadiran Kristus sebagai terang yang mengalahkan kegelapan.
“Lilin yang bernyala menjadi tanda bahwa harapan tidak pernah padam, bahkan di tengah dunia yang diliputi kejahatan,” ujarnya.
Terang yang Menyentuh Realitas
Lebih jauh, ia mengaitkan pesan Paskah dengan realitas kehidupan sehari-hari. Ia menyinggung berbagai persoalan kemanusiaan, termasuk perdagangan orang, sebagai gambaran kegelapan dunia. Namun demikian, ia menegaskan bahwa di tengah kehancuran dan keputusasaan, selalu ada harapan dan pembebasan.
Mengacu pada bacaan Kitab Suci, Pater Yosef menegaskan bahwa kebangkitan Kristus adalah pusat iman Kristen. Pengalaman Maria Magdalena dan para perempuan yang datang ke kubur menjadi gambaran iman yang diperbarui: mereka tidak menemukan jenazah Yesus, tetapi justru berjumpa dengan Dia yang bangkit.
“Allah tidak selalu memberikan apa yang kita minta, tetapi Ia memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga,” katanya.
Ia juga menyinggung kisah Marta dan Maria dalam peristiwa kebangkitan Lazarus, yang menunjukkan bahwa karya Allah melampaui harapan manusia.
Dari pengalaman itu, umat diajak untuk percaya bahwa Allah bekerja dengan cara-Nya sendiri, melampaui logika dan keinginan manusia.
Dipanggil Menjadi Pembawa Terang
Di bagian akhir khotbahnya, Pater Yosef mengajak umat untuk tidak berhenti sebagai penerima terang, tetapi menjadi pembawa terang bagi sesama.
“Kehadiran orang beriman diharapkan mampu menghadirkan harapan, membangkitkan semangat, serta memulihkan relasi yang rusak dalam kehidupan bersama,” ajaknya.
Perayaan ditutup dengan ungkapan syukur dari Pater Yosef Keladu atas kehadiran umat, termasuk para peziarah dan Wakil Bupati Sikka. Ia juga mengapresiasi keterlibatan para frater dan koor yang dinilai turut memperdalam pengalaman iman umat.
Sementara itu, Wakil Bupati Sikka, Ir. Simon Subandi Supriadi, menyampaikan kesannya atas perayaan tersebut.
“Selamat merayakan Paskah untuk Komunitas Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, para pater dan para frater. Semoga perayaan Paskah ini menghadirkan semangat dan harapan baru dalam karya keselamatan bagi umat manusia,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi jalannya perayaan yang dinilainya berlangsung sakral dan berkesan.
“Liturgi malam ini terasa begitu sakral, penuh kesan, dan mendalam. Secara khusus, saya memberikan apresiasi kepada anggota koor yang telah melayani dengan sangat baik, sehingga perayaan ini menjadi lebih hidup dan berwarna,” kata Simon.
Malam Paskah di Ledalero menjadi lebih dari sekadar perayaan tahunan. Ia menjadi pengalaman iman yang meneguhkan: bahwa dari kegelapan selalu lahir terang.
Di tengah dunia yang kerap diliputi krisis dan kerapuhan, kebangkitan Kristus tetap menjadi sumber harapan—sekaligus panggilan. Umat tidak hanya diajak percaya, tetapi juga diutus untuk menjadi tanda harapan itu sendiri di tengah dunia.








