Pena di Tangan Kita: Seni Mengambil Keputusan Spiritual

Di tengah hiruk-pikuk pilihan hidup yang sering kali membingungkan, kita diajak untuk melihat kembali bagaimana satu keputusan kecil dapat mengubah seluruh arah takdir manusia.


Oleh: Sr. Florensia Imelda Seran, SCSC

Ketika memasuki minggu Prapaskah pertama, ingatan kolektif kita dibawa kembali pada dua sosok sentral dalam sejarah iman: Adam Lama dan Adam Baru. Adam Lama merepresentasikan kerapuhan manusia yang jatuh karena ketidakkonsistenan dalam menjalankan kehendak Sang Pencipta. Sebaliknya, Yesus Kristus sebagai Adam Baru, hadir membawa pemulihan melalui kesetiaan dan ketaatan radikal pada kehendak Allah. Dua kutub keputusan ini tidak hanya mengisi lembaran Kitab Suci, tetapi juga menentukan arah keselamatan umat manusia.

Ada sebuah ungkapan bijak yang mengatakan, “Takdir ditulis oleh tangan Tuhan, tetapi keputusan adalah pena yang kita pegang”. Kalimat ini menegaskan bahwa meski Allah memiliki rencana besar, Ia memberikan kedaulatan bagi setiap individu untuk menentukan arah dan makna hidupnya sendiri. Keputusan kita adalah cerminan dari kebebasan sekaligus tanggung jawab sebagai makhluk berakal budi. Seperti pena yang menari di atas kertas, setiap pilihan yang kita ambil dapat membawa kita mendekat pada tujuan ilahi atau justru membuat kita berjalan menjauh.

Dalam tradisi Kristiani, Yesus adalah prototipe utama dalam mengelola spiritualitas keputusan. Sejak awal penciptaan di Taman Eden, manusia telah diberi kebebasan untuk memilih. Namun, godaan untuk menguasai dan melawan kehendak Allah sering kali mengaburkan mata hati kita, sebagaimana yang dialami Adam dan Hawa. Dampaknya pun nyata: retaknya hubungan intim dengan Tuhan dan masuknya kegelapan dosa ke dalam dunia.

Namun, di tengah kemendesakan akan keselamatan tersebut, Yesus hadir sebagai jawaban. Di padang gurun, Yesus menghadapi tiga godaan eksistensial: kepuasan fisik melalui roti, pamer kuasa di bumbungan Bait Allah, dan kemegahan duniawi melalui penyembahan kepada kegelapan. Yesus menolak semua “jalan pintas” itu. Ia memilih setia pada misi-Nya, sekalipun jalan yang terbentang di depan-Nya adalah “Jalan Salib” yang penuh penderitaan.

Keputusan Yesus untuk taat hingga mati di kayu salib menjadi titik balik dalam sejarah keselamatan. Seperti yang ditekankan Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, ketaatan satu orang ini menjadikan banyak orang benar. Ini bukan sekadar contoh moral, melainkan bagian integral dari rencana besar Allah untuk memulihkan hubungan manusia dengan-Nya.

Sebagai pengikut-Nya, kita pun dipanggil untuk mengembangkan spiritualitas keputusan yang sama. Setiap hari kita dihadapkan pada godaan yang berusaha mengalihkan kita dari nilai-nilai cinta, kebaikan, dan keadilan. Di sini, bimbingan Roh Kudus dan Firman Allah menjadi kompas yang sangat krusial. St. Agustinus pernah mengingatkan bahwa tidak ada keputusan yang terlalu kecil untuk dipertimbangkan dengan serius.

Hidup adalah serangkaian kebebasan yang membentuk nasib kita, baik di dunia ini maupun di akhirat. Keputusan yang bijak hanya bisa lahir dari hati yang terdidik secara spiritual. Dengan memilih melayani nilai-nilai rohani di atas kenikmatan duniawi yang semu, kita menghindarkan diri dari perangkap yang merugikan sesama.

Jalan yang lurus mungkin terasa sempit dan penuh perjuangan, namun di sanalah muara keselamatan ditemukan. Ingatlah selalu: takdir kita ada di tangan Allah, namun keputusan kita adalah pena yang menuliskan takdir itu. Apa yang kita tanam hari ini melalui keputusan-keputusan kita, itulah yang akan kita tuai di masa depan.

Semoga.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.
Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia dan Dosen Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan. Sebagai profesional yang mengantongi sertifikasi Penulis Non Fiksi dari BNSP, ia juga aktif mengelola publikasi ilmiah pada beberapa jurnal ilmiah dengan latar belakang keilmuan keperawatan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer