web page hit counter
back to top
Tuesday, February 24, 2026

Puasa, Hati, dan Bumi yang Sedang Menangis

Penulis: Martinus BS

Suatu pagi, sebelum rutinitas kesibukan dimulai, mungkin kita pernah berdiri di depan jendela. Udara terasa berbeda kadang lebih panas, kadang lebih berdebu. Kita menarik napas panjang, lalu melanjutkan langkah. Jarang kita bertanya: apa yang sedang terjadi pada rumah tempat kita tinggal bersama ini?

Di berbagai penjuru dunia, umat beriman sedang menjalani masa puasa. Umat Katolik memasuki Prapaskah. Umat Muslim menjalani Ramadan. Umat beragama lain pun memiliki tradisi laku tapa, tirakat, dan pengendalian diri. Semua mengajarkan hal yang sama: membersihkan hati, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan menajamkan kepedulian terhadap sesama. Namun ada satu makna “sesama” yang sering luput dari perhatian kita, yakni: bumi.

Bumi yang tidak memprotes ketika hutan ditebang, ketika sungai dicemari, ketika udara dikotori. Kini ia sedang menunjukkan tanda-tanda kelelahan-banjir bandang yang datang tiba-tiba, musim yang tak menentu, tanah yang kehilangan kesuburan, bahkan tanah yang mendadak amblas, berlubang besar dan semakin besar. Seolah-olah ia berkata lirih: “Mengapa engkau terus mengeksploitasiku, merajah wajahku, dan lupa menjaga kesuburanku demi anak cucumu?”

Ajaklah hati untuk belajar merasa cukup di bulan puasa ini. Hakikat puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah latihan jiwa untuk berkata, “Aku tidak harus memiliki semuanya.” Ia melatih kita menunda keinginan, mengendalikan dorongan, dan menyadari bahwa hidup tidak bergantung pada kelimpahan.

Bukankah krisis lingkungan berakar pada ketidakmampuan manusia untuk merasa cukup? Kita telah membeli lebih dari yang dibutuhkan. Kita sudah membuang lebih dari yang seharusnya. Kita juga mengambil lebih cepat daripada alam yang mampu sediakan dan yang siap untuk digunakan.

Dalam tradisi Katolik, Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si’ mengingatkan tentang pentingnya pertobatan ekologis perubahan hati yang menyentuh cara hidup sehari-hari. Namun pesan ini sejatinya universal: semua agama mengajarkan tanggung jawab sebagai khalifah, penatalayan, atau penjaga ciptaan.

Puasa seharusnya tidak berhenti pada menahan makan. Ia dapat menjadi momentum menahan keserakahan. Serakah dalam menguasai alam, dan menghisap susu madunya.

Ketika rasa lapar mengajar kita, dan saat perut terasa kosong, sesungguhnya kita sedang belajar merasakan keterbatasan. Kita belajar bahwa tubuh kita ini rapuh. Dan justru dalam kerapuhan itu, kita menjadi lebih peka. Bagaimana jika rasa lapar itu juga mengajar kita untuk peka terhadap “kelaparan” bumi? Kita tahu bumi sedang terluka, dan sedang menangis. Tanah kehilangan unsur hara. Sungai kehilangan kejernihan. Udara kehilangan kesegarannya.

Inilah puasa kita, yakni cara Tuhan mengingatkan bahwa segala sesuatu ada batasnya, termasuk daya dukung alam.

Doa yang Menjadi Tindakan

Kita berdoa agar dosa diampuni. Kita memohon rahmat dan keberkahan. Tetapi apakah doa kita juga menyentuh cara kita memperlakukan lingkungan? Doa yang sejati tidak hanya mengangkat tangan ke langit, tetapi juga menggerakkan tangan untuk bekerja. Mengurangi sampah. Menghemat air. Menanam pohon. Mengajari anak-anak mencintai alam. Memilih hidup yang lebih sederhana. Tindakan kecil yang lahir dari hati yang bertobat memiliki daya yang besar.

Dari Ritual ke Kesadaran

Ibadah puasa sering kali menjadi rutinitas tahunan. Kita menjalankannya karena kewajiban atau tradisi. Namun setiap puasa sebenarnya adalah undangan personal: siapakah aku setelah ini? Apakah aku kembali pada kebiasaan lama, boros, acuh, konsumtif? Ataukah, aku menjadi pribadi yang lebih lembut, lebih bersyukur, dan lebih bertanggung jawab? Bumi tidak sedang memerlukan kesempurnaan kita. Ia membutuhkan kesadaran kita. Barangkali menjaga lingkungan bukan sekadar isu sosial, atau kebijakan publik. Ia adalah ujian spiritual. Ujian tentang sejauh mana iman kita nyata dalam tindakan.

Menjadi Harapan Kecil

Kita mungkin merasa kecil di hadapan persoalan global. Tetapi setiap perubahan besar selalu dimulai dari hati yang tersentuh. Satu keluarga yang mengurangi sampah. Satu komunitas yang membersihkan lingkungan. Satu tempat ibadah yang mengajak umatnya hidup lebih ramah lingkungan. Harapan tidak lahir dari skala besar, melainkan dari ketulusan kecil yang dilakukan bersama.

Di masa puasa ini, ketika kita menahan diri demi mendekat pada Tuhan, mungkin inilah saat yang tepat untuk bertanya: apakah pertobatan kita juga menyentuh cara kita memperlakukan bumi?

Karena pada akhirnya, mencintai Tuhan tak dapat dipisahkan dari mencintai ciptaan-Nya. Dan mungkin, ketika hati kita menjadi lebih bersih, bumi pun perlahan dapat bernapas lebih lega. Semoga Tuhan berkenan.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia dan Dosen Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan. Sebagai profesional yang mengantongi sertifikasi Penulis Non Fiksi dari BNSP, ia juga aktif mengelola publikasi ilmiah sebagai Managing Editor untuk Jurnal Keperawatan Suaka Insan (SINTA 3) dan Jurnal Suaka Insan Mengabdi (SINTA 5).

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer