web page hit counter
back to top
Saturday, February 21, 2026

IFTK Ledalero Gelar Simposium Internasional Bahas Agama, Media, dan Budaya di Asia Tenggara

MAUMERE, 20 Febuari, VERITAS INDONESIAInstitut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero (IFTK Ledalero) secara resmi membuka International Symposium on Religion, Media, and Culture in Southeast Asia pada 19 Februari 2026.

Simposium yang berlangsung hingga 21 Februari ini digelar di Auditorium Maximum Kampus 2 IFTK Ledalero, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama dengan Asian Research Center for Religion and Social Communication dari St. John’s University. Forum internasional ini mempertemukan para akademisi dan peneliti dari Indonesia, Filipina, Thailand, dan Australia untuk merefleksikan secara kritis dinamika relasi agama, media, dan budaya di tengah percepatan transformasi digital di Asia Tenggara.

Agama Digital sebagai Ruang Kuasa dan Etika

Dalam sambutan pembukaannya, Rektor IFTK Ledalero, Prof. Dr. Otto Gusti Ndegong Madung, SVD, menegaskan bahwa tema simposium ini sangat relevan dalam konteks masyarakat yang semakin dibentuk oleh teknologi digital.

Ia menekankan bahwa teknologi digital bukan sekadar instrumen modernisasi, melainkan arena politik dan etika di mana identitas keagamaan, norma moral, dan kewarganegaraan terus dinegosiasikan.

“Platform digital dan mekanisme algoritmik tidak hanya mendistribusikan informasi, tetapi juga membentuk otoritas keagamaan serta memproduksi narasi kebenaran,” ujarnya.

Menurutnya, negara memperluas pengaruh melalui tata kelola digital—mengatur wacana keagamaan dan memantau konten daring—sementara lembaga keagamaan memanfaatkan media digital untuk menyebarkan ajaran dan memperkuat komunitas iman.

Pada saat yang sama, logika pasar yang bekerja melalui algoritma turut menentukan suara mana yang diperkuat dan mana yang terpinggirkan.

Karena itu, ia mengajak peserta untuk membangun refleksi kritis mengenai tata kelola digital yang menjamin kebebasan beragama, pluralisme, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Media Membentuk Cara Publik Memahami Agama

Dalam sambutannya, Dr. Anthony Le Duc, SVD, dari Asian Research Center for Religion and Social Communication menegaskan bahwa agama, budaya, dan media adalah tiga realitas yang saling terkait.

Agama selalu hadir dalam bentuk bahasa, simbol, ritus, dan praktik hidup sehari-hari. Namun di era digital, ekspresi tersebut semakin banyak berlangsung melalui media sosial dan platform daring.

“Media tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga membentuk cara agama direpresentasikan, ditafsirkan, dan dinilai di ruang publik,” jelasnya.

Di kawasan Asia Tenggara yang majemuk, lanjutnya, media digital berpengaruh besar dalam membangun persepsi publik—apakah agama dilihat sebagai sumber makna dan solidaritas atau sebagai sesuatu yang kontroversial.

Oleh sebab itu, “dialog akademik lintas negara menjadi penting untuk memperdalam pemahaman dan merespons tantangan zaman secara bijaksana,” tegasnya.

Dr. Benjamina Paula G. Flor and P. Robert Mirsel, SVD (Foto: Screen Shoot dari You Tube IFTK)

Menghadirkan yang Sakral di Era Digital

Pada hari pertama, simposium menghadirkan pidato kunci dari Dr. Benjamina Paula G. Flor (Filipina) dengan tema “Embodying the Sacred in the Digital Age: A Communication Approach.”

Ia menjelaskan bahwa komunikasi digital telah mengubah secara signifikan praktik kehidupan, termasuk pengalaman beribadah.

Menurutnya, praktik keagamaan daring bukan sekadar pengganti pertemuan fisik, tetapi merupakan bentuk rekonfigurasi kehidupan sakral.

Yang sakral, tegasnya, tidak hilang di ruang digital, melainkan terus dihadirkan dan dimediasi melalui praktik komunikasi, tubuh, dan teknologi.

Ia menguraikan sejumlah dimensi kehadiran sakral secara daring, seperti devosi pribadi, integritas, ketekunan, rasa syukur, keterlibatan aktif, serta partisipasi yang tulus.

Diskusi yang berkembang mengangkat perbedaan antara konsep “yang sakral” dan “sakramen” dalam teologi Katolik. Para peserta sepakat bahwa sakramen tetap menuntut kehadiran fisik sesuai ajaran Gereja.

Namun, media digital diakui memiliki peran penting dalam katekese, evangelisasi, serta pendampingan rohani, terutama bagi umat yang terkendala jarak atau kondisi kesehatan.

Ruang Dialog Lintas Disiplin dan Lintas Negara

Selama tiga hari pelaksanaan, simposium juga menghadirkan 14 presentasi makalah ilmiah yang membahas beragam isu, mulai dari komodifikasi agama di media sosial, algoritma dan identitas religius, kecerdasan artifisial dalam seni religius, hingga kesadaran ekologis generasi muda dalam terang ensiklik Laudato si’.

Melalui penyelenggaraan simposium internasional ini, IFTK Ledalero menegaskan komitmennya sebagai institusi akademik di Indonesia Timur yang aktif terlibat dalam refleksi kritis atas perubahan sosial-budaya di era digital.

Forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat dialog lintas disiplin dan lintas negara guna merumuskan masa depan relasi agama, media, dan masyarakat di Asia Tenggara secara lebih bertanggung jawab dan berkeadaban.

P. Kasmir Nema, SVD
P. Kasmir Nema, SVD
Jurnalis dan Koordinator Umum Media dan Komunikasi Serikat Sabda Allah (SVD), berbasis di Roma.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer