Di tengah hiruk-pikuk dunia yang terus memaksa kita berlari mengejar tumpukan materi, kita sering kali lupa bahwa rezeki terbaik justru sering datang dalam bentuk ketenangan batin yang tak bisa dibeli.
Penulis: Albert Santoso
Mayoritas dari kita sepakat bahwa untuk menyambung hidup, manusia harus bekerja keras dan pandai membaca peluang. Namun, dalam proses pengejaran tersebut, kita acap kali luput menyadari keberadaan faktor-faktor di luar kendali manusia yang turut campur tangan. Situasi, kondisi, hingga kemurahan hati Sang Pencipta adalah variabel tak kasatmata yang pada akhirnya menjadi penentu.
Lebih jauh lagi, pandangan kita sering kali menyempit, menganggap bahwa rezeki selalu berwujud uang atau harta benda. Padahal, ada bentuk-bentuk rezeki bernilai tinggi yang tidak bisa ditukar dengan cek bernominal berapa pun: kesehatan fisik, kedamaian pikiran, kebebasan, hingga kehangatan berkumpul bersama keluarga.
Ironisnya, realitas kerap menyajikan kisah yang berlawanan dengan ekspektasi. Banyak individu bergelimang harta justru berjuang keras sekadar untuk bisa memejamkan mata di malam hari. Akar dari insomnia mereka bukanlah kurangnya fasilitas kenyamanan, melainkan kecemasan yang berlebihan akan masa depan. Ada ketakutan konstan bahwa satu langkah yang salah akan meruntuhkan kerajaan bisnis dan melenyapkan aset yang selama ini mereka kumpulkan dengan susah payah.
Pemandangan ini bertolak belakang dengan mereka yang berpenghasilan pas-pasan atau bahkan berada di bawah standar kelayakan. Secara logika matematis, merekalah yang seharusnya terjaga semalaman memikirkan apakah ada makanan untuk esok hari. Namun pada kenyataannya, banyak dari mereka yang mampu menepis kekhawatiran tersebut. Mereka merayakan rasa cukup dan mensyukuri apa pun yang didapat hari itu. Tidak jarang, mereka bisa tertidur lelap meski harus berdesakan di ruangan yang sempit dan pengap.
Ketakutan akan masa depan juga sering kali menjebak kaum muda. Banyak yang mendedikasikan seluruh waktunya untuk mengumpulkan dana pensiun demi masa tua yang mandiri dan tidak membebani keturunan. Rencana ini tentu sangat bijak dan rasional. Namun, kita kembali dihadapkan pada realitas bahwa selalu ada hal-hal di luar rencana yang bisa merusak skenario tersebut. Pengeluaran tak terduga seperti krisis kesehatan, perbaikan rumah tangga, atau musibah lainnya dapat dengan mudah menggerus tabungan hari tua hingga tak bersisa.
Lantas, apakah ini berarti kita tidak perlu bekerja keras dan bercita-cita memiliki kebebasan finansial? Tentu tidak. Fitrah manusia adalah berusaha semaksimal mungkin. Poin krusialnya terletak pada kemampuan kita mengetahui batasan dan tidak ngoyo atau memaksakan diri secara berlebihan.
Kapasitas diri kita dapat diibaratkan seperti sebuah gelas. Ketika gelas tersebut sudah terisi penuh, air yang terus dituangkan hanya akan tumpah dan terbuang sia-sia. Begitu pula dengan tubuh dan pikiran kita. Kita bisa saja memaksakan diri mengambil segunung pekerjaan saat muda dan prima demi mengejar angka. Namun, ketika tubuh akhirnya menyerah dan jatuh sakit, kekayaan yang terkumpul itu perlahan hanya akan mengalir keluar untuk sekadar membeli kembali kesehatan yang telah kita korbankan.
Pada akhirnya, Sang Pencipta telah menakar rezeki setiap makhluk-Nya dengan presisi. Kebutuhan dasar manusia selalu dicukupkan, namun keserakahanlah yang melahirkan ilusi bahwa kita selalu kekurangan. Ilusi inilah yang kemudian memicu berbagai penyakit sosial, mulai dari pencurian hingga korupsi. Jika saja kita menanamkan keyakinan utuh bahwa porsi rezeki kita tidak akan pernah tertukar, dunia ini niscaya akan menjadi tempat yang jauh lebih tenteram. Kehampaan, rasa iri, dengki, dan ambisi yang merusak perlahan akan sirna. Kita hanya perlu meyakini bahwa masa yang penuh kedamaian itu bisa dimulai dari diri kita sendiri, saat ini.








