Kaki Dibasuh, Iman Dipertanyakan: Ketika Ekaristi Berhadapan dengan Realitas Sosial

Kamis Putih sering dirayakan dengan khidmat—namun jarang dipertanyakan secara jujur. Laporan ini tidak hanya merekam liturgi, tetapi juga menggugat maknanya di tengah realitas sosial yang timpang.


São Paulo, BrasilVeritas Indonesia – Sekitar 400 umat menghadiri Misa Kamis Putih di Paróquia Divino Espírito Santo, Parque Regina, São Paulo, pukul 20.00 malam. Perayaan dipimpin Pater Fernando Doren, SVD, didampingi Pater Kasmir Nema, SVD.

Liturgi berlangsung tertib. Nyanyian mengalun. Umat terlibat penuh. Namun justru di tengah kekhidmatan itu, muncul pertanyaan yang sulit dihindari: apakah Ekaristi yang dirayakan sungguh mengubah cara hidup umat—atau berhenti sebagai rutinitas religius yang nyaman?

Dalam homilinya, Pater Fernando langsung menembus zona aman itu. “Perayaan Ekaristi bukanlah sebuah pertunjukan, melainkan kehadiran nyata dan berkelanjutan dari apa yang telah dilakukan Yesus,” ujarnya. Pernyataan ini bukan sekadar penegasan teologis, tetapi kritik halus terhadap cara umat—bahkan Gereja—memperlakukan liturgi.

Ia juga menyinggung ketimpangan yang jarang dibicarakan. “Kita masih membutuhkan lebih banyak pelayan tertahbis, karena di beberapa tempat seperti Amazon, umat hanya bisa merayakan Ekaristi sekali dalam setahun,” katanya. Sebuah ironi yang menampar: di satu tempat Ekaristi dirindukan, di tempat lain ia melimpah—namun kerap kehilangan daya ubahnya.

Bagi Pater Fernando, Missionaris asal Flores, Indonesia, ini, inti Kamis Putih tidak berhenti pada altar. Ia harus berlanjut ke lantai—pada kaki yang dibasuh. “Institusi Ekaristi tidak bisa dipisahkan dari pembasuhan kaki. Kita dipanggil untuk mengasihi dengan melayani sampai tuntas,” tegasnya.

Namun di sinilah kritik menjadi semakin tajam. Ia menyinggung gejala klerikalisme yang meluas. “Ada kecenderungan manusia untuk lebih suka dilayani daripada melayani. Bahkan umat awam pun bisa jatuh dalam sikap ini,” ungkapnya. Kritik ini memperlihatkan bahwa persoalan Gereja bukan hanya soal struktur, tetapi mentalitas.

Ritus pembasuhan kaki dalam misa ini mencoba keluar dari pola simbolik yang biasa. Para “rasul” direpresentasikan oleh umat perempuan—sebuah pilihan yang secara diam-diam menggoyahkan asumsi lama tentang representasi. Lebih jauh lagi, setelah kaki mereka dibasuh oleh para imam, mereka diminta untuk membasuh kaki umat lain.

Di titik ini, liturgi berubah arah: dari tontonan menjadi partisipasi.

Menjelaskan maknanya, Pater Fernando mengingatkan: “Jika Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki. Ini bukan simbol kosong, tetapi teladan yang harus diwujudkan.”

Ratusan umat menghadiri Misa Kamis Putih di Paróquia Divino Espírito Santo, Parque Regina, São Paulo, Brazil. (Foto: dokumen pribadi).

Namun, tindakan simbolik—sekuat apa pun—tetap menghadapi satu ujian besar: realitas.

Di luar gereja, São Paulo adalah kota dengan jurang ketimpangan yang nyata: krisis perumahan, kemiskinan urban, dan mereka yang hidup di pinggiran sistem. Dalam konteks ini, pembasuhan kaki berisiko menjadi sekadar gestur liturgis jika tidak diterjemahkan menjadi keberpihakan konkret.

Pater Fernando menyadari ketegangan ini. “Menerima Tubuh dan Darah Kristus berarti masuk dalam persekutuan dengan penderitaan sesama. Tidak mungkin kita menerima Kristus, tetapi mengabaikan mereka yang menderita,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan dimensi rahmat dalam Paskah: “Pembebasan dari dosa adalah anugerah Allah yang datang menjumpai kita, bahkan ketika kita merasa ditinggalkan.” Namun rahmat ini bukan alasan untuk pasif—melainkan panggilan untuk bertindak.

Perayaan ditutup dengan prosesi Sakramen Mahakudus dalam suasana hening. Segalanya berjalan indah, tertata, dan menyentuh.

Tetapi justru di situlah persoalan dimulai.

Ketika nyanyian berhenti dan lilin padam, iman diuji bukan di dalam gereja, melainkan di jalanan—di antara mereka yang tidak pernah merasakan “dibasuh”, apalagi dilayani.

Kamis Putih tidak cukup dirayakan. Ia harus mengganggu.

P. Kasmir Nema, SVD
P. Kasmir Nema, SVD
Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Media Veritas Indonesia. Jurnalis dan Koordinator Umum Media dan Komunikasi Serikat Sabda Allah (SVD) yang berbasis di Roma. Kontributor untuk Vatican News dan Radio Veritas Asia (RVA). Profil akademik: ResearchGate Profile

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer