Mengapa Mengejar Bahagia Saja Tidak Pernah Cukup Membuat Hidup Bermakna

Dalam lintasan panjang pencarian makna hidup, kita kerap terjebak pada persimpangan dilematis antara obsesi memburu kebahagiaan pribadi dan tuntutan moral untuk menjadi manusia yang berguna bagi sesama.


Penulis: Albert Santoso

Naluriah memang, ketika setiap bangun tidur, orientasi utama kita adalah mencari rasa aman, kesuksesan, dan kesenangan. Kebahagiaan bertindak bak bahan bakar yang membuat hidup terasa layak untuk terus diperjuangkan. Namun, tatkala rasa bahagia itu semata-mata diukur dari pencapaian materi atau kepuasan egosentris, fondasinya menjadi sangat rapuh. Kebahagiaan yang hanya berpusat pada pemuasan hasrat duniawi memiliki masa kedaluwarsa yang singkat, sering kali meninggalkan manusia dalam ruang hampa meski tangannya penuh dengan apa yang selama ini diidamkan.

Mengejar kebahagiaan tentu bukan sebuah dosa; ia adalah hak asasi yang paling purba. Bencana baru muncul saat kita meletakkan ego sebagai episentrum kebahagiaan tersebut. Monolog internal “saya ingin bahagia” bisa dengan cepat bermutasi menjadi justifikasi egois “yang penting saya bahagia”. Ketika ambisi ini tidak lagi mengenal batas empati, kita tak segan saling sikut, merugikan sekitar, dan memanipulasi keadaan demi satu porsi kebahagiaan semu yang pada akhirnya justru menihilkan makna kemanusiaan kita sendiri.

Baca Juga Artikel:  Paus Leo XIV Kumpulkan Para Kardinal untuk Bahas Perdamaian Dunia dan Masa Depan Sinode

Di kutub yang berlawanan, terdapat tawaran eksistensial yang lebih elegan: mencari kebermanfaatan. Menjadi bermanfaat berarti kehadiran kita menyumbangkan nilai tambah bagi kehidupan di luar diri kita. Nilai ini tidak melulu menuntut panggung yang megah atau aksi heroik berskala global. Seorang ibu yang merawat anaknya dengan penuh kewarasan, guru yang menanamkan karakter di ruang kelas, atau bahkan seorang kawan yang menyediakan telinga tanpa menghakimi, semuanya adalah manifestasi kebermanfaatan yang autentik. Parameter kebermanfaatan sejati bukanlah seberapa riuh tepuk tangan yang kita terima, melainkan seberapa baik keadaan sebuah ruang setelah kita memasukinya.

Kendati demikian, layaknya madu yang berubah menjadi racun bila ditenggak berlebihan, obsesi untuk terus-menerus berguna bagi orang lain juga menyimpan bahaya laten. Sikap rela berkorban yang tidak kenal batas (martyr syndrome) justru kerap melahirkan malapetaka ganda. Pertama, bagi mereka yang kita bantu. Mengambil alih semua kesulitan orang lain, seperti selalu mengerjakan tugas sekolah anak, justru berisiko mematikan daya juang dan kemandirian mereka di masa depan. Kedua, bagi diri kita sendiri. Banyak orang merasa bersalah saat mengambil jeda istirahat karena telanjur memperbudak diri demi ekspektasi orang lain. Lantas, masih pantaskah kita disebut bermanfaat jika harga yang harus dibayar adalah hancurnya fisik dan kewarasan mental kita sendiri?

Baca Juga Artikel:  Vatikan Tegaskan Kembali: Awam Tidak Dapat Menyampaikan Homili dalam Misa

Jawabannya membawa kita pada sebuah jalan tengah yang mencerahkan. Kebahagiaan dan kebermanfaatan sejatinya bukan dua musuh yang harus saling meniadakan, melainkan kawan duet yang saling membesarkan. Kebahagiaan memberi kita pasokan energi, sementara kebermanfaatan menyuntikkan arah dan kompas kehidupan. Dengan kondisi jiwa dan fisik yang bahagia, kita memiliki kapasitas empati yang melimpah untuk dibagikan. Sebaliknya, saat kita tulus mengulurkan tangan, otak kita memproduksi kepuasan batin (fulfillment) yang jauh melampaui euforia kesenangan semata.

Memang ada jurang perbedaan yang dalam antara kebahagiaan dangkal (hedonic) dan kebahagiaan yang bermakna (eudaimonic). Kebahagiaan dangkal hanya sibuk memburu gelitik kesenangan indrawi yang instan. Sebaliknya, kebahagiaan yang bermakna kerap kali menuntut pengorbanan seperti merawat orang tua yang sakit atau menemani anak balita yang sedang tantrum. Fase tersebut sangat melelahkan secara fisik, tetapi di sanalah kita menemukan pilar-pilar pemenuhan jiwa yang tertanam abadi.

Pada akhirnya, perdebatan untuk memilih antara bahagia atau bermanfaat adalah sebuah dikotomi yang keliru. Keduanya ibarat dua sisi dari keping koin yang sama, membutuhkan keseimbangan harmoni agar bernilai. Karena puncak kehidupan yang sesungguhnya baru tercapai ketika kita mampu meneguk keindahan hidup bagi diri sendiri, sembari memastikan cipratan airnya turut menyuburkan tanah tempat orang lain berpijak.

Baca Juga Artikel:  Paus Kirim Bantuan Darurat Rp1,8 Miliar untuk Korban Gempa di Kolombia

Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. 

Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia).

Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia, Penulis dan Pengajar Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer