web page hit counter
back to top
Tuesday, February 3, 2026

Berbahagialah yang Berani Hidup Berbeda

Renungan Matius 5:1–12a

Nilai yang Dibalikkan

Matius 5:1–12a memuat sabda Yesus yang dikenal sebagai Sabda Bahagia. Di hadapan orang banyak dan para murid, Yesus menyatakan siapa yang sungguh berbahagia menurut ukuran Kerajaan Allah: mereka yang miskin di hadapan-Nya, yang berdukacita, yang lemah lembut, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang murah hati, yang suci hatinya, yang membawa damai, serta yang dianiaya demi kebenaran. Sabda ini bukan sekadar kata-kata penghiburan rohani, melainkan pernyataan yang tegas dan radikal tentang nilai-nilai Kerajaan Allah yang sering berlawanan dengan logika dunia.

Di tengah dunia yang mengagungkan kekuasaan, kekayaan, dan keberhasilan lahiriah, Yesus justru menyebut berbahagia mereka yang tampak lemah, tersisih, dan menderita. Kebahagiaan sejati, menurut Yesus, tidak diukur dari apa yang dimiliki atau dicapai, melainkan dari relasi yang benar dengan Allah dan dengan sesama. Sabda Bahagia menjadi kompas rohani, penunjuk arah bagi para murid agar mampu hidup sebagai warga Kerajaan Allah di tengah realitas dunia yang kompleks.

Sabda dalam Hidup

Jika kita jujur, Sabda Bahagia sering terdengar indah tetapi terasa berat untuk dijalani. Siapa yang dengan rela disebut berbahagia ketika miskin, berdukacita, atau bahkan dianiaya? Dalam pengalaman sehari-hari, kita cenderung menghindari situasi-situasi itu.

Kita mendambakan rasa aman, kenyamanan, dan pengakuan. Namun Yesus mengajak kita melihat lebih dalam: justru di dalam kelemahan dan penderitaan itulah terbuka ruang bagi Allah untuk berkarya.

Dalam konteks masyarakat saat ini, kita menyaksikan banyak bentuk kemiskinan yang tidak selalu bersifat materi. Ada kemiskinan akan perhatian, kasih, dan keadilan. Banyak orang bekerja keras, namun tetap hidup dalam ketidakpastian. Tidak sedikit pula yang berdukacita karena kehilangan orang terkasih, pekerjaan, atau masa depan yang diharapkan. Sabda Yesus tidak mengabaikan kenyataan pahit ini. Sebaliknya, Ia menegaskan bahwa Allah hadir dan berpihak kepada mereka yang rapuh dan terluka.

“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran.” Sabda ini terasa sangat aktual di tengah budaya manipulasi informasi, ketidakadilan struktural, dan kompromi moral. Demi kenyamanan pribadi, tidak sedikit orang memilih diam, meskipun sadar ada ketidakberesan di sekitarnya. Yesus justru mengundang para murid-Nya untuk terus merindukan dan memperjuangkan kebenaran, sekalipun jalan itu menuntut keberanian dan pengorbanan.

Sabda Bahagia juga menantang cara kita membangun relasi sosial. Sikap murah hati, membawa damai, dan menjaga kemurnian hati kerap tidak populer dalam budaya kompetisi dan polarisasi. Di ruang digital dan media sosial, misalnya, kita mudah terjebak dalam perdebatan keras, penghakiman, dan ujaran kebencian. Menjadi pembawa damai di tengah situasi seperti ini sering berarti memilih jalan sunyi: menahan diri, mendengarkan dengan empati, dan menanggapi dengan kasih.

Yesus tidak pernah menjanjikan bahwa hidup sebagai murid akan selalu mudah. Ia bahkan berkata dengan jujur: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya.” Namun di situlah letak pengharapan Kristiani: penderitaan yang dijalani dalam kesetiaan kepada Allah tidak pernah sia-sia. Ada janji Kerajaan Surga bagi mereka yang berani setia dan hidup berbeda.

Langkah Konkret

Renungan ini mengajak kita untuk tidak berhenti pada kekaguman terhadap Sabda Bahagia, melainkan berani menerjemahkannya ke dalam tindakan nyata. Minggu ini, marilah kita memilih satu sikap dari Sabda Bahagia untuk dihidupi secara sadar dan konsisten.

Kita dapat memulainya dengan menjadi pembawa damai di lingkungan terdekat: dalam keluarga, komunitas, tempat kerja, maupun ruang digital. Ketika muncul konflik atau perbedaan pendapat, belajarlah untuk tidak langsung bereaksi dengan emosi atau penghakiman. Dengarkan dengan empati, berbicaralah dengan lemah lembut, dan carilah jalan yang membangun, bukan yang melukai.

Kita juga dapat melatih kemurahan hati melalui tindakan-tindakan sederhana namun nyata: menyapa mereka yang sering terabaikan, membantu tanpa pamrih, atau meluangkan waktu bagi mereka yang sedang berdukacita. Mungkin tampak kecil di mata dunia, tetapi di hadapan Allah, itulah benih-benih Kerajaan-Nya.

Pertanyaannya bagi kita minggu ini adalah: di bagian mana dari Sabda Bahagia saya dipanggil untuk hidup lebih setia? Marilah kita berani melangkah, sebab kebahagiaan sejati tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari kesetiaan berjalan bersama Kristus.

P. Kasmir Nema, SVD
P. Kasmir Nema, SVD
Jurnalis dan Koordinator Umum Media dan Komunikasi Serikat Sabda Allah (SVD), berbasis di Roma.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer