Seluruh bacaan suci hari ini mengajak kita untuk menghayati kehidupan beriman bukan terutama sebagai kesalehan pribadi dan simbolik, tetapi lebih dari itu, mesti menjadi kesalehan sosial dan substantif. Itulah “Katolisitas yang berdampak”: relasi dengan Tuhan yang tidak berhenti pada doa dan ritual, melainkan menjelma dalam tindakan nyata yang menyentuh kehidupan sesama. Karena itu, setiap orang Kristiani dipanggil menjadi garam dan terang: menghidupi Injil dengan merangkul mereka yang terluka, miskin, dan terasing.
Teguran Yesaya
Tuhan, melalui nabi Yesaya, menunjukkan pentingnya “iman berdampak” yang mewujud dalam tindakan belas kasih dan keadilan: “Aku menghendaki supaya engkau membagi-bagikan rotimu kepada orang yang lapar, supaya engkau membawa ke rumahmu orang miskin yang tidak mempunyai rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian…” (Yes 58:7). Kata-kata ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat tegas. Tuhan tidak sedang memberi saran biasa, melainkan menyingkapkan inti hidup rohani: relasi dengan Tuhan harus melahirkan kasih dan keadilan.
Yesaya menegur umat yang rajin menjalankan ritus-ritus keagamaan seperti ibadat dan puasa, tetapi pada saat yang sama mereka menindas orang lain, membiarkan orang miskin terlantar, dan hidup dalam ketidakadilan. Mereka berdoa, tetapi hati mereka tidak peduli. Mereka tampak saleh, suka menggunakan simbol-simbol agama, namun secara sosial mereka demikian bengis, tanpa pengampunan dan belas kasih. Maka Tuhan seolah berkata: “Jangan datang kepada-Ku hanya dengan ritual, sementara engkau menutup mata terhadap sesamamu.” Sabda ini menjadi teguran bagi setiap orang beriman, sebab kita pun bisa jatuh pada kesalehan yang dangkal: tampak rajin beragama, tetapi tanpa kasih dan keadilan.
Sebab iman Kristiani bukanlah sekadar tumpukan pengetahuan atau wacana, bukan pula sesuatu yang hanya tinggal dalam pikiran atau berhenti di bibir. Kekristenan sejati selalu bergerak keluar dari diri sendiri. Hidup yang sungguh bersumber dari Tuhan pasti melahirkan tindakan nyata. Artinya iman tidak cukup hanya diketahui dan diakui, tetapi harus diwujudkan dalam perbuatan. Ukuran iman bukan seberapa indah kita berbicara tentang Tuhan, melainkan seberapa jauh hidup kita mencerminkan kasih Tuhan.
Menjadi Garam dan Terang
Yesus sendiri menegaskan panggilan itu ketika berkata: “Kamu adalah garam dunia… kamu adalah terang dunia.” (Mat 5:13-14). Garam itu kecil, tetapi memberi rasa. Terang itu kecil, tetapi mampu mengusir kegelapan. Pesannya jelas: orang beriman dipanggil menjadi berkat yang nyata bagi lingkungan. Kalau kita sungguh beriman, orang lain harus bisa merasakan dampaknya. Iman yang sejati tidak mungkin tersembunyi; ia harus terlihat melalui kebaikan, kejujuran, kepedulian, dan keberanian untuk membela yang benar.
Kesaksian iman tidak selalu berarti melakukan hal besar. Kesaksian iman justru tampak dalam tindakan sederhana: berbagi dengan yang kekurangan, menguatkan yang lemah, memberi perhatian kepada yang kesepian, menolong tanpa pamrih, atau berani berkata jujur meskipun sulit. Membagi roti kepada yang lapar tidak selalu berarti memberi materi, tetapi bisa berarti memberi waktu, tenaga, dan hati. Banyak orang tidak lapar karena makanan, tetapi lapar akan perhatian, lapar akan penghargaan, lapar akan kasih. Banyak orang tidak telanjang karena pakaian, tetapi telanjang karena martabatnya dirampas oleh gosip, fitnah, atau perlakuan tidak adil.
Kesaksian iman juga menuntut keberanian. Kadang kita lebih memilih diam agar aman. Namun iman Kristiani memanggil kita untuk berani menjadi garam dan terang, bahkan ketika itu tidak populer dan berisiko menanggung salib. Menjadi saksi iman berarti berani menolak korupsi, menolak ketidakjujuran, menolak cara hidup yang merugikan lemah dan kecil. Kesaksian iman berarti berani berdiri di pihak yang lemah, bukan demi pujian, tetapi karena itulah kehendak Tuhan.
Bagi orang yang hidup demikian, Nabi Yesaya memberikan janji yang indah: “Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar…” (Yes 58:8). Artinya, ketika kita hidup dalam kasih dan keadilan, Tuhan sendiri akan menyalakan terang dalam hidup kita. Kadang hidup terasa gelap bukan karena Tuhan jauh, tetapi karena kita menutup hati. Ketika kita mulai berbagi dan peduli, justru di situ terang Tuhan muncul. Oleh karena itu, perlu ada transformasi: dari iman yang simbolik ke model penghayatan iman yang lebih substantif, dari kesalehan personal dan ritualistik kepada kesalehan sosial dan berdampak.
Setelah mendengar bacaan hari ini, pantaslah kita memandang diri sendiri dan bertanya: apakah iman saya hanya menjadi rutinitas hari Minggu, atau menjadi kesaksian setiap hari? Apakah saya sudah menjadi garam yang memberi rasa dan terang yang memberi harapan?.
Semoga Sabda Tuhan hari ini membangunkan kita dari iman yang nyaman dan rutinitas belaka, dan mengubah kita menjadi murid-murid Kristus yang berani hadir, peduli, dan berdampak: menjadi garam yang memberi rasa serta terang yang menyalakan harapan bagi sesama.








