web page hit counter
back to top
Thursday, February 19, 2026

Paus Leo XIV Ajak Umat Jalani Prapaskah sebagai Jalan Pertobatan dan Kebangkitan

VATIKAN, 18 Februari 2026, Veritas Indonesia – Paus Leo XIV mengajak umat Katolik di seluruh dunia untuk menghayati masa Prapaskah sebagai waktu pertobatan yang jujur dan mendalam, baik secara pribadi maupun sebagai komunitas Gereja.

Ajakan ini disampaikan dalam homilinya saat memimpin Misa Kudus, Pemberkatan dan Penerimaan Abu pada Rabu Abu, 18 Februari 2026, di Basilika Santa Sabina, Bukit Aventino, Roma.

Perayaan Rabu Abu tersebut menandai awal masa Prapaskah, masa 40 hari persiapan menuju Paskah. Tradisi ini diawali dengan prosesi tobat dan dilanjutkan dengan penerimaan abu sebagai tanda pertobatan dan kesadaran akan kerapuhan manusia.

Dalam homilinya, Paus menekankan bahwa setiap awal masa liturgi adalah kesempatan untuk kembali menemukan rahmat menjadi Gereja sebagai komunitas yang berkumpul untuk mendengarkan Sabda Allah. Mengutip Nabi Yoel, ia menegaskan bahwa pertobatan bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga bersifat publik dan komunal.

“Kumpulkanlah bangsa itu. Kuduskanlah jemaah,” seru Paus mengutip Kitab Yoel (2:16), seraya menambahkan bahwa Gereja dipanggil menjadi komunitas yang berani mengakui dosa-dosanya sendiri.

Pertobatan di Tengah Dunia yang “Terbakar”

Bapa Suci mengakui bahwa di zaman modern semakin sulit membangun rasa kebersamaan. Namun, menurutnya, Prapaskah justru menjadi saat pembentukan umat yang menyadari dosa-dosanya—bukan menyalahkan musuh dari luar, melainkan mengakui bahwa kejahatan juga berakar dalam hati manusia.

Ia menegaskan bahwa dosa memang bersifat pribadi, tetapi juga berwujud dalam konteks sosial, ekonomi, politik, budaya, bahkan dalam apa yang disebutnya sebagai “struktur-struktur dosa.” Karena itu, pertobatan menuntut keberanian untuk bertanggung jawab.

Menggemakan seruan Santo Paulus, Paus berkata, “Sekaranglah saat yang berkenan, sekaranglah hari penyelamatan,” sambil mendorong Gereja untuk menghidupi semangat misioner Prapaskah dengan menghadirkan kesaksian yang lebih kredibel di tengah dunia.

Paus Leo XIV juga menggambarkan abu sebagai simbol beratnya situasi global dewasa ini: kota-kota yang hancur oleh perang, runtuhnya hukum dan keadilan internasional, kerusakan ekosistem, hingga memudarnya rasa hormat terhadap yang sakral.

“Di manakah Allah mereka?”—pertanyaan Nabi Yoel itu, menurut Paus, juga menjadi refleksi bagi dunia yang menyaksikan kehidupan umat beriman. Prapaskah, katanya, adalah panggilan untuk perubahan arah hidup agar pewartaan Gereja menjadi lebih nyata dan dapat dipercaya.

Paus Leo XIV berjalan dalam prosesi menuju Basilika Santa Sabina untuk memulai liturgi Rabu Abu, yang menandai awal perjalanan Prapaskah. (Foto: atican Media)

Relevansi Ritus Abu

Dalam homilinya, Paus Leo XIV juga mengenang keputusan Santo Paulus VI yang pada tahun 1966 merayakan Ritus Abu secara publik di Basilika Santo Petrus, tak lama setelah Konsili Vatikan II.

Saat itu, Paulus VI menyebut ritus abu sebagai “upacara tobat yang keras dan mengesankan” yang justru relevan bagi manusia modern.

Menurut Paus Leo XIV, kata-kata tersebut kini terasa semakin profetis. Di tengah budaya yang mudah terjebak dalam ilusi dan keputusasaan, abu mengingatkan manusia pada kebenaran tentang hidup dan tujuan akhirnya.

Kesaksian Para Martir dan Harapan Paskah

Mengakhiri homilinya, Paus mengarahkan perhatian umat pada Misteri Paskah. Pengakuan dosa dan pertobatan, tegasnya, bukan tanda keputusasaan, melainkan kesaksian akan Kebangkitan.

“Kita tidak akan tinggal di antara abu, tetapi bangkit dan membangun kembali,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan tradisi kuno Roma tentang stationes Prapaskah, yakni ziarah dan perhentian doa di tempat-tempat yang berkaitan dengan para martir. Para martir, baik yang kuno maupun yang hidup di zaman modern, disebutnya sebagai pelopor iman yang menabur benih harapan bagi Gereja.

Masa Prapaskah, lanjut Paus, membebaskan umat dari keinginan untuk “terlihat” dan mengajarkan untuk melihat apa yang sedang bertumbuh dalam keheningan: doa, puasa, dan kasih yang dilakukan secara tersembunyi di hadapan Allah.

Dengan nada penuh harapan, Paus Leo XIV menutup homilinya dengan ajakan agar umat mengarahkan kembali seluruh hidup dan hati kepada Allah “dengan kesederhanaan dan sukacita,” seraya melangkah bersama menuju perayaan Trihari Suci Paskah.

P. Kasmir Nema, SVD
P. Kasmir Nema, SVD
Jurnalis dan Koordinator Umum Media dan Komunikasi Serikat Sabda Allah (SVD), berbasis di Roma.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer