Laporan Frater Bryan Kewuan
RITAPIRET, Veritas Indonesia— Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret merayakan Ibadat Jumat Agung dengan tema mendalam, “Salib Kristus: Puncak Pengorbanan dan Sumber Harapan Sejati.” Perayaan ini dihadiri oleh seluruh komunitas seminari serta umat dari wilayah sekitar yang memadati Kapel Agung hingga halaman depan.
Di tengah jumlah umat yang besar, suasana hening dan penuh penghayatan tetap terjaga. Keheningan itu menjadi ruang batin bagi umat untuk menyelami misteri penderitaan dan kasih Allah yang terungkap dalam salib Kristus.
Pemimpin perayaan, RD. Cesar Reda, mengajak umat untuk tidak berhenti pada simbol penderitaan semata, tetapi masuk ke dalam makna terdalam salib sebagai jalan keselamatan. Dalam pandangan dunia, salib adalah tanda “kehinaan dan kekalahan”. Namun dalam terang iman, salib adalah wahyu kasih Allah yang paling agung,” tegasnya dalam homili.
Ia menambahkan, di kayu salib, “Allah mengubah kutukan menjadi berkat, mengubah kematian menjadi jalan menuju kehidupan. Di sanalah kasih mencapai puncaknya.
Salib sebagai Pengorbanan
Dalam refleksinya, Romo Cesar menegaskan bahwa salib bukan sekadar simbol religius, melainkan peristiwa nyata kasih Allah yang total. Yesus, Putra Allah, rela merendahkan diri hingga wafat di kayu salib demi keselamatan manusia.
“Pengorbanan Kristus bukanlah kisah masa lalu. Ia terus menjadi cermin bagi dunia hari ini—dunia yang masih dipenuhi ketidakadilan dan kekerasan,” ujarnya.
Ia juga mengaitkan penderitaan Kristus dengan realitas konkret kehidupan saat ini. “Setiap bentuk ketidakadilan—korupsi, perdagangan manusia, eksploitasi alam—adalah paku-paku baru yang menyalibkan Kristus di zaman ini,”katanya dengan nada reflektif sekaligus kritis.
Salib sebagai Harapan
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa salib adalah sumber harapan sejati bagi dunia yang terluka. Bukan tanda kekalahan, melainkan kemenangan yang melampaui logika manusia.
“Kemenangan salib bukanlah kemenangan kekuasaan, tetapi kemenangan kasih—kasih yang mengalahkan dosa, maut, dan kegelapan,” ungkapnya.
Ia pun mengajak umat untuk tidak tinggal diam terhadap penderitaan di sekitar. “Menghormati salib berarti berani mencintai, berani berkorban, dan berani berpihak pada mereka yang menderita,” ajaknya.
Penghormatan Salib
Usai liturgi sabda dan doa umat meriah, perayaan dilanjutkan dengan penghormatan kepada Salib Kudus. Umat maju satu per satu untuk mencium salib, sebuah tindakan sederhana namun sarat makna: ungkapan iman, syukur, dan penyerahan diri kepada kasih Allah.
Ibadat yang berlangsung sekitar dua jam ini meninggalkan kesan mendalam. Dalam keheningan Jumat Agung, umat tidak hanya mengenang penderitaan Kristus, tetapi juga menemukan terang harapan.
Salib, yang dahulu dipandang sebagai tanda kehinaan, kini menjadi tanda kemenangan dan sumber kekuatan. Dari sana, umat belajar bahwa kasih sejati selalu menuntut pengorbanan—dan justru di sanalah harapan lahir dan tidak pernah padam.








