web page hit counter
back to top
Tuesday, February 3, 2026

Paus: “Lepaskan Obsesi pada Pencitraan, Belajarlah Mundur seperti Yohanes Pembaptis”

KOTA VATIKAN – Veritas Indonesia-Di tengah dunia yang semakin terobsesi dengan popularitas dan pengakuan publik, Paus Leo XIV menyerukan pesan kontra-kultural yang kuat dalam doa Angelus di Lapangan Santo Petrus, Minggu (18/1/2026).

Bapa Suci mengajak umat beriman untuk meneladani kerendahan hati Yohanes Pembaptis yang berani “mundur” demi memberi ruang bagi Tuhan.

Memimpin doa Angelus di hadapan ribuan peziarah, Paus Leo XIV merenungkan Injil hari ini (Yoh 1:29-34), di mana Yohanes Pembaptis mengenali Yesus sebagai “Anak Domba Allah” dan dengan sukarela menyingkir dari sorotan.

Menolak Godaan Popularitas

“Yohanes adalah sosok yang sangat dicintai orang banyak, bahkan ditakuti oleh para penguasa,” ujar Paus Leo XIV. “Akan sangat mudah baginya untuk memanfaatkan ketenarannya. Namun, ia tidak menyerah pada godaan kesuksesan.”

Paus yang baru ini menekankan bahwa kebesaran Yohanes terletak pada kesadarannya akan posisinya. Ia tahu tugasnya hanya mempersiapkan jalan. Ketika Sang Mesias tiba, Yohanes dengan penuh sukacita dan kerendahan hati berkata, “Setelah aku akan datang seorang yang mendahului aku.”

Bahaya “Kebahagiaan Semu” di Era Digital

Dalam pesan yang terasa sangat relevan dengan budaya media sosial saat ini, Paus Leo mengkritik ketergantungan manusia modern pada validasi eksternal.

“Betapa pentingnya kesaksian Yohanes bagi kita hari ini,” tegas Paus. “Kita sering memberikan nilai berlebihan pada visibilitas dan persetujuan orang lain. Hal ini membelenggu kita, menciptakan penderitaan, dan menjebak kita dalam hubungan yang dangkal.”

Bapa Suci menyebut hal-hal tersebut sebagai “surrogati di felicità” atau “pengganti kebahagiaan yang palsu/semu”. Ia mengingatkan bahwa sukacita sejati tidak datang dari ilusi ketenaran yang sesaat, melainkan dari kesadaran mendalam bahwa kita dikasihi oleh Bapa di Surga.

Seruan untuk “Menciptakan Padang Gurun”

Sebagai penawar racun bagi gaya hidup yang bising dan penuh pencitraan, Paus dari Ordo Agustinus ini memberikan nasihat praktis: kembalilah pada kesederhanaan.

“Jangan buang waktu dan energi mengejar apa yang hanya tampak di permukaan,” nasihat beliau. Paus mengajak umat untuk setiap hari meluangkan waktu “fare deserto” (menciptakan suasana padang gurun/keheningan)—sebuah momen khusus untuk berhenti, berdoa, dan mendengarkan Tuhan dalam keheningan, jauh dari hiruk-pikuk dunia.

Pekan Doa Ekumene dan Krisis Global

Setelah mendoakan Angelus, Paus mengingatkan bahwa hari ini menandai dimulainya Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristiani, sebuah inisiatif yang dua abad lalu juga didorong kuat oleh pendahulunya, Paus Leo XIII. Tema tahun ini diambil dari Surat Efesus: “Satu tubuh, dan satu Roh… satu pengharapan” (Ef 4:4).

Menutup pesannya, Paus Leo XIV mengarahkan perhatian dunia pada krisis kemanusiaan di Republik Demokratik Kongo bagian timur dan bencana banjir di Afrika bagian selatan, seraya mengajak semua pihak mengedepankan dialog perdamaian dan solidaritas.

P. Kasmir Nema, SVD
P. Kasmir Nema, SVD
Jurnalis dan Koordinator Umum Media dan Komunikasi Serikat Sabda Allah (SVD), berbasis di Roma.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer