Teshuvah: Menggugat Ambisi Geothermal Melalui Tangis di Panggung Ritapiret

Di tengah deru ambisi pembangunan yang sering kali menepikan nilai kemanusiaan, panggung teater Ritapiret hadir menyuarakan luka masyarakat melalui drama pengkhianatan, sesal, dan kekuatan sebuah pengampunan.


Penulis: Frater Gerin Nay

RITAPIRET-Veritas Indonesia. Selasa, 31 Maret 2025, suasana di bawah atap Saint Peter’s Hall terasa begitu emosional. Para Fratres dari komunitas Sessantotto mementaskan sebuah aktus atau pementasan teater yang menggali kedalaman nurani manusia: sebuah permenungan tentang keserakahan, pengkhianatan, dan penyesalan yang bermuara pada pengampunan.

Lakon bertajuk “Teshuvah” ini memotret realitas pahit yang bermula dari tekanan sosial dan ambisi proyek energi, yang kemudian berimbas pada tercerainya ikatan keluarga hingga hilangnya nyawa seorang anak remaja tak berdosa.

Benih Pengkhianatan di Balik Ambisi

Tragedi dalam kisah ini berakar pada rencana pembangunan proyek pemerintah yang bekerja sama dengan pihak swasta di lahan milik warga. Heri (diperankan oleh Roger Rendu), seorang perantara yang licik, memanfaatkan Rolan (Peter Rengga) untuk melancarkan rencana tersebut.

Rolan, yang selama ini merasa teralienasi dan kerap dicap sebagai “beban keluarga” oleh kakaknya, Suban (Lino Leo), menjadi sasaran empuk muslihat Heri. Tergiur iming-iming pekerjaan dan uang, Rolan mencuri sertifikat tanah milik Suban, satu-satunya tumpuan hidup keluarga mereka dan menyerahkannya kepada pihak proyek dengan dalih mencarikan pekerjaan.

Dampak Pembangunan dan Putusnya Harapan

Enam bulan berselang, janji kesejahteraan berubah menjadi nestapa. Proyek Geothermal yang berdiri di balik bukit tidak hanya merampas lahan, tetapi juga merusak keseimbangan ekologi yang memicu gagal panen bagi petani lokal seperti Beno (Gerin Nay) dan Remi (Berno Duri).

Kemiskinan mendadak ini menghantam telak keluarga Suban. Dampak paling memilukan dirasakan oleh Alves, putra tunggal Suban dan Ratih (Monika Parera). Alves terpaksa putus sekolah karena ketiadaan biaya. Dalam satu adegan yang menyayat hati, Alves memohon uang untuk membeli buku agar bisa terus menulis, namun Suban dengan berat hati menolaknya karena tak memiliki sepeser pun uang.

Rolan (Peter Rengga) sedang melakoni adegan penyesalan (Doc. Frater Gerin Nay).

Puncak Tragis: Kematian Alves

Penderitaan mencapai puncaknya saat Alves ditemukan tewas mengakhiri hidupnya sendiri. Remaja malang itu meninggalkan pesan terakhir yang memilukan: ia tak ingin lagi menjadi beban bagi orang tuanya yang sedang dirundung sengsara.

Kematian Alves menyulut kemarahan warga dan duka mendalam bagi Ratih, sang ibu, yang sebelumnya sempat mencurigai gerak-gerik Rolan namun terlambat untuk bertindak.

Teshuvah: Jalan Pulang dan Pengakuan

Rolan, yang akhirnya tersadar akan dampak mengerikan dari tindakannya, memutuskan untuk menempuh jalan Teshuvah—sebuah istilah Ibrani yang berarti berbalik atau pulang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia menyerahkan diri ke polisi, melaporkan kejahatan Heri, dan berupaya mengembalikan hak tanah kakaknya.

Meski kemarahan Suban sempat memuncak hingga nyaris melakukan kekerasan fisik saat Rolan memohon maaf, ketulusan akhirnya meruntuhkan ego. Pulang dengan penyesalan yang sungguh selalu menyisakan tempat untuk berlabuh. Kini, sementara Suban dan Ratih berusaha mengikhlaskan kepergian putra mereka, Rolan mendekam di balik jeruji besi sebagai bentuk penebusan dosanya.

Kisah ini menjadi pengingat tajam tentang bagaimana ambisi pembangunan yang mengabaikan nilai kemanusiaan dapat menghancurkan masa depan sebuah generasi. Di makam Alves yang sunyi, hanya tertinggal lilin yang berpijar dan sebuah buku yang tak pernah sempat ia tulis.

Para aktor sedang melakoni adegan malam perjamuan terakhir (Doc. Frater Gerin Nay).

Momen Refleksi: Maaf Tanpa Batas

Pementasan ini sekaligus menjadi penghantar bagi penonton dalam merenungi misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus. Sebagaimana Yesus tetap mengampuni meski telah dikhianati, penonton diajak untuk membuka ruang maaf yang sering kali tertutup oleh dendam.

“Teshuvah” mengingatkan bahwa setiap manusia lahir dengan kecenderungan berbuat salah, namun kasih Tuhan selalu membuka pintu bagi mereka yang ingin pulang. Kita diajak untuk tidak hanya menyesali dosa di hadapan Ilahi, tetapi juga berani memberi maaf tanpa batas kepada sesama yang dengan tulus memohon ampun. Pada akhirnya, melalui kesengsaraan dan pengampunan, manusia menemukan kembali martabatnya sebagai anak-anak kasih.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembacasetia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia dan Dosen Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan. Sebagai profesional yang mengantongi sertifikasi Penulis Non Fiksi dari BNSP, ia juga aktif mengelola publikasi ilmiah pada beberapa jurnal ilmiah dengan latar belakang keilmuan keperawatan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer