“Negara Telah Menjadi Pembunuh”: Uskup Papua Mengecam Perusakan Tanah dan Kehidupan Masyarakat Adat

Pemutaran film dokumenter tentang situasi di Papua Barat, Indonesia, di Roma, Italia, mendorong refleksi para imam dan biarawati mengenai kerusakan lingkungan, hak-hak masyarakat adat, dan misi Gereja di tengah ketidakadilan.

Dalam sebuah pernyataan kuat yang disampaikan melalui film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, Uskup Bernardus Bofitwos Baru, OSA, mengecam apa yang ia sebut sebagai pengkhianatan terhadap misi Gereja dan penderitaan yang dialami masyarakat adat di Papua.

“Sepanjang sejarah Gereja Katolik, banyak pemimpin bertindak licik seperti Yudas,” ujar Sang Uskup dalam film tersebut. “Pemerintah adalah bagian dari kejahatan, pelaku yang menghancurkan dan membunuh lingkungan, hutan, dan manusia. Negara telah menjadi pembunuh, seperti Pontius Pilatus.”

Film dokumenter itu diputar pada Sabtu, 9 Mei 2026, di hadapan para imam dan biarawati yang tinggal di Roma, dilanjutkan dengan diskusi mengenai realitas kemanusiaan, lingkungan, dan politik yang dihadapi masyarakat Papua Barat.

Uskup Bernardus Bofitwos Baru, OSA, tampil dalam salah satu adegan dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

Dokumenter tentang tanah, hutan, dan perjuangan masyarakat adat

Disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale, film ini menyelidiki dampak Proyek Strategis Nasional (PSN), khususnya program food estate dan energi berskala besar di Papua Barat.

Diproduksi selama dua tahun antara 2024 hingga 2025 dan resmi dirilis pada April 2026, Pesta Babi mengikuti perjuangan masyarakat adat Marind, Yei, Awyu, dan Muyu di Papua Selatan, terutama di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.

Dokumenter ini menggambarkan kehidupan masyarakat yang bergantung pada hutan, sungai, dan tanah leluhur yang kini terancam oleh proyek-proyek pembangunan berskala industri yang berkaitan dengan perkebunan sawit, produksi tebu, dan inisiatif bahan bakar nabati.

Salah satu adegan paling simbolis dalam film memperlihatkan laki-laki adat memikul batang kayu besar melintasi hutan sebelum mendirikan salib-salib merah di wilayah adat mereka — sebuah tanda perlawanan terhadap pembabatan hutan dan alih fungsi lahan.

Judul film ini sendiri merujuk pada tradisi sakral “pesta babi” dalam budaya Papua, di mana babi melambangkan martabat, persaudaraan, perdamaian, dan ikatan antara manusia, alam, dan leluhur.

Namun dalam dokumenter ini, ritual tersebut berubah menjadi simbol duka dan perlawanan ketika masyarakat menyaksikan penghancuran lingkungan hidup dan cara hidup tradisional mereka.

Pembangunan dan harga yang harus dibayar masyarakat lokal

Menurut kesaksian yang ditampilkan dalam film, sekitar 2,5 juta hektare lahan sedang dipersiapkan untuk perkebunan industri dalam proyek yang dipromosikan atas nama ketahanan pangan nasional dan energi terbarukan oleh pemerintah Indonesia.

Dokumenter ini menyoroti kekhawatiran bahwa masyarakat adat sering menerima kompensasi yang minim, sementara mereka menghadapi penggusuran, intimidasi, dan meningkatnya militerisasi di wilayah mereka.

Para pembuat film menggambarkan situasi ini sebagai bentuk “kolonialisme baru”, di mana kepentingan ekonomi dan politik bertemu untuk mengeksploitasi sumber daya alam sambil mendorong masyarakat adat ke pinggiran tanah leluhur mereka sendiri.

Berbicara secara daring menjelang pemutaran film di Roma, Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale Menyampaikan harapan agar dokumenter ini dapat membuka ruang diskusi publik yang lebih luas mengenai realitas di Papua Barat, khususnya persoalan-persoalan yang sering dianggap sensitif, terabaikan, atau jarang dibicarakan secara terbuka.

Film ini juga mengeksplorasi hubungan antara konflik agraria, kehadiran militer, kerusakan lingkungan, dan persoalan hak asasi manusia, yang ditampilkan sebagai dimensi-dimensi yang saling terkait dalam pengalaman masyarakat Papua.

Para imam dan biarawati di Roma merefleksikan situasi Papua

Setelah pemutaran film di Roma, para peserta membagikan refleksi mereka mengenai kompleksitas dan beratnya situasi yang digambarkan dalam dokumenter tersebut.

Beberapa imam dan biarawati mengungkapkan keprihatinan atas apa yang mereka sebut sebagai pembungkaman suara masyarakat adat dan minimnya perhatian internasional terhadap Papua.

Seorang imam misionaris mengatakan bahwa dokumenter tersebut memperlihatkan “realitas menyakitkan ketika pembangunan dipresentasikan sebagai kemajuan, tetapi bagi banyak komunitas lokal justru dirasakan sebagai perampasan.”

Seorang imam religius yang berkarya di Roma mengatakan bahwa film ini menghadirkan “sebuah pertanyaan moral bagi Gereja universal: bagaimana berdiri bersama masyarakat adat yang tanah, budaya, dan martabatnya sedang terancam.”

Peserta lain menyoroti posisi sulit Gereja di Indonesia, di mana berbicara secara terbuka mengenai Papua Barat sering kali berkaitan dengan sensitivitas politik dan kekhawatiran akan dampaknya.

Mereka juga merefleksikan tantangan untuk menyeimbangkan seruan akan keadilan, perdamaian, dan dialog dalam konteks yang ditandai luka sejarah mendalam, narasi politik yang saling bertentangan, dan ketegangan yang terus berlangsung.

Sebuah panggilan bagi hati nurani

Meski menggambarkan realitas yang berat, dokumenter ini juga menampilkan ketangguhan masyarakat adat yang terus mempertahankan tanah mereka melalui simbol budaya, ekspresi religius, advokasi, dan kesaksian publik.

Bagi banyak peserta yang berkumpul di Roma, Pesta Babi menjadi lebih dari sekadar film dokumenter tentang kerusakan lingkungan. Film ini dipandang sebagai panggilan bagi hati nurani mengenai martabat manusia, kepedulian terhadap ciptaan, dan solidaritas dengan masyarakat yang suaranya kerap tidak didengar.

Diskusi setelah pemutaran film ditutup dengan seruan baru untuk melanjutkan dialog, doa, dan peningkatan kesadaran internasional mengenai situasi di Papua Barat, khususnya di kalangan Gereja dan komunitas hak asasi manusia.

Ketika para peserta meninggalkan ruangan, banyak dari mereka membawa satu pertanyaan mendasar yang diajukan film tersebut: apa arti pembangunan jika harus dibayar dengan nyawa manusia, identitas budaya, dan penghancuran ciptaan?


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

P. Kasmir Nema, SVD
P. Kasmir Nema, SVD
Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Media Veritas Indonesia. Jurnalis dan Koordinator Umum Media dan Komunikasi Serikat Sabda Allah (SVD) yang berbasis di Roma. Kontributor untuk Vatican News dan Radio Veritas Asia (RVA). Profil akademik: ResearchGate Profile

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer