Di tengah pesatnya arus teknologi yang kerap mengasingkan interaksi sosial manusia, mari kita menelaah makna digitalisasi dalam ruang tantangan atau peluang melalui sebuah permenungan mendalam tentang digitalisasi dalam Refleksi Paskah.
Penulis: Richardus Adven Dhada*
Menarik untuk merenungkan kembali sebuah ungkapan Yesus sebelum mengembuskan napas terakhir di kayu salib, “Eli, Eli, lama sabaktani,” yang berarti, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”. Dalam penalaran sederhana, ungkapan ini tidak hanya menunjukkan kodrat Yesus sebagai Tuhan sekaligus manusia, tetapi juga merepresentasikan puncak kesunyian dan keterasingan. Roh Allah tentu abadi, namun sebagai manusia, kematian dan perasaan ditinggalkan adalah realitas yang paling ngilu. Kini, ribuan tahun kemudian, gema keterasingan itu seolah menemukan bentuk barunya dalam kehidupan manusia modern.
Dunia saat ini berada pada pusaran era digitalisasi. Manusia telah bermigrasi dari era industrialisasi menuju sistem digital untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sayangnya, migrasi ini sering kali membangun “tembok-tembok digital” yang mengisolasi. Komunikasi sosial direduksi menjadi sekadar percakapan di grup WhatsApp keluarga, kantor, atau lingkungan rukun warga. Segalanya menjadi praktis: membeli barang cukup membuka aplikasi e-commerce, butuh dana segar tinggal mengakses pinjaman online (pinjol), bahkan layanan medis pun bisa dipanggil langsung ke rumah melalui aplikasi. Konsekuensinya, perjumpaan fisik antarindividu semakin terkikis.
Keterasingan ini menyentuh ruang interaksi yang paling dasar, yakni dunia anak-anak. Dahulu, bermain mengharuskan seorang anak untuk berjumpa dengan orang lain dan menyatu dengan alam. Kini, tembok digital membatasi ruang bermain mereka hanya pada layar ponsel pintar, baik itu bermain secara solo melawan mesin maupun interaksi virtual dalam sebuah regu (squad).
Lebih jauh lagi, media perjumpaan tatap muka yang digantikan oleh layar telah merampas ekspresi bahasa nonverbal manusia. Kita kehilangan kemampuan membaca nada suara dan ekspresi wajah saat berbagi duka atau suka. Kedekatan emosional menjadi dangkal karena kita hanya membaca teks tanpa bisa menyelami emosi di baliknya.
Digitalisasi juga membawa tantangan kelam lainnya. Kemudahan akses teknologi kerap disalahgunakan menjadi ruang adu nasib melalui judi online, yang menyedot habis aset pribadi masyarakat. Di ruang diskursus publik, kita dihadapkan pada fenomena post-truth atau pascakebenaran, di mana kegaduhan diciptakan lebih dulu, lalu pembenaran dicari kemudian. Hoaks yang diproduksi oleh akun-akun anonim menyerang martabat individu dengan jejak digital yang mustahil dihapus. Pembaca kerap menghakimi sebuah isu hanya bermodalkan emosi dan sentimen pribadi tanpa menggali kebenaran sesungguhnya—sebuah fenomena pengadilan massa yang ironisnya mengingatkan kita pada peristiwa ketika Kristus dihakimi.
Realitas di atas membawa manusia pada jurang individualisme. Muncul sebuah pertanyaan reflektif: apakah era yang penuh alienasi ini sejalan dengan harapan kebangkitan Tuhan, atau justru menjadi gaung modern dari seruan “Eli, Eli, lama sabaktani”?
Namun, jika kita menelaah sisi keping yang lain, era digitalisasi juga menawarkan peluang kebangkitan. Dalam ruang ekonomi, platform digital hadir sebagai penyelamat. Ekosistem marketplace memangkas jalur distribusi yang rumit. Pengusaha tak lagi butuh modal besar untuk menyewa gedung bertingkat atau membayar biaya operasional yang mencekik. Keserjangan distribusi digusur, persaingan harga dinetralisasi melalui penawaran yang terbuka. Startup bermunculan membawa aneka ragam inovasi.
Dalam konteks Paskah, hal ini dapat dimaknai sebagai refleksi peluang dan harapan kebangkitan. Teknologi membantu manusia mengatur arus kas kehidupan menjadi lebih baik. Disparitas harga produk antarwilayah dapat ditekan, membuat biaya hidup masyarakat menjadi lebih terjangkau.
Kemudahan ini juga dirasakan di sektor transportasi dan pendidikan. Aplikasi berbagi tumpangan (ride-hailing) tidak hanya memudahkan mobilitas dan efisiensi konsumen, tetapi juga membuka keran penghasilan harian yang riil bagi para penyedia jasanya. Di dunia akademik, literatur dan jurnal internasional yang dulu mahal dan langka, kini mudah diakses. Publikasi ilmu pengetahuan terdistribusi tanpa batas, mendukung semangat pembebasan dan kemerdekaan belajar.
Tembok monopoli yang dulu hanya dikuasai segelintir elite kini diterabas oleh sistem pasar bebas yang terbuka. Literasi keuangan masyarakat pun meningkat pesat. Masyarakat mulai meninggalkan pola transaksi tradisional dan beralih ke layanan perbankan digital tanpa tunai (cashless), yang secara makro turut menghemat biaya pencetakan uang kartal. Konsep bekerja pun terbebaskan melalui work from anywhere, didukung oleh administrasi yang serba nirkertas (paperless).
Dari dua sisi paradoks ini, era digitalisasi mengajak kita untuk merefleksikan dua hal penting. Pertama, jika salah kelola, era ini akan menjadi monster tantangan yang menjauhkan kita dari Sang Pencipta dan sesama, mengurung kita dalam egoisme. Kedua, jika digunakan secara bijak, era ini adalah ruang peluang dan harapan baru yang selaras dengan semangat kebangkitan.
Lantas, apa yang menjadi kunci penentunya? Jawabannya adalah pembentukan karakter. Manusia di era digital tidak hanya dituntut untuk memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional yang mapan-kemampuan untuk memahami diri sendiri, mengelola emosi, dan merawat empati terhadap sesama.
Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si’ telah menyadarkan kita akan pentingnya kecerdasan emosional ini untuk menahan laju budaya konsumerisme, hedonisme, dan pemborosan. Kita diajak untuk lebih dalam mengenali diri, bukan sekadar membandingkan diri dengan etalase hidup orang lain di media sosial. Ketika dunia bermigrasi ke era digitalisasi, manusia juga harus melakukan migrasi batin. Transformasi teknologi harus senantiasa diimbangi dengan kebangkitan kecerdasan emosional agar kita tidak kembali mengulang seruan kesepian di tengah keramaian.
*Aktivis Lembaga Keuangan Bank Daerah NTT








