web page hit counter
back to top
Tuesday, February 17, 2026

Paus : Semoga Imlek Membawa Damai dan Kesejahteraan bagi Asia

Pesan Tahun Baru Imlek disampaikan Paus seusai doa Angelus di Vatikan, menegaskan pentingnya persatuan keluarga dan solidaritas di tengah dunia yang majemuk.

VATIKAN, 17 Februari 2026, Veritas Indonesia – Paus Leo XIV menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek kepada jutaan umat di Asia dan berbagai belahan dunia. Ia berharap perayaan tersebut menjadi momentum untuk mempererat ikatan keluarga, memperdalam persahabatan, serta menumbuhkan damai dan kesejahteraan bersama.

Ucapan itu disampaikan Bapa Suci pada akhir doa Angelus, Minggu (15/2). Dari jendela ruang kerjanya di Istana Apostolik Vatikan, Paus memimpin doa bersama umat yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus sebelum menyapa komunitas-komunitas yang tengah bersiap menyambut tahun baru menurut kalender lunar.

“Dalam beberapa hari ke depan, jutaan orang di Asia Timur dan berbagai belahan dunia akan merayakan Tahun Baru Imlek,” ujar Paus. “Semoga perayaan yang penuh sukacita ini mempererat hubungan keluarga dan persahabatan, membawa damai ke dalam rumah dan masyarakat, serta menjadi kesempatan untuk menatap masa depan bersama dan membangun perdamaian serta kesejahteraan bagi semua.”

Menutup pesannya, Paus menyampaikan kedekatan pastoralnya: “Dengan harapan terbaik saya untuk Tahun Baru, saya menyampaikan kasih saya kepada Anda semua dan memohon berkat Tuhan atas setiap orang.”

Perayaan yang Berakar pada Tradisi Panjang

Tahun Baru Imlek, yang juga dikenal sebagai Festival Musim Semi, merupakan salah satu perayaan tradisional terpenting di Asia. Perayaan ini berlangsung selama 15 hari, dimulai pada bulan baru pertama dalam kalender lunisolar, dan dirayakan luas di Asia Timur maupun Asia Tenggara sebagai momen pembaruan, syukur, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Tradisi ini berakar di Tiongkok sejak lebih dari 3.000 tahun silam, pada masa Dinasti Shang (1600–1046 SM). Awalnya berkaitan dengan siklus pertanian dan penghormatan kepada leluhur, Imlek kemudian berkembang menjadi perayaan yang sangat berpusat pada keluarga.

Legenda tentang makhluk mitologis “Nian” yang diyakini takut pada warna merah dan suara keras melahirkan tradisi menghias rumah dengan ornamen merah serta menyalakan kembang api—simbol perlindungan dan keberuntungan.

Dirayakan di Berbagai Negara, Termasuk Indonesia

Kini, Imlek dirayakan dengan beragam ekspresi budaya di banyak negara Asia. Di Tiongkok, perayaan ini ditandai dengan makan malam reuni keluarga, lampion merah, kembang api, serta arus mudik terbesar di dunia.

Di Vietnam, Tết Nguyên Đán dirayakan dengan penghormatan kepada leluhur dan santap hidangan tradisional seperti bánh chưng.

Di Korea Selatan, Seollal diwarnai dengan tradisi sebae (salam hormat kepada orang tua) dan santap tteokguk sebagai tanda memasuki tahun kehidupan yang baru.

Di Singapura dan Malaysia, komunitas Tionghoa memeriahkannya dengan barongsai, pertunjukan drum, dan festival budaya. Sementara di Taiwan dan Mongolia (Tsagaan Sar), perayaan menekankan kunjungan keluarga dan ritual tradisional.

Di Indonesia, Tahun Baru Imlek telah menjadi bagian dari kalender nasional dan dirayakan secara terbuka sebagai hari libur resmi. Selain masyarakat Tionghoa, semangat kebersamaan dan silaturahmi juga dirasakan lebih luas dalam masyarakat yang majemuk.

Perayaan biasanya diwarnai dengan Misa syukur di sejumlah gereja, pertunjukan budaya, pembagian angpao, serta pertemuan keluarga besar.

Tradisi umum yang dijumpai di berbagai negara antara lain membersihkan rumah sebagai simbol membuang kesialan, berkumpul dalam santap malam Tahun Baru, menghormati leluhur, serta berbagi angpao sebagai tanda berkat dan harapan baik.

Pesan Damai bagi Masyarakat Majemuk

Bagi Gereja di Indonesia, yang hidup dan bertumbuh dalam keberagaman suku, budaya, dan agama, pesan Paus Leo XIV memiliki resonansi yang mendalam. Imlek bukan sekadar perayaan budaya, melainkan juga kesempatan untuk memperkuat nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam masyarakat Asia: persatuan keluarga, rasa syukur, solidaritas, dan harapan.

Dengan mengaitkan perayaan ini dengan pesan perdamaian dan kesejahteraan bersama, Paus kembali menegaskan panggilan Injil untuk hidup dalam kasih dan rekonsiliasi.

Menjelang Tahun Baru Imlek, pesan Bapa Suci menjadi pengingat bahwa pembaruan sejati berawal dari hati—kemudian mengalir ke dalam keluarga, masyarakat, dan kehidupan bangsa.

P. Kasmir Nema, SVD
P. Kasmir Nema, SVD
Jurnalis dan Koordinator Umum Media dan Komunikasi Serikat Sabda Allah (SVD), berbasis di Roma.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer