Vatican-Veritas Indonesia, Paus Leo XIV menegaskan bahwa persaudaraan manusia bukanlah gagasan ideal yang jauh dari kenyataan, melainkan kebutuhan mendesak umat manusia saat ini, ketika dunia semakin dilanda konflik, kekerasan, dan polarisasi.
Penegasan ini disampaikan dalam pesannya pada Hari Internasional Persaudaraan Manusia, bertepatan dengan peringatan tujuh tahun penandatanganan Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Berdampingan.
Dalam pesannya yang bertanggal 22 Januari, Paus mengajak negara-negara, komunitas agama, dan setiap pribadi untuk melampaui kata-kata dan mewujudkan persaudaraan melalui tindakan nyata: solidaritas, belas kasih, dan komitmen pada perdamaian.
Pesan Paus ini memiliki makna khusus bagi Indonesia—sebuah bangsa yang dibangun di atas semangat Bhinneka Tunggal Ika, di mana keberagaman agama dan budaya merupakan kekayaan sekaligus tantangan yang terus menuntut komitmen nyata untuk hidup berdampingan secara damai.
Persaudaraan yang Lahir dari Dialog
Hari Internasional Persaudaraan Manusia memperingati penandatanganan dokumen bersejarah pada 4 Februari 2019 oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyeb. Dokumen ini kini menjadi rujukan moral penting bagi dialog lintas agama dan pembangunan perdamaian global.
Mengutip ensiklik Fratelli Tutti, Paus Leo XIV mengingatkan bahwa korban pertama setiap perang adalah panggilan dasar manusia untuk bersaudara. Ia menolak anggapan bahwa perdamaian hanyalah “utopia yang ketinggalan zaman”, dan menegaskan bahwa persaudaraan manusia memiliki kekuatan untuk mengatasi konflik, perbedaan, dan ketegangan.
Pesan ini sangat relevan bagi Indonesia, di mana dialog antarumat beragama bukan sekadar wacana, tetapi fondasi kehidupan berbangsa—terutama di tengah tantangan intoleransi dan politisasi identitas yang masih muncul di berbagai tempat.
“Kata-Kata Tidak Cukup”
Salah satu penekanan utama Paus Leo XIV adalah bahwa persaudaraan harus diwujudkan dalam tindakan kasih yang konkret dan sehari-hari. Tanpa komitmen nyata, nilai-nilai luhur berisiko tinggal sebagai gagasan abstrak.
Arah pastoral ini melanjutkan warisan Paus Fransiskus yang menautkan iman dengan tanggung jawab sosial, pembelaan terhadap kaum rentan, dan perhatian pada mereka yang terpinggirkan. Bagi Gereja di Indonesia—yang banyak terlibat dalam pendidikan, pelayanan sosial, dan pendampingan masyarakat kecil—pesan ini menjadi dorongan untuk terus menghadirkan Injil dalam tindakan nyata.
Penghargaan Zayed: Jalan Nyata Menuju Perdamaian
Pesan Paus bertepatan dengan penganugerahan Zayed Award for Human Fraternity 2026 di Abu Dhabi. Penghargaan ini diberikan kepada tokoh dan lembaga yang mewujudkan persaudaraan melalui aksi nyata:
Presiden Ilham Aliyev (Azerbaijan) dan Perdana Menteri Nikol Pashinyan (Armenia), atas perjanjian damai 8 Agustus 2025 yang mengakhiri lebih dari 30 tahun konflik.
Zarqa Yaftali, pejuang pendidikan bagi perempuan dan anak perempuan Afghanistan.
Taawon, organisasi kemanusiaan Palestina yang melayani lebih dari satu juta orang setiap tahun.
Paus Leo XIV menyebut para penerima penghargaan ini sebagai “penabur harapan” di dunia yang sering kali lebih memilih membangun tembok daripada jembatan.

Gaung bagi Asia dan Indonesia
Penghargaan kepada Zarqa Yaftali bergema kuat di Asia, termasuk Indonesia, di mana akses pendidikan—khususnya bagi perempuan dan kelompok rentan—masih menjadi isu penting. Yaftali menegaskan bahwa melarang perempuan mengenyam pendidikan bertentangan dengan ajaran Islam, sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa iman sejati selalu berpihak pada martabat manusia.
Penghargaan bagi Taawon juga menyoroti krisis kemanusiaan di Palestina, sebuah isu yang mendapat perhatian luas dari Gereja dan masyarakat sipil di Indonesia melalui doa, solidaritas, dan aksi kemanusiaan.
Persaudaraan sebagai Misi Bersama
Mewakili Takhta Suci dalam upacara tersebut, Kardinal José Tolentino de Mendonça, Prefek Dikasteri untuk Kebudayaan dan Pendidikan, menegaskan komitmen Vatikan pada dialog antara iman, budaya, dan tanggung jawab sosial.
Menutup pesannya, Paus Leo XIV mengajak seluruh umat manusia untuk melihat sesama bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai saudara dan saudari.
Bagi Gereja dan masyarakat Indonesia, pesan ini menjadi undangan kuat untuk terus merawat persaudaraan lintas iman—bukan hanya sebagai nilai luhur Pancasila, tetapi sebagai misi harian demi perdamaian, keadilan, dan masa depan bersama.








