Di balik setiap keterbatasan fisik yang sering kali dianggap sebagai akhir dari kebebasan, tersembunyi kekuatan tak terduga yang siap mengubah kelemahan menjadi sebuah mahakarya kehidupan.
Oleh: Albert Santoso
Di balik setiap keterbatasan fisik yang sering kali dianggap sebagai akhir dari kebebasan, tersembunyi kekuatan tak terduga yang siap mengubah kelemahan menjadi sebuah mahakarya kehidupan.
Saya terlahir dengan Cerebral Palsy (CP) atau kelumpuhan otak, sebuah diagnosa yang membawa keterbatasan fisik permanen dalam hidup saya. Sewaktu kecil, kekurangan ini tidak terlalu saya rasakan karena kasih sayang dan pemenuhan kebutuhan dari orang tua yang luar biasa. Namun, seiring berjalannya waktu, realitas mulai berbicara; pergerakan saya terbatas, saya tidak leluasa bermain di luar bersama teman sebaya, dan kebebasan untuk pergi ke mana pun saya suka seolah terenggut.
Pertanyaan demi pertanyaan mulai memenuhi benak saya. Orang tua saya bercerita bahwa kondisi ini dipicu oleh hipertensi yang dialami ibu saya saat mengandung, yang pada akhirnya mengganggu aliran oksigen ke otak saya. Fakta tersebut sempat membuat saya mencari kambing hitam; saya menyesalkan dan menyalahkan ibu yang saya anggap tidak menjaga kesehatannya dengan baik. Namun, sebuah jawaban tulus dari ibu menyadarkan saya. Ia berkata, “Bert, tidak ada satu pun orang tua yang menginginkan anaknya lahir cacat. Mama makan makanan yang enak dan bergizi supaya kamu juga mendapatkan hal yang sama.”.
Kesadaran bahwa kondisi fisik saya bukanlah kesalahan orang tua membuat saya mengalihkan rasa ketidakpuasan itu kepada Tuhan. Dari miliaran manusia di muka bumi, saya menggugat mengapa harus saya yang memikul takdir ini. Saya mempertanyakan dosa apa yang membuat saya harus menerima kondisi demikian. Saat itu, jawaban yang saya cari tak kunjung datang.
Tuhan ternyata memiliki cara yang unik untuk menjawab keluh kesah hamba-Nya. Saat mengunjungi sebuah toko buku di pusat perbelanjaan bersama keluarga, saya tanpa sengaja menemukan buku tentang musisi dan komposer legendaris, Ludwig van Beethoven. Membaca bagaimana sang maestro, yang mengalami ketulian permanen di usia 47 tahun, namun tetap mampu melahirkan syair klasik yang mendunia, membuka mata hati saya. Saat itulah saya menyadari bahwa di balik sebuah kelemahan, pasti tersembunyi kelebihan yang menunggu untuk dieksplorasi.
Sejak saat itu, pencarian jati diri saya berubah arah. Saya meyakini penciptaan saya memiliki tujuan, dan perlahan saya menemukan bahwa saya memiliki kekuatan luar biasa dalam bidang hafalan dan bahasa. Dengan fokus memperkuat kelebihan tersebut, mata pelajaran yang berkaitan dengan kedua bidang itu selalu mendapatkan nilai yang tinggi.
Pengalaman ini membawa saya pada sebuah perenungan yang lebih mendalam. Kerap kali kita merasa kecewa, lemah, dan putus asa saat menyadari banyaknya kekurangan diri. Namun, ketiadaan kelemahan justru berpotensi melahirkan kesombongan, membuat kita merasa bahwa segala pencapaian murni hasil jerih payah sendiri. Keterbatasan menjaga kita dari keangkuhan, memupuk empati kepada sesama, dan menyadarkan kita bahwa kita selalu membutuhkan bantuan orang lain. Lebih dari itu, kelemahan membuat kita menyadari adanya campur tangan Tuhan dalam setiap berkat yang kita terima.
Dalam ketidakberdayaan kitalah, kuasa Tuhan justru bekerja dengan sempurna. Ketika kita hanya mengandalkan kekuatan sendiri, kita hanya bisa mengira-ngira hasil dari pekerjaan kita. Sebaliknya, saat kita tak berdaya dan berserah memohon pertolongan-Nya, kita tidak akan pernah bisa menebak karya luar biasa apa yang akan Ia lakukan untuk menolong kita. Seperti sebuah janji iman yang tertulis, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”.
Oleh karena itu, sangat penting untuk selalu melibatkan penyertaan Tuhan dalam setiap aktivitas kehidupan. Bukan semata karena kita tak mampu berbuat apa-apa, melainkan agar kita dianugerahi hikmat untuk mengerjakan segala sesuatunya dengan benar, sekaligus menjadi saksi atas perbuatan ajaib Tuhan dalam hidup kita.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.







