Ketulusan yang Terlupakan: Belajar Iman dari Seorang Anak

Sering kali, di tengah ambisi dunia yang menuntut kita menjadi besar dan berkuasa, kita justru kehilangan esensi kemanusiaan yang paling murni: ketulusan seorang anak.


“Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam kerajaan surga.” (Matius 18:4)

Penulis: Albert Santoso

Ayah saya memiliki kegemaran yang sederhana namun mendalam: ia mencintai anak-anak. Setiap kali Ibu membawa pulang seorang anak kecil, entah itu buah hati tetangga atau kerabat, wajah Ayah selalu berbinar. Senyumnya merekah lebar, menyambut tamu kecil itu dengan kehangatan yang tulus. Ayah bersedia meluangkan waktu berjam-jam untuk bercengkerama, bermain, dan memastikan sang anak merasa nyaman di dekatnya.

Suatu kali, rasa penasaran mendorong saya untuk bertanya, “Mengapa Ayah begitu menyukai mereka?”

Jawaban Ayah menjadi sebuah refleksi kehidupan bagi saya. Baginya, anak kecil adalah cermin kemurnian. Pertama, mereka memiliki kepolosan yang jujur. Melalui tatapan mata dan guratan wajahnya, kita bisa membaca isi hati mereka tanpa ada yang disembunyikan. Mereka menangis saat sedih dan tertawa lepas saat bahagia, tanpa topeng kepura-puraan yang sering kita kenakan saat dewasa.

Kedua, anak kecil mengajarkan kita tentang rasa cukup. Ayah pernah berkisah tentang seorang anak yang ia beri segenggam permen. Tak disangka, anak itu justru mengembalikan sebagian besar permen tersebut dan hanya menyisakan satu di tangannya. Kejadian itu membuat Ayah tertegun sekaligus tertawa; sebuah tamparan lembut bagi dunia dewasa yang sering kali terjebak dalam rasa haus akan kepemilikan yang berlebihan.

Ketiga, anak-anak adalah peniru yang ulung karena mereka memiliki kepercayaan (trust) yang total. Mereka meneladani apa yang mereka lihat dan dengar dari orang dewasa di sekelilingnya. Hal ini mengingatkan kita bahwa setiap tutur kata dan perilaku kita adalah benih yang akan mereka bawa hingga dewasa.

Dalam perspektif iman, ketulusan inilah yang dikehendaki Tuhan. Ia merindukan kita untuk memiliki hati yang “kecil”, hati yang tidak dipenuhi oleh kesombongan intelektual atau kekerasan hati, melainkan hati yang mudah percaya pada janji-janji-Nya sebagaimana seorang anak percaya pada perkataan ayahnya. Tuhan ingin kita datang kepada-Nya dengan kejujuran total, menyampaikan setiap keresahan dan sukacita tanpa ada yang ditutup-tupi.

Relasi yang intim ini bukan berarti Tuhan tidak mengetahui kondisi kita, melainkan Ia ingin kita tetap terhubung dekat dengan-Nya. Ketaatan seorang anak bukan lahir dari rasa takut, melainkan dari rasa percaya bahwa “Bapa” tahu apa yang terbaik untuk mereka.

Pada akhirnya, menjadi seperti anak kecil bukanlah tentang bersikap kekanak-kanakan, melainkan tentang menjaga kemurnian hati. Semoga saat hari akhir itu tiba, kita didapati tengah menyambut Sang Juru Selamat dengan hati yang polos, jujur, dan penuh percaya, layaknya seorang anak yang berlari ke pelukan ayahnya.

Doa:

Ya Tuhan kami bersyukur dan berterima kasih karena Engkau telah mengaruniakan PutraMu yang Tunggal Yesus Kristus sebagai guru, panutan, penebus, dan juruselamat bagi kami semua.

Bimbinglah kami dengan Roh KudusMU agar kami dapat tetap menjadi seperti seorang kecil dalam menyambut kedatangan PutraMu Yessus Kristus untuk yang kedua kaliNya. Amin.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia dan Dosen Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan. Sebagai profesional yang mengantongi sertifikasi Penulis Non Fiksi dari BNSP, ia juga aktif mengelola publikasi ilmiah pada beberapa jurnal ilmiah dengan latar belakang keilmuan keperawatan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer