web page hit counter
back to top
Tuesday, February 3, 2026

Paus Leo XIV: Santa Rosa dari Lima, Teladan Kekudusan

Vatikan, Veritas Indonesia – Paus Leo XIV kembali menegaskan panggilan universal menuju kekudusan dengan menunjuk Santa Rosa dari Lima sebagai teladan yang tetap relevan bagi Gereja masa kini.

Pesan tersebut disampaikan saat Paus memberkati mosaik Bunda Maria dan patung Santa Rosa dari Lima di Taman Vatikan, Sabtu (31/1). Peristiwa ini menegaskan dimensi universal kekudusan Gereja sekaligus kedekatan iman antara Takhta Suci, Amerika Latin, dan Gereja di seluruh dunia.

Dalam peresmian itu, Paus didampingi Duta Besar Peru untuk Takhta Suci, Jorge Ponce San Román, serta Ketua Konferensi Waligereja Peru, Mgr. Carlos Enrique García Camader. Paus menyebut peristiwa tersebut sebagai pembaruan ikatan iman dan persahabatan antara Peru dan Takhta Suci. Ia juga menggambarkan Taman Vatikan sebagai tempat “di mana segala sesuatu berbicara tentang Sang Pencipta dan keindahan ciptaan.”

Dua karya seni yang dipesan oleh Konferensi Waligereja Peru dan dikerjakan oleh Don Bosco Family of Artisans, kelompok kaum muda dari Pegunungan Andes, menampilkan Bunda Maria dan Santa Rosa dari Lima—santa pertama yang lahir di Benua Amerika. Menurut Paus, kedua figur ini menuntun umat kepada inti hidup Kristiani: panggilan kepada kekudusan.

Mengutip Konstitusi Dogmatis Lumen gentium dari Konsili Vatikan II, Paus Leo XIV menegaskan bahwa setiap orang beriman dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan kasih. “Kekudusan Umat Allah akan menghasilkan buah yang berlimpah,” ujarnya, seraya mengajak umat untuk menghayati panggilan universal tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ia menutup dengan doa agar Bunda Maria dan Santa Rosa dari Lima mendoakan perjalanan Gereja menuju tanah air surgawi.

Inspirasi Misioner yang Melintasi Benua

Semangat yang sama ditegaskan oleh Kardinal Luis Antonio Gokim Tagle, Pro-Prefek Dikasteri Evangelisasi, dalam sebuah konferensi di Universitas Kepausan Gregorian, Roma. Kardinal Tagle menyebut Santa Rosa dari Lima sebagai “misionaris abadi”, yang kesaksian hidupnya melampaui ruang dan waktu.

Sebagai pelindung Peru sekaligus salah satu pelindung Filipina, Santa Rosa memiliki tempat khusus dalam kehidupan Gereja di Asia. Kardinal Tagle mengingatkan bahwa Katedral Manila memiliki satu fasad yang didedikasikan bagi Santa Rosa—tanda bahwa devosi kepadanya telah berakar kuat di Asia sejak masa awal pewartaan iman.

Menurut Kardinal Tagle, bagi generasi muda masa kini, Santa Rosa berbicara bukan terutama melalui ajaran formal, melainkan melalui teladan hidup. Ia menyampaikan harapan agar refleksi atas figur Santa Rosa dapat menjadi benih bagi lahirnya gerakan misioner baru, yang bertumpu pada kekudusan hidup sehari-hari.

Pesan Paus Leo XIV dan Kardinal Tagle ini menegaskan kembali bahwa kekudusan bukanlah milik segelintir orang, melainkan panggilan seluruh umat beriman. Bagi Gereja universal, termasuk Gereja di Indonesia dan Asia, teladan Santa Rosa dari Lima mengingatkan bahwa kesaksian iman yang paling meyakinkan lahir dari hidup yang setia, rendah hati, dan berakar pada kasih kepada Allah dan sesama.

P. Kasmir Nema, SVD
P. Kasmir Nema, SVD
Jurnalis dan Koordinator Umum Media dan Komunikasi Serikat Sabda Allah (SVD), berbasis di Roma.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer