VATIKAN, Veritas Indonesia – Paus Leo XIV secara resmi membuka Konsistori Luar Biasa pertamanya pada hari Rabu sore (7/1/2026) di Aula Sinode, Vatikan.
Ini adalah momen langka dan strategis dalam kehidupan Gereja Katolik, di mana Bapa Suci memanggil seluruh anggota Kolegium Kardinal—bukan untuk melantik kardinal baru—melainkan untuk meminta nasihat mendalam mengenai arah masa depan Gereja universal.
Dalam pertemuan yang dihadiri sekitar 170 kardinal dari seluruh dunia, termasuk perwakilan dari Asia, Paus menekankan visi misi yang sangat relevan bagi konteks global saat ini: misi Gereja tidak dijalankan melalui proselitisme (pemaksaan keyakinan), melainkan melalui “daya tarik” yang bersumber dari kasih dan persatuan.
Gereja yang Menarik, Bukan Memaksa: Relevansi bagi Indonesia
Dalam pidato pembukaannya, Paus menggarisbawahi pentingnya persekutuan (communion). Mengutip pendahulunya—Santo Paulus VI, Santo Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, dan Fransiskus—ia menegaskan kembali visi misi yang berpusat pada Kristus.
“Gereja tidak terlibat dalam proselitisme. Sebaliknya, ia tumbuh karena ‘daya tarik’: sama seperti Kristus ‘menarik semua orang kepada diri-Nya’ melalui kekuatan kasih-Nya,” ujar Paus Leo.
Pernyataan ini memiliki gaung yang kuat bagi Gereja Indonesia. Hidup sebagai komunitas di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan kemajemukan agama yang tinggi, umat Katolik Indonesia diajak untuk tidak menjadi eksklusif atau agresif.
Pesan Paus ini meneguhkan model kehadiran Gereja di Indonesia yang mengedepankan dialog kehidupan, karya sosial, dan pendidikan.
“Hanya kasih yang kredibel; hanya kasih yang dapat dipercaya,” tegas Paus. Bagi umat Katolik di tanah air, ini adalah panggilan untuk menjadi “injil yang hidup”—menarik orang lain kepada Kristus bukan melalui perdebatan teologis, melainkan melalui kualitas kasih, persaudaraan, dan pelayanan nyata di tengah masyarakat majemuk.
Fokus pada Desentralisasi dan Sinodalitas
Konsistori kali ini memusatkan perhatian pada empat pilar strategis yang menjadi kompas masa kepausan Paus Leo XIV.
Diskusi mendalam diarahkan pada semangat misioner yang tertuang dalam Evangelii Gaudium, reformasi peran Kuria Romawi melalui Konstitusi Apostolik Praedicate Evangelium, penerapan sinodalitas sebagai gaya kerja sama, serta penempatan liturgi sebagai sumber dan puncak kehidupan Kristiani.
Dari keempat tema tersebut, pembahasan mengenai Praedicate Evangelium memiliki resonansi yang sangat kuat bagi Gereja Indonesia.
Hal ini menandai pergeseran paradigma yang krusial, di mana Kuria Romawi tidak lagi menempatkan diri semata-mata sebagai otoritas administratif pusat, melainkan bertransformasi menjadi pelayan bagi Gereja-gereja Partikular.
Perubahan visi ini membawa angin segar bagi keuskupan-keuskupan di tanah air untuk lebih percaya diri mengembangkan pastoral yang kontekstual dan berakar pada budaya serta tantangan lokal, sembari tetap menjaga kesatuan yang teguh dengan Roma.

Tetap di “Perahu Petrus” di Tengah Badai
Sebelum pidato Bapa Suci, pertemuan diawali dengan meditasi rohani oleh Kardinal Timothy Radcliffe, O.P. Ia merefleksikan Injil Markus tentang Yesus yang berjalan di atas air.
Kardinal Radcliffe mengajak para kardinal—dan secara tidak langsung seluruh umat beriman—untuk tidak takut menghadapi “badai” zaman ini, mulai dari kekerasan global, kesenjangan ekonomi, hingga tantangan kecerdasan buatan (AI).
“Ketaatan pertama kita adalah berada di dalam perahu Petrus, bersama penerusnya, saat ia menghadapi badai zaman kita,” ujar Kardinal Radcliffe. “Jika kita bersembunyi di pantai, kita tidak akan menjumpai Tuhan.”
Jadwal Konsistori
Agenda Konsistori akan berlanjut pada hari Kamis (8/1). Paus Leo XIV dijadwalkan memimpin Misa konselebrasi bersama para kardinal di Altar Kursi Basilika Santo Petrus pada pukul 07.30 pagi waktu Roma. Diskusi akan berlanjut hingga penutupan pada pukul 19.00.
Pertemuan ini menjadi momen krusial bagi Paus Leo XIV untuk menyelaraskan langkah dengan Kolegium Kardinal. Bagi Gereja Indonesia, ini adalah undangan untuk memperkuat sinodalitas—berjalan bersama dalam keberagaman—dan menjadi wajah Kristus yang menarik melalui kasih yang nyata.
Makna Konsistori bagi Umat Katolik
Bagi umat beriman, penting untuk memahami bahwa Konsistori Luar Biasa (Extraordinary Consistory) berbeda dengan konsistori biasa.
Jika konsistori biasa seringkali hanya bersifat seremonial (seperti creation kardinal baru), Konsistori Luar Biasa adalah wadah konsultasi tertinggi di mana Paus mengumpulkan “Senat Gereja” (para kardinal) untuk membahas masalah-masalah genting atau menetapkan nada bagi masa kepausannya.
Kehadiran para kardinal di sini bukan sekadar pendengar, melainkan sebagai kolaborator aktif dalam pemerintahan Gereja semesta.
Paus Leo XIV menegaskan hal ini dengan berkata, “Saya perlu bisa mengandalkan Anda,” dan memposisikan dirinya untuk melakukan listening par excellence (mendengarkan secara sungguh-sungguh).





