web page hit counter
back to top
Saturday, February 21, 2026

Cinta yang Rela ‘Kotor’ demi Sebuah Keselamatan

Pernahkah kita menyadari bahwa cinta sejati sering kali menuntut kita untuk rela ‘menjadi kotor’ demi mengangkat mereka yang kita kasihi dari keterpurukan?


Oleh: Albert Santoso*

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa supaya mereka bertobat.” (Lukas 5:31-32)

Rian, seorang bocah laki-laki berusia enam tahun, melompat kegirangan ketika ayahnya menghadiahkan beberapa ekor anak anjing kepadanya. Sebagai anak tunggal, kehadiran anjing-anjing kecil itu bak oase yang menemaninya bermain setiap hari. Rian merawat mereka dengan penuh antusias; ia rajin memberi makan dan selalu mengajak mereka berlarian di halaman.

Namun, layaknya antusiasme anak-anak yang terkadang mudah pudar, rutinitas itu perlahan terasa membosankan. Rian mulai lalai. Anjing-anjing kesayangannya kini jarang dimandikan, sehingga tubuh mereka menjadi kotor, kusam, dan mengeluarkan bau tak sedap. Melihat kondisi tersebut, Rian justru enggan mendekat. Ia kehilangan minat dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan mainan-mainannya yang bersih di dalam kamar.

Perubahan sikap ini tak luput dari perhatian sang ayah. Suatu sore, ia menghampiri putranya. “Rian, Ayah perhatikan kamu sudah jarang bermain dengan anjing-anjingmu. Kenapa?” tanyanya lembut.

Rian menghela napas panjang. “Rian malas, Yah. Mereka kotor dan bau sekali.”

Sang ayah tersenyum tipis mendengarnya. “Bukankah kamu yang biasanya senang bermain dengan mereka? Sebagai pemilik yang baik, sudah semestinya kamu bertanggung jawab untuk merawat mereka kembali.”

“Maksud Ayah, Rian harus memandikan mereka?” tanya Rian ragu. “Kalau Rian memandikan mereka, Rian harus masuk ke dalam kandangnya yang bau. Nanti Rian ikut kotor.”

Ayahnya mengangguk penuh makna. “Tentu saja kamu akan ikut kotor. Tetapi, kalau kamu tidak mau turun ke kandang dan menyentuh mereka, bagaimana mungkin mereka bisa kembali bersih seperti semula?”

Jawaban sang ayah kepada Rian menyiratkan sebuah kebenaran spiritual yang mendalam. Sering kali, untuk membersihkan sesuatu yang kotor, seseorang harus rela menurunkan egonya dan ikut menyentuh kekotoran tersebut. Hal inilah yang menjadi esensi dari karya keselamatan Allah bagi manusia.

Kisah Rian adalah sebuah analogi sederhana tentang mengapa Tuhan rela mengutus Putra-Nya yang tunggal turun ke dunia. Umat manusia telah jatuh ke dalam lumpur dosa—menjadi ‘kotor’ dan kehilangan kemuliaannya. Namun, karena kasih yang begitu besar, Allah tidak membiarkan ciptaan-Nya binasa dalam kekotoran tersebut. Seperti yang tertulis dalam Injil Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Yesus Kristus rela ‘turun ke kandang’ dunia yang berdosa, bahkan rela mati disalib untuk menanggung hukuman umat manusia. Ia merendahkan diri-Nya agar kita dapat ditebus dan dibersihkan di hadapan Allah. Oleh karena itu, sebagai pengikut Kristus, sudah sepatutnya kita mensyukuri anugerah yang luar biasa ini. Rasa syukur itu hendaknya tidak berhenti pada kata-kata, melainkan diwujudkan dengan berjuang meninggalkan dosa, sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas cinta Tuhan yang rela ‘kotor’ demi keselamatan kita.


* Penyandang Difabel Tuna Daksa

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia dan Dosen Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan. Sebagai profesional yang mengantongi sertifikasi Penulis Non Fiksi dari BNSP, ia juga aktif mengelola publikasi ilmiah sebagai Managing Editor untuk Jurnal Keperawatan Suaka Insan (SINTA 3) dan Jurnal Suaka Insan Mengabdi (SINTA 5).

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer